Ora Tau Nandur Pengen Panen

ilustrasi

Oleh : Agung Wibawanto

Ini soal tata krama, bukan soal hukum. Sebagai mantan RT di kampung saya, saya kerap mendapat curhat dari warga. Biasanya sih bahas warga lain (ikutan gosip deh hihihi...). Saat pendistribusian hasil penyembelihan kurban ada seorang warga yang nyebelin. Sekali lagi ini menurut warga yang bertugas membagikan.

"Mosok bilang: lama banget sih, saya kan mau masak," ujar seorang ibu warga yang diceritakan itu. "Lho kok banyak balung nya sih mas. Uwong tuwo kok dikasih balung, dagingnya cuma dikit," tambah si ibu. "Ya semua warga jatahnya begitu Bu, tidak ada yang dibedakan, kecuali Sohibul yang berqurban. Kalau mereka bahkan boleh memilih bagian mana yang diminta," jawab si mas kalem pake nyesek.

Kok saya jadi terbayang Supen ya? Auto kebayang, hihihi... Si ibu warga ini memang dikenal songong, jarang memberi tapi banyak meminta. Sudah dikenal di kampung saya. Tidak salah memang kalau dia ngomel-ngomel artinya tidak ada aturan hukum yang dilanggarnya. Cuma ya tidak etis karena beliau hanya warga penerima daging qurban biasa. Bukan sohibul bahkan membantu proses pemotongan pun tidak (fisabilillah).

Kaum supen juga kebanyakan kan begitu. Tidak pernah punya andil secara langsung kepada republik ini (gak tau juga bayar pajak atau tidak), tidak ada kontribusi, tidak ada prestasi untuk negeri, tapi paling keras ngomelnya. Bahkan merasa berhak ngatur-ngatur presiden. Juga terang-terangan mau bikin aturan sendiri, mengganti bendera dan ideologi bangsa. Saya tidak tahu ini rumus dari mana?

Kok ada ya yang tidak menanam tapi pingin mendapat bagian dari hasil panen? Supen teriak lagi bubarkan PDI Perjuangan, penjarakan penista agama Ahok, turunkan Jokowi. Lha... Terkenyut saya. Apa mereka adalah hukum di negeri ini? Karena menurut mereka lagi, jika tidak dipenuhi... Awas!! Kan hanya hukum dan aparatnya yang punya hak "memaksa" atas nama hukum?

Oh atau karena mereka menganggap diri sebagai utusan imam besar? Siapa? Itu yang sembunyi di tanah ngarap yang tidak berani pulang karena takut diprodeokan. Atau karena mereka sebagai tentara langit pemilik konci sorga sehingga bisa seenaknya mengambil hasil panen tanpa nandur? Begitulah wataknya sehingga saat dengar cerita si ibu warga maka teringat dengan supen.

Apa yang menyebabkan si ibu dan supen bisa bertindak seperti itu ya? Ada unsur iri dengki dan benci. Tapi klo liat gelagat si ibu yang juga dimiliki supen ini (yang paling mungkin) adalah "gawan bayi" (bring baby kerennya hahaha...). Ini sudah menyangkut watak dan tabiat yang tertanam kuat dalam pikiran hingga sikap dan ucapannya.

Tentu ada yang membentuk watak seperti itu. Bak seorang bayi yang putih bersih, tergantung yang mengasuhnya mau diisi dengan apa? Ini sudah bukan bidang saya. Biar psikolog dan psikiater yang menganalisanya. Yang ingin saya sampaikan, si ibu dan supen sesungguhnya sudah diberi kenikmatan. Tuh, tidak perlu nandur tapi diberi keuntungan, baik oleh lingkungan maupun bangsa dan negara ini.

Karena statusnya rakyat tetap dilayani dan pemimpin itu melayani. Tidak perlu nandur wis, tapi duduk manis saja. Tidak perlu pakai ngomel dan marah. Kurang puas terhadap pelayanan yang diberikan, ya bersabar tetap bersyukur saja. Memang tidak dengan segera, melainkan agak pelan tapi pasti Indonesia semakin berubah maju.

Dan itu semua untuk rakyat sebagai bentuk melayani yang diberikan pemimpin. Jika kamu belum bisa ikut nandur, setidaknya gak perlu berisik yang bisa mengganggu bahkan menyakiti yang sudah dan sedang kerja keras nandur. Teruslah bersyukur sekaligus bisa menghargai orang lain yang sudah berbuat untukmu. Tidak mudah urus 267 jt penduduk. (Awib)

Caption: Orang itu sedang bekerja keras, saya semaksimal mungkin bantu yang saya bisa agar ia tidak sendiri, dan berharap pekerjaan menuju Indonesia Maju segera selesai.

#jokowistyle
#kerjakeras
#kerjanyata

Sumber : Status facebook Agung Wibawanto

Monday, August 3, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: