Opsi-Opsi Shalat Jum'at

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.MA

Problematika mendasar adalah apa jaminan DKM untuk bisa physical distancing? Padahal secara statistik, kapasitas masjid menciut tinggal 1/5 nya, sedangkan arus kepadatan jamaah bisa dua tiga kali lipat?

Untuk memastikan physical distancing, ada beberapa opsi dalam melalukan shalat Jumat, biar aman tapi syar'i. Silahkan dipilih :

1. Melebarkan Area Shalat Jumat

Masjid yang kapasitasnya menciut tinggal 1/5 saja, harus menyiapkan shaf-shaf sampai ke jalanan. Hitungannya harus 2 kali lipat jumlah jamaah biasanya.

Mengapa?

Karena mengantisipasi ledakan peserta shalat Jumat. Secara hukum syariah, ini yang paling aman dan disetujui oleh semua mazhab.

2. Bikin Banyak Jumatan Di Lingkungan Sekitar

Antisipasi kedua, dalam hal ini pemerintah memberikan izin kepada warga di RT/RW untuk mengadakan beberapa jumatan sendiri di lingkungan sekitar.

Tidak harus dalam di masjid, cukup di arena terbuka seperti jalanan, parkiran, lapangan atau pun juga trotoar.

Tapi harus dipastikan jumlah minimalnya 40 orang laki-laki yang sudah baligh, sehat dan statusnya bermuqim, bukan musafir.

Agak sedikit bermasalah dalam versi Hanafi, yaitu masalah izin penyelenggaraan. Dalam mazhab Syafi'i tidak perlu izin pihak pemerintah. Hanya ketika ada beberapa jumatan diselenggarakan secara serentak tapi berdekatan, memang jadi masalah secara fiqih.

Namun dengan izin penguasa secara resmi berdasarkan hajah, nampaknya sah juga.

3. Jumatan Drive-In

Alternatif ketiga dengan model nonton bioskop drive-in. Lebih cocok digelar di perkotaan, seperti di monas, Gelora Bung Karno, parkiran luas, atau ruas jalan protokol yang bisa sekejap disulap.

Konsepnya jamaah tetap berada di mobil selama masing-masing mendengarkan khutbah. Lalu giliran shalat, masing-masing shalat 2 rakaat di samping mobil mereka.

Dari sisi keamanan, cara ini yang paling memenuhi syarat physical distancing, meskipun dalam jumlah jamaah yang lebih masif.

Keunggulannya bisa menampung jamaah jumatan dengan jumlah lebih banyak tapi aman. Mobil yang parkir bisa 1000, 2000, 3000 dan seterusnya.

Belum ada kajian fiqih klasik untuk model ini, tapi secara ijtihad fiqih kontemporer, sudah banyak negara menyelenggarakannya.

4. Hit and Run

Ini bukan pilihan, tapi dalam satu kasus pribadi bisa terjadi.

Tetap ke masjid ikut jumatan, tapi tidak ikut khutbah pertama dan kedua. Datangnya paling akhir ketika khutbah selesai.

Begitu iqamah berkumandang, baru jalan ke masjid tapi tidak masuk, hanya gelar koran di jalanan samping masjid untuk shalat.

Begitu imam ucapkan salam, langsung ngacir pulang dan mandi besar. Haha

Kekurangan metode ini hanya bisa dilakukan individual, kalau 500 jamaah berpikir yang sama, maka metode ini gagal total.

Sumber : Status facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Friday, June 5, 2020 - 08:15
Kategori Rubrik: