Oposisi Tanpa Visi Misi

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Terbesit keinginan yg memggebu dalam percaturan ingin menguasai pemerintahan negeri. kontestasi menghadirkan pihak2 yg diantaranya menyatakan sebagai oposisi. Dalam negara yg masyarakatnya berakhlak budi, proses demokrasi dilakoni, beroposisi adalah hal yg baik utk saling mengingatkan.

Persoalan dasar timbul manakala yg terjadi adalah " ngawurisasi ", oposisi yg cuma bermodal benci akan cepat memproduksi caci maki. Isu-isu murahan tanpa arahan bukan saja bisa membuat rakyat jadi memakan hasutan tapi mencekoki isi kepala yg bersumbu " pokoknya" akan semakin subur menjadi tabiat sesat.

 

 

Memang sulit mencari celah utk bisa memunculkan visi misi di saat Jokowi sedang memainkan kiprahnya di tengah pemerintahan yg dilakoninya secara militan. Saking sulitnya mereka cuma bisa membuat mesin pencitraan melalui kebencian dan makian. Memutarbalikkan fakta, yg nyata dikata tak ada, orang mati diajak berdiri makanya PKI dibilang ada, ditanya dimana, oh katanya.

Negeri sedang dibenahi, restorasi sedang di kerjakan, bukannya ikut menyemarakkan kok malah maki-maki makin digencarkan. Tapi kami mahfum karena segitulah kelas kemampuan kalian dan kami makin tak heran jangankan visi misi, ide saja kalian tak punya bagaimana mau ngatur negara, kalaupun dipaksa akan seperti naik kuda tanpa pelana, bisa sakit punggungnya.

Visi misi, sebuah pondasi untuk menuju tujuan hakiki, bagaimana jalan mau didaki kalau tujuannya saja kalian tak mengerti. Indonesia sebuah negara bukan kandang kuda, penataannya harus dgn hati yg penuh kearifan, dan sekarang kami sudah mendapatkan, dia adalah Jokowi yg bekerja dgn hati bukan mencitrakan diri. Jabatan dia nomor duakan, kemaruk dia jauhkan, mengabdi memang yg dia cari untuk selalu bersama ibu pertiwi. Kalian mencaci maki, dia kokoh berdiri, gaya kalian mau mengganti, manalah mungkin kalian bisa, mau main paksa dgn mencari-cari kelemahannya, dia malah giat bekerja. Itulah bukti dia hanya berorientasa kerja, kerja, sedang kalian berorientasi memaki, maki, dan memaki lagi kayak banci kehilangan kentringan, pinggul dilenggokkan, suara dinyaringkan, gaya berlebihan suaranya pas-pasan karena semuanya serba dipaksakan, tidak ada srikandi bisa jadi lelaki, kalau dipaksa ya bancilah jadinya.

Jokowi dgn Nawacita, mengambil ruh pancasila, itulah Visi misinya dan sekarang sedang dikerjakannya. Dia tidak inflasi bicara, dia kerja untuk Indonesia. Apakah kalian ngerti pancasila dan nawa cita, kalau tidak baca saja duluan sehingga gak kelihatan kedunguan kalian.

Indonesia negara besar tidak akan kami lepas diurus orang-orang kasar, kami tau bagaimana jadinya kelak karena kalian cuma kelas tukang palak. Siap-siaplah belajar kalau ada waktu agar tidak cuma menggerutu. Kepingin jabatan wajar tapi jangan diambil dgn cara kurang ajar sehingga tak terkesan mau makar. Jangan katakan diri pribumi, karena asal keturunan bisa di gali, kami tak pernah bertanya kakek kalian siapa, yg penting cucunya jadi apa dan bisanya apa?. Sekali lagi ini Indonesia bukan kandang kuda!!!

Indonesia punya banyak anak muda, yg tua-tua duduk-duduk saja. Kelak akan kami ingat muda kalian berkarya, tua bahagia masuk surga, jangan malah belok ke neraka, itu orang tua celaka namanya.

# Terima kasih para tetua, biarkan yg muda membangun karya. NKRI harus dicintai bukan dimaki-maki. Indonesia dan ibu pertiwi harus di restorasi.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Wednesday, October 25, 2017 - 22:00
Kategori Rubrik: