Oposisi Kuat Demokrasi Sehat? Mbell...

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Oposisi kuat demokrasi sehat? Belum tentu. Tergantung pada centhelan, dan kualitas serta moralitas pelakunya.

Jika pun para akademisi, yang suka menjual ilmunya secara eceran di televisi, ngomong demokrasi tanpa oposisi akan berbahaya, mungkin sedang asal njeplak atau setidaknya mencoba ngibul.

Demokrasi yang baik, tidak hanya ditentukan ada atau tidaknya oposisi. Karena dengan oposisi, demokrasi juga bisa berpotensi lebih buruk. Kita tidak ngomong teori, atau utopia. Kita ngomong praksis politik kita, dan itu empirik sebagai penanda kualitas dan kedewasaan berdemokrasi.

 

Ada penggiat demokrasi yang mengatakan demokrasi jika masih diberi embel-embel (seperti Demokrasi Terpimpin, Demokrasi Pancasila, Demokrasi Gotong Royong) adalah demokrasi yang buruk. Karena baginya demokrasi is demokrasi. Demokrasi thok. Tanpa embel-embel. Demokrasi murni. Adakah?

Bagi para teoritikus, dan kaum utopis, mungkin saja. Setidaknya dalam wacana. Namun dalam praktiknya, tidak mungkin. Demokrasi adalah sistem politik yang diterapkan di bumi kehidupan. Di jantung hati sekumpulan manusia, bernama rakyat, pada suatu tempat. Tidak berada di ruang hampa. Ia dibangun bukan hanya oleh kapasitas, melainkan juga karakter, budaya bangsanya, beserta kondisi-kondisi objektif yang melingkupi. Dan itu akan mewarnai. 

Mereka yang menginginkan demokrasi murni, sebagaimana Montesquieu pada awal abad pencerahan (18), ialah juga mereka yang menghina peradaban manusia dan ilmu pengetahuan. Karena dengan revolusi-teknologi dan moralitas politikus yang korup sepanjang kutukan, memungkinkan peran parlemen bisa dihilangkan. Digantikan oleh sebuah smartphone di genggaman rakyat. Apalagi di jaman digital ini, dengan matinya kepakaran, matinya reporter, matinya tempo, semua orang bisa ngomong. Tak bisa dicegah.

Kita lebih suka menyalahkan keadaan. Hingga orang model Rizieq Shihab, Rocky Gerung, Karni Ilyas, bisa tumbuh. Karena dalam masyarakat bodoh, tokoh-tokoh semacam itu laris manis. Sementara cara kita menghadapi hoax dan ujaran kebencian hanya dengan nasihat remeh, "Isteri tentara harus pakai HP jadoel", atau Menkominfo dengan cara klasik hanya dengan satu kata; blokir! Negara tidak pernah ngomong dua hal fundamental; Tegakkan hukum dan pendidikan! Sementara agama tak bisa diharap dalam menjernihkan persoalan. 

Dalam politik transaksional, oposisi belum tentu jalan sunyi. Mungkin saja sunyi dari tuntutan tanggung jawab, tetapi kadang lebih sering jalan basah. Karena dari tidak setuju menjadi setuju, bisa diselesaikan lobi-lobi politik. Dan tak ada lobi atau makan siang gratis. Apalagi kalau menjadi oposan sekedar cara menggertak, untuk menaikkan posisi tawar.

Bukan oposisi kuat demokrasi kuat, melainkan sebagaimana ujar Sukarno; Rakyat kuat Negara kuat. Kuat artnya tidak baperan. Tidak mudah ditipu. Tidak mudah mendungukan atau mengafirkan liyan. Tidak mudah tantrum, jadi oposisi karena kecewa. 

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Friday, October 18, 2019 - 01:45
Kategori Rubrik: