Oposisi Nggak Mutu, Buat Apa?

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Orang bilang, agar demokrasi tegak lurus harus ada oposisi, yang berada di luar pemerintah. Kalau oposisinya nggak mutu?

Tunjukkan mana sikap-sikap oposan yang memenuhi kepantasan sebagai oposan, setidaknya selama Jokowi Presiden? Boleh dibilang tak ada. Apalagi jika sikap oposan itu dalam rangka membandingkan dengan Prabowo.

 

Ada jajaran ketua DPR yang mengatakan bahwa bahasa Inggris Jokowi memalukan. Sementara menurutnya, Prabowo mimpi pun dalam bahasa Inggris. Ini oposisi namanya? Orang yang sama, ketika Jokowi ulang tahun, bukannya mengucapkan ‘selamat ultah’ kek. Dia bilang dengan usia se-‘gitu’ Jokowi mesti sadar masih ada orang miskin dan tertindas. Apa hubungannya? Yang kek gitu, tak layak disebut ‘kekuatan oposisi’. Itu mah khas WTS (waton sulaya), asal njeplak. Apalagi pernyataannya tidak statementship dan tidak argumentatif. 

Mari kita ambil oposan lainnya di luar parlemen. Rocky Gerung misalnya. Ia hanya lebih pintar dalam bermain-main semiotika, atau beretorika. Substansinya tak ada, atau katakan lemah. Misal, sebagai pemenang Jokowi katanya galau. Buktinya? Kata Rocky, Jokowi nawar-nawarin rekonsiliasi, tak segera menyatakan kemenangannya (usai KPU mengumumkan hasil Pilpres).

Orang yang belajar filsafat, tapi mengesampingkan pemahaman sosiologi dan adat-budaya, apalagi tak faham fatsun politik, pernyataannya dangkal. Hal itu hanya menunjukkan sikap tak pernah terlatih berdasar argumen, tetapi lebih ke judgment. 

Menurut Margareth Thatcher, jika lawan politik menyerang sisi pribadinya, ia menandai mereka kehilangan argumentasi. Meski di tangan yang culas, tanpa argumen juga bisa terlihat argumentatif. Sekali pun sebenarnya, dokumentasi selalu lebih baik dari argumentasi. Artinya rekam jejak, kinerja, semua bisa terlacak dari konsep hingga eksekusi. Seperti ujar Miguel De Unamuno, “Banyak argumen bagus dirusak oleh orang bodoh yang tahu apa yang mereka bicarakan.”

Oposisi WTS sebagaimana definisi Baltasar Gracian; mengambil sisi yang salah dari sebuah argumen hanya karena musuhmu telah mengambil sisi yang benar. Padahal, pikiran orang diubah melalui observasi, bukan melalui argumen.

Kita membutuhkan pandangan-pandangan kritis, dengan berbagai argumentasinya. Di jaman sekarang ini, peranan parlemen bisa diambil LSM, aktivis individual, akademisi, pers, asosiasi profesi dan kepentingan. Bahkan rakyat jelata bisa langsung menyampaikan pendapatnya via medsos. Yang dibutuhkan, kemampuan literasi, kecerdasan bermedsos. Agar tak terjebak hoax.

Di jaman teknologi informasi dan komunikasi makin menjura, parlemen mungkin akan seperti pekerjaan sopir atau tukang parkir. Semuanya akan digantikan teknologi. Pandangan atau kebutuhan akan pemimpin, juga berubah. Yang pasti orang model Fadli Zon atau Rocky Gerung, juga Amien Rais dan gerombolannya yang tak bisa move on, akan makin ditinggalkan. Kecuali oleh mak-emak yang kegatelan.

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Monday, July 8, 2019 - 16:15
Kategori Rubrik: