Oposisi Sampah

ilustrasi

Oleh : Sunardian Wirodono

Pada awalnya, engkau membenci seseorang, dan karena itu kau pakai seseorang yang engkau cintai (sekalipun terpaksa), untuk mendukung energi bencimu pada seseorang itu.

Tapi, Ali bin Abi Thalib, anak mantu Kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wassallam, dulu katanya pernah ngomong begini; "Barangsiapa menyalakan api fitnah, maka dia sendiri yang akan menjadi bahan bakarnya." Nah, barang siapa coba?

Kita lihat dulu barangnya Rocky Gerung. Karena ketaksukaannya pada Jokowi, ia bela-belain Prabowo. Tapi yang dibela-belainnya itu, nyatater kini berkarib-karib pada Jokowi. Dengan slogan; Kompetisi telah usai! Marahlah Rocky. Prabowo yang dulu dipuja-puja bla-bla-bla, kini disebutnya sampah. Dia mendeklarasikan diri oposisi terhadap Prabowo. Oposisi sampah dong?

Every human has four endowments self awareness, conscience, independent will and creative imagination. These give us the ultimate human freedom. The power to choose, to respond, to change, ujar Stephen Covey (1932-2012) penulis Amerika Serikat. Setiap manusia mempunyai empat pemberian kesadaran diri, hati nurani, keinginan pribadi, dan pemikiran kreatif. Hal itu memberikan kebebasan manusia yang sesungguhnya. Kekuatan untuk memilih, merespons, mengubah atau berubah.

Soal yang terakhir itu, pemikiran kreatif, mungkin yang membuat Rocky bisa bersilat lidah. Apa yang secara umum dimengerti ‘A’ bisa dibolak-balik menjadi ‘B’. Kalau tidak setuju? Kamu dungu! Hingga sampai di situ kita paham, mereka yang suka claiming dan labelling, setali tiga wang dengan yang suka ngafir-ngafirin liyan itu.

Hidup itu sesungguhnya sederhana saja, kecuali narasi-narasinya. Kalimat ini memodifikasi yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer. Di masa kini bukan hanya narasi, melainkan juga networking. Narasi dan networking, hal yang juga dilakukan para jagoan SJW (Social Justice Warriors), yang abai terhadap polusi lingkungan, tak memahami prioritas dan agenda setting sejak meneriakkan Reformasi 1998.

Para jagoan SJW ini, masih terbawa romantisme pra Reformasi 1998. Jika pun mereka memberi label pada datangnya generasi baru yang berbeda, senyampang itu para Kakak Pembina ini sedang melakukan claiming dan framing. Mereka pura-pura tidak tahu, tidak sadar, atau memang tidak peka, dengan mengundang barisan sakit hati Cendana, rombongan pengibar bendera khilafah, kelompok radikalisme agama, untuk bersinergi. Kita bener-bener jadi nggak ngerti apa agenda nasional kita, prioritas kita. Kayak banci kamera, yang penting tampil. Sehingga KPK yang dulu kita harap-harap, ikut-ikutan main politik praktis.

Mereka juga mungkin diam-diam memanfaatkan, intersepsi geng-geng agamaisme masuk gelanggang. Maka jika diam-diam kita melihat sinergitas segi-tiga emas (sjw, para ningrat masa lalu, kalangan agamaisme, dan masih bisa ditambah negara donor) itu, pertanyaannya; Apa sebetulnya gagasan kalian mengenai Indonesia, dengan yang disebut tahun bonus demografi, the winter is coming, dan era setelah 2024? Apalagi Indonesia 2045?

Hanya karena nilai idealitas kalian yang utopis, dan tak terpenuhi, kita kehilangan arah dan tujuan bersama. Untuk duduk bersama Jokowi pun, kalian anggap rendah, pengkhianatan. Segala macam jungkir-balik serta akrobat kata-kata, kalian susun dalam narasi-narasi gagah, tapi lamis dan kehilangan ketulusan.

Tapi kini, sebagaimana Rocky Gerung, kalian membanggakan diri sebagai oposisi sampah. Terus, maunya apa? Mau jadi presiden? Nggak sabar nunggu lima tahun, dan cuma mau main claiming dan labeling? Terus seperti Najwa Shihab, dengan menyatakan sejak kuliah sudah baca majalah, dan merasa rugi jika tidak membaca majalah itu, kalian juga ingin bilang kalian paling berhak menentukan negeri ini?

Jokowi dipilih 54,50% dari total jumlah pemilik hak suara, karena reputasinya. Mau abaikan fakta ini, hanya karena sudut pandang? Yang juga sangat subjektif? Terus merasa paling pinter dan paling bener? Sama persis dengan mereka yang suka ngafir-ngafirin liyan, dengan istilah kalian buzzer bayaran atau buzzer Istana? Sementara nanti, pada 2024, kalian juga jualan dagangan lagi? Karena duit sudah habis?

Kita semua tahu, tidak semua sampah buruk atau tak berguna. Tapi itu artinya, ada sampah yang memang buruk dan tak berguna, bukan? | @sunardianwirodono

Sumber : Status Facebook Sunardian Wirodono

Wednesday, October 16, 2019 - 15:30
Kategori Rubrik: