Orang Indonesia Itu Malas?

ilustrasi
Oleh : Nana Padmosaputro
~ ini adalah tulisan yang panjang karena ada 4 cerita di dalamnya. Siap-siap meluangkan waktu... hehehe
CERITA 1 :
Seumur usia mudaku, aku banyak terlibat dengan kehidupan ‘orang kecil’ sejak dari rumah.
Ortuku adalah orang yang senang menyekolahkan dan mengarahkan jika melihat potensi pada diri ART atau pengemudi di rumah. Salah satunya, yang paling sukses adalah seorang mantan ‘bujang kebun’. Dia disekolahkan SMA, lalu dikuliahkan dan sekarang sudah menjadi jaksa di sebuah kota di Jawa Tengah. Kamu tahu? Sekarang dia jauh lebih sukses (karirnya tinggi) dan tajir (secara materi, minimal dilihat dari jenis dan jumlah mobilnya, serta luasan rumahnya) dibandingkan aku dan adik-adikku..!
Tapi dia masih santun dan rendah hati. Hampir di setiap Lebaran, menemui kami. Keren sekali ya...
Bahkan, ayahku pernah mempekerjakan seorang suku Bugis yang pernah dipenjara karena kasus pembunuhan membela kehormatan, atau disebut Sigajang Laleng Lipa (adat Bugis yang melakukan duel badik dalam perkelahian satu lawan satu) untuk menjadi sopir kami. Ayah ingin memberikan kesempatan kedua padanya, sekeluarnya dari penjara. Dan orang itu terbukti SANGAAAAAT LEMBUT dan protektif pada kami, anak-anak. Dia juga sangat rajin bekerja, dan ternyata sangat cerdas. Di kemudian hari dia menikah dan menjadi suami serta bapak yang maju, sehingga semua anaknya bermutu. Semua jadi sarjana dan bekerja baik di berbagai instansi negara, saat ini. Anak-anaknya berprestasi dan santun.
Intuisi bapakku terbukti jitu...!
Pernah kudengar dia menenangkan ibuku, “Orang ini baik sekali. Ibu lihat saja di sinar matanya dan di semua perilakunya. Dia cuma terbawa adat, dia bukan benar-benar orang jahat. Bapak sudah amati sejak dia masih di dalam penjara...”
Ketika itu ibu kuatir pada keputusan bapakku. Mantan pembunuh kok dijadiin sopir antar jemput anggota keluarga?
Kekhawatiran yang wajar, sebetulnya, kan?
Tapi seperti biasanya, intusi bapakku yang sudah kenyang pengalaman hidup itu, terbukti benar lagi. (menurutku, ayahku itu seorang ‘old soul’ : seorang bijak yang luar biasa tenang, emosinya stabil, dan pintar sekali! Ya lah, dulu dia kuliah dengan beasiswa negara dan sampai masa pensiun bekerja sebagai pegawai negeri yang jujur, jauh dari tindak korupsi. Dia juga tahu kapan hari kematiannya, dan mempersiapkan dirinya, juga mempersiapkan surat dengan tulisan tangan bagi kami semua, lho... Tertanggal seminggu sebelum hari kematiannya).
Nah... dibesarkan di keluarga seperti ini, aku bisa apa, selain meneladaninya???
Di kemudian hari... tanpa aku sadari sepenuhnya... hatiku selalu membawaku ke aneka kegiatan yang bertujuan mengubah ‘nasib’ rakyat.
Di bawah ini aku mau berbagi kisah-kisah lain, yang aku samarkan, mengganti nama lokasinya dan dan detail lainnya, untuk menjaga privacy mereka.
********
CERITA 2 :
Ketika masih gadis dan jadi pekerja kantoran... aku terlibat dengan sebuah kelompok keagamaan yang bertujuan memajukan petani.
Bukan, bukan program kristenisasi kok. Tenang.
Itu adalah kelompok yang membantu petani beragama kristen dan katolik (yang menjadi minoritas) di desa-desa. Seringkali, mereka dinomorduakan jika ada pembagian bibit unggul, tidak dilayani membeli pupuk, dan dipersulit untuk ikut koperasi. Nah, kami datang membantu dengan modal networking yang luas ke berbagai produsen dan ‘pasar’
Ceritanya, suatu hari kami mengajak mereka menanam tanaman ‘modern’ (untuk tahun 1990-an ya!) seperti paprika, timun jepang, terong nashubi yang bulat besar, dll. Nanti hasilnya akan kami salurkan ke Jakarta.
Tanggapan mereka? Biasa. Klise.
Mereka enggan. Alasannya ‘Aaah kami sudah biasa menanam padi kok. Sejak kakek buyut kami, kami sudah menanam padi.’
Kemudian kami mengadakan rapat internal. Seorang pembimbing kami adalah aktivis sosial lulusan luar negeri. Dia berkata,
“Jangan putus asa. Memang begitulah cara berpikir rakyat yang terbelakang. Mereka BUKAN visioner. Mereka TIDAK MAMPU melihat jauh ke depan. Itu hal yang biasa. Kita justru harus berangkat dari posisi mereka... lalu perlahan mengajaknya maju....”
Itu KONSEPnya.
Lalu bagaimana PRAKTEKnya?
Begini :
Kami mencari seorang yang mencolok secara fisik, untuk ‘ditanam’ di desa itu. Dipilihlah seorang pemuda berdarah Ambon. Berkulit legam, berambut kribo, dan logat bicara yang langsung membuatnya ‘terlihat’ di sana. Dia segera menjadi bahan kepoan orang sedesa. Bahkan dari 3-4 desa tetangga di sekitarnya.
Apa tugasnya?
Cuma jadi petani rajin, yang mulai dari bawah..!
Aku terlibat ketika membangun rumahnya. Sengaja dibuat kecil (karena dia masih bujangan), dinding batanya hanya setinggi dengkul, sisanya terbuat dari bilik bambu. Kandang-kandang ayam, dan sepetak tanah. Luasannya aku lupa.
Dia juga dibekali sepeda motor butut untuk transportasi. Dia menanam semua tanaman yang semula ditolak oleh warga untuk ditanam, karena alasan ‘aaah kami sudah biasa menanam padiii...’
Dan kemudian terjadilah tontonan itu :
Hasil kebunnya dikirim ke Jakarta, dijual ke supermarket besar. Ada divisi lain yang mengurusi penyerapan ini...
Singkat cerita, penduduk 3-4 desa melihat : Si Mas Item Kribo itu, kok semakin hari semakin kaya? Beberapa bulan lalu, merenovasi rumah jadi tembok bata semua.... Minggu kemarin beli kulkas... lalu hari ini beli TV...!
Nah, kalau melihat pertambahan harta tetangga.... rakyat yang paling tidak visionerpun langsung bisa ‘visioner’..! Hahahahaha
Masyarakat bisa melihat : orang ini berproses dari miskin ke sukses. Kerja keras dengan tanaman aneh yang keliatan sekali mendatangkan uang besar. Apalagi kandang ayamnya semakin banyak... dan barusan bertanya-tanya ke kepala desa dan para tetangga, apakah ada yang mau menjual tanahnya? Karena si Mas Item Kribo mau meluaskan lahannya.
Sejak itu, masyarakat mulai bertanya, gimana sih dapat bibitnya... Gimana sih cara menyemai dan memelihara tanaman-tanaman ini? Kami mau menanam di pematang sawah dan di kebun kami...
Nah..! Selesailah sudah.
Mereka tergiring ke masa depan, menjadi petani progresif, yang pikirannya terbuka. Selanjutnya...? Adalah sejarah yang manis..!
Kenapa kusebut ‘sejarah yang manis’?
Karena masyarakat non kristen dan non katolik lainnya, juga mau ikut maju. Mereka mengalami sendiri, enaknya dilibatkan dan tidak dianaktirikan. Akhirnya hilanglah segregasi dan perbedaan agama di desa-desa itu. Semuanya bersatu untuk maju. Tak pandang perbedaan. Uang, ternyata bisa mendatangkan persatuan... hehehe
Sejak itu aku belajar 1 hal :
JANGAN PERNAH memberikan ajuran kepada ‘orang kecil’ untuk maju... untuk bekerja ini atau itu... untuk mencari pekerjaan tambahan...
No, no, no... Upaya itu nggak akan mempan.
BUKAN KARENA MEREKA MALAS, melainkan karena mereka TIDAK MAMPU MELIHAT kemana arah dari perilaku baru itu.
Mereka tidak terbiasa pada hal-hal baru. Ini sama seperti kamu memaksakan orang yang rabun, untuk melihat betapa indahnya gunung tinggi yang ada di kejauhan, lalu menganjurkannya ke sana.
Lhaaaa ngeliat gunungnya aja nggak bisa, kok disuruh capek-capek ke sana..!
Nggak keliatan, massss... Gelappp
Mereka rabun visi. Itu makanya mereka perlu dibiarkan MENONTON DARI DEKAT.... seperti menyaksikan proses hidup si Mas Item Kriting itu.
Paham, sampai sini..?
Jadi jangan pernah buru-buru menuduh mereka malas. Cek dulu lah...
Memang sih, banyak juga orang yang malas. Tapi banyak juga lho yang masalahnya adalah ‘lack of vision’ karena kebiasaan berpikir jauh ke depan dan menjadi visioner memang tidak diajarkan oleh nenek-moyang dan ibu bapaknya, secara turun-temurun....
Lha gimana... pendidik dan pemukanya saja pun sering berkotbah ‘jangan suka mengandalkan akal... kemampuan akalmu itu terbatas.’
********
CERITA 3 :
Sudah bukan rahasia umum, kekayaan dasar laut dirusak dan dicuri oleh nelayan. Karang dibom agar menjadi bongkahan kecil, lalu diambili, dan dijual. Ikan ditangkapi sebagai ikan hias, dijual juga.
Pemerintah, melalui PLP (Penjaga Laut dan Pantai) kerap menangkapi pencuri ini dan memenjarakannya. Keluar dari penjara? Ya mereka akan mencuri karang dan ikan hias lagi. Sebagian besar alasannya adalah : mengumpulkan modal untuk membeli kapal agar bisa menjadi nelayan.
Logika mereka sederhana : kami hidup dari alam...! Lalu gimana caranya dapat nafkah, kalau nggak mengambil dari alam..???
Pemerintah (saat sebelum era Jokowi dan Susi ya) hanya mampu melakukan punishment. Tapi cara lain tidak dipikirkan.
Karang jadi rusak dan mati. Ikan di sekitar pulau menghilang, sementara nelayan tak punya kapal besar yang cocok dibawa melaut yang jauh. Setelah karang tidak bisa dicuri lagi, mereka ke kota dan menjadi copet.
Kebetulan, suatu hari aku kenal dengan yayasan yang berkutat di urusan penyelamatan terumbu karang, diketuai oleh seorang perempuan, dan dibiayai oleh pengusaha perempuan pencinta laut senilai 2 milyar. Mereka melakukan perubahan paradigma nelayan :
Betul, kita hidup dari alam! Tapi sekarang bukan dengan cara mengambil karangnya dan ikan hiasnya, melainkan dengan cara memeliharanya..!
Jadi inilah yang mereka lakukan :
1. Mereka mengajari nelayan mengambil karang yang masih hidup, menanamnya dalam gelas-gelas plastik air mineral, dikokohkan dengan adukan semen.
2. Mereka membeli dari nelayan Rp 2.000 per gelas.
3. Mereka mengajarkan penduduk untuk
merakit gelas-gelas berisi bibit karang itu di sebuah kerangkeng kawat... lalu menanamnya di laut.
4. Mereka menggaji nelayan dan penduduk untuk bergantian membersihkan karang dari belitan sampah plastik.
Di sela-sela proses itu, mereka melatih penduduk untuk menjadi guide. Sebagian diajari kemampuan snorkeling dan menyelam. Ibu-ibu nelayan diajari memasak masakan ala ‘kota’ dan membuat catering.
Setelah karangnya jadi, ikan-ikan hias kembali buanyaaaaaak sekali...! Bahkan ikan yang bisa dikonsumsi pun jadi bertebaran, mudah dipancing.
Kemudian, para aktivis alam ini mendatangkan penyelam-penyelam berduit untuk berkunjung.
Penduduk di desa nelayan itu MENGALAMI SENDIRI :
- mereka dapat uang ketika kapal mereka disewa oleh para penyelam di luar jadwal melaut. Sebesar 2.000.000 rupiah sehari.
- istri mereka mendapat uang ketika memasakkan catering untuk para penyelam. Sebesar 50.000 sehari untuk 1 orang, dengan 3 kali makan sehari.
- pemuda pemuda mereka dapat uang ketika bekerja sebagai guide lokal. Baik sebagai pendamping snorkeling, maupun pendamping diving.
- bahkan, rumah mereka pun menghasilkan uang...! Ketika menjadikannya sebagai homestay.
Nggak pakai lama, penghasilan mereka meningkat. SELURUH KAMPUNG sibuk menjaga dan memelihara pantai mereka TANPA DISURUH. Mereka sendirilah yang bergotong-royong menangkap malingnya. Lalu diajak bekerja sama.
Maling hilang, berubah menjadi guide yang setiap kali menyelam membawa tas jaring untuk sekalian memunguti sampah. ATAS KESADARAN SENDIRI...!
Sebagian dari mereka, memilih menjadi nelayan, setelah mampu membeli kapal besar yang bisa dibawa melaut jauh.
Keren kan...?
Mereka malas??? Masak sih?
Pada dasarnya, setiap orang butuh penghasilan untuk hidup kok. Dan nggak ada orang yang nolak memiliki uang banyak.
Mereka itu cuma BELUM VISONER! Mereka perlu difasilitasi, didampingi dan dicoaching dulu. Berpikir kreatif kan bukan kegiatan yang setiap orang mampu lakukan.
Dan justru di situlah tugas kita!
Kan kita ini orang sekolahan...
Kan kita ini terdidik...
Kan kita ini bisa berpikir strategik...
********
CERITA 4 :
Berbekal gaul sama orang-orang pintar yang menjadi aktivis itu, aku memutuskan membuka usaha, untuk semua orang yang putus sekolah.
Sengaja kupilih lelaki yang tidak lulus SD. Kenapa? Karena pilihan profesi mereka cuma memburuh kan? Entah sebagai buruh tani, atau kuli bangunan, atau kuli pelabuhan.
Nah, kerja memburuh itu, bisa sampai kapan sih? Kan tenaga manusia terbatas. Sementara mereka perlu makan terus sampai jompo dan mati. Maka mereka kuajari dagang, dengan nasehat : dagang itu bisa dikerjakan sampai mati. Kamu stroke dan duduk di kursi roda pun, bisa jaga toko kok. Tokomu sendiri..!
Dan aku mulai merekrut karyawan yang berbeda agama : Islam (mayoritas dari Jawa) dan Kristen maupun Katolik (mayoritas dari NTT. Aku minta tolong seorang pastor di Atambua untuk mengirimkan pemuda-pemuda jujur dari sana).
Tujuannya?
1. Tokoku tidak pernah tutup. Lebaran tetap buka, karena karyawan non-Muslim bisa terus bekerja sementara kawannya bisa puas lebaran sebulan penuh. Natal juga tidak tutup, karena karyawan non-Kristiani bisa terus bekerja, sementara orang NTT pulang kampung sampai puas merayakan natal.
2. Mereka berbaur dan jadi terbuka akan perbedaan. Mereka menjadi dewasa bertenggang rasa. (Wah dinamikanya sebetulnya banyaaak sekali di sini. Tapi kuceritakan lain waktu saja)
Bekerja bersama orang yang berpendidikan rendah (dua diantaranya buta huruf!) memang perlu trik tersendiri :
- Mereka itu gelisah dan nggak bisa fokus kalau diajak rapat di ruang ber-AC dan duduk berkeliling meja rapat. Mungkin mereka tidak terbiasa menjadi ‘orang sekolahan’. Duduk menyimak adalah neraka bagi mereka. Jadi duduk di taman, makan gorengan, sambil elus-elus kucing liar... rupanya bisa bikin mereka lebih ‘tune in’
- Jadi akulah yang menyesuaikan diri. Aku nongkrong sama mereka di warung kopi... Pendidikan sopan-santun dan manners disampaikan di sini. Sambil ngerumpiin pembantu tetangga yang cantik, aku menyarankan cara PDKT yang bermartabat.
- Jadi ibu bagi mereka itu juga termasuk melerai ketika ada yang ‘rebutan’ cewe...
Mencandai ketek mereka yang bau dan membelikannya bedak MBK, lalu inspeksi apakah bulu ketek sudah pada dicukur....
Membelikan mereka sepatu dan MEWAJIBKANNYA terbiasa pakai sepatu ketika bekerja, bukan sandal jepit.
Hal-hal yang sangat dasar.
- Mengajari yang buta huruf, membaca. Dan diiming-imingi akan dibelikan blackberry (jaman itu masih trend banget pakai BB). Aku menyaksikan 2 pemuda umuran 16 dan 17 langsung bisa membaca dalam waktu 1-2 bulan...!
- Menjadi ibu bagi mereka itu termasuk : mengubah gaji bulanan menjadi mingguan..! Karena???
Karena mereka tidak bisa pegang uang..!
Gaji bisa habis di tengah bulan..! Bukan karena gajinya kurang, wong sesuai UMR. Tapi karena lack of discipline.
Lalu, gaji mingguan ini diberikan di hari SENIN. Kenapa bukan Sabtu? Ya karena itu tadi : akan langsung mereka habiskan untuk malam mingguan...! Hahahaha...
Kalau digaji hari Senin, mereka memakainya untuk hidup selama 5 hari (senin, selasa, rabu, kamis, jumat). Sisanya, baru mereka pakai untuk weekend an. Senin sudah gajian lagi....
- Mengajari mereka setir mobil, dengan mobilku sendiri... mengusahakan mereka dapat SIM.
- Termasuk memoles mereka agar meninggalkan kebiasaan merendahkan perempuan, dengan SENGAJA ngajak mereka makan di restoran hotel.
Mereka kuperlihatkan contoh lelaki bermartabat itu seperti apa. Di hotel yang biasa dipakai training dan bisnis itu, mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri : lelaki-lelaki resik, keren, perlente... bersikap netral dan sopan ke waitress yang ramping-ramping, keren dan ayu.
“Nggak ada yang jelalatan kan? Nggak ada yang suit-suit atau meledek kan?” aku bertanya ke mereka.
“Nah, demikianlah contoh lelaki terhormat itu. Mampu menghormati perempuan.”
Mereka juga kuajarkan menata kata, ketika bertanya arah toilet, meminta sendok atau garpu baru, atau lainnya. Kuajari makan tanpa berbunyi decap-decap. Kuajari memegang alat makan.
Bekerja bersama mereka itu, NGGAK BISA PAKAI NASIHAT DAN ANJURAN. Harus praktek.
Aku bahkan mewajibkan diriku sendiri ada di toko selama 2 shift SETIAP HARI selama 3 bulan penuh, agar mereka melihat sendiri :
1. caranya menjalankan usaha.
2. caranya menerima telepon
3. Caranya bersikap.
4. Tetap bekerja keluar walaupun gerimis (aku tetap bekerja menata ini dan itu, memakai jas hujan)
Dari melihat, mereka lalu meniru.
Termasuk meniru bahwa menjadi juragan itu bukan cuma main perintah. Tapi ikut bekerja.
Sebagian dari mereka akhirnya jadi kepala regu dan manajer toko yang handal dan mampu meneladani.... padahal cuma jebolan 3 SD.
INDONESIA, memang penuh dengan SDM yang tidak siap dan terbelakang.
INDONESIA, membutuhkan setiap warganya untuk turun-tangan. Nggak harus menunggu kamu jadi konglomerat dulu kok. Kamu bisa mulai dari memajukan pembantumu dan sopirmu.... Nggak usah pelit ilmu. Biarkan mereka maju dan meninggalkanmu ketika mereka sudah mampu terbang tinggi. Akan selalu ada orang baru.... tenang saja. SDM pembantu itu banyak. Entah ya. Aku belum pernah kesulitan mencari pekerja bagus.
INDONESIA harus belajar mandiri. Tidak segala hal harus diurus pemerintah.
Yuk lakukan sesuatu bagi negeri ini, dengan kedua tanganmu, dengan kekuatan yang kamu miliki. Mulai dari sekitarmu. Sebisanya saja.
Yuk..?
Nana Padmo
Kamis Wage, 4 Maret 2021, 11:18
Sumber : Status Facebook Nana Padmosaputro
Saturday, March 6, 2021 - 12:45
Kategori Rubrik: