Oposisi Kelas Gali

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Sahdan di negeri yg gemah ripah loh jinawi yg kelahirannya di barengi simbahan darah, dan dengan nyawa ribuan pahlawan, disanalah awalnya dia disebut sebuah negara merdeka INDONESIA nama yg berevolusi dari Nusantara, dimana sejak ratusan tahun dihuni banyak kerajaan dgn ragam kekuatan dan menggetarkan dunia pada zamannya.

Negeri ini pernah dipimpin oleh 6 pemimpin dgn ragam gaya, dan yg ke 7, adalah jelmaan sebuah harapan yg sesuai pancasila, dari 7 yg pernah ada. Hanya 3 orang diantaranya yg membuat catatan diatas rata-rata. Soekarno sang proklamator menggetarkan dunia, Soeharto sang diktator dan koruptor menjerumuskan Indonesia dan sekarang Jokowi menata ulang Indonesia ditengah buasnya manusia bebas bicara berisi suara mencela yg kebanyakan tak punya kapasitas apa-apa.

 

Jokowi, kehadirannya menata dari sisa yg masih ada, mengais, menyatukan, agar keutuhan bisa dihadirkan. Tapi bak kata orang tua, memungut serpihan butuh kesabaran, karena rakyat yg pernah dianggap remah yg sudah berserak, pernah terinjak, atau sengaja diinjak, harus diajak kembali berpikir bijak, bahwa kita harus beranjak agar harga diri bisa kembali, tidak sekedar berontak dan berteriak tanpa tujuan berarti.

Namun harus juga disadari, membangkitkan batang terendam tidak semudah menyurutkan air rendaman, disana masih banyak berdiri kaki-kaki penindas yg dulu pernah menikmati bgmn mereka melahap saudaranya sendiri dgn menguasai bumi pertiwi dan seisi perut buminya, dgn pongah mereka memperkaya diri, tanpa risi bahwa dibanyak belahan bumi negeri ini saudaranya terintimidasi dari ekonomi yg seharusnya mereka nikmati.

Dalam proses penataan serta pemerataan pembangunan, juga memeratakan dan menghidupkan ekonomi, disana pula Jokowi berhadapan dgn oposisi tak berbudi. Kelas manusia kerdil dalam berpikir menyerang dari segala lini agar Jokowi terhenti, atau sudah beberapa kali mau dipaksa berhenti, untung manusia pinggir kali ini punya nyali baja dan dilindungi oleh yg Maha Kuasa untuk kelangsungan Indonesia.

Tidak tanggung-tanggung kekuatan yg menyerangnya, apakah ada kekuatan asing didalamnya, kita masih samar melihatnya. Tapi dari pengalaman turunnya Soekarno dan Soeharto sangat mungkin mereka ada disana, hanya saja skrg Amerika tidak bisa seenak udelnya karena kini kehadiran Cina, dan Rusia tidak membiarkan Amerika leluasa menjadi polisi yg sekaligus perampok dunia. Arab boleh dibuat porak poranda, tapi Asia jangan coba-coba, karena ras kita beda, kita bukan ras yg cuma besar punuknya, lambat jalannya, kayak onta. Asia adalah ras yg membuat jalur sutra membelah dunia. Sayang Indonesia masih menyimpan musuh dalam satu badan, sehingga ada energi yg harus disiapkan untuk melenyapkan koloni manusia rendah akhlak ini, kita harus berani, kalau tidak kita akan mati suri, atau dikebiri saudara sendiri yg sudah menjelma menjadi Srigala berbulu domba.

Serangan masif kepada Jokowi dari mulai tv yg dikomandoi Karni, oposisi di DPR yg mulutnya kayak ember, sampai kepada penyusupan di BUMN, ASN, bahkan masjid sudah dijadikan tempat mengeramnya ajaran kebencian. Baju ulama, sorban, dijadikan tameng dan menuduh pemerintah anti islam, sampai kriminalisasi ulama terus didengungkan. Papua akan dibenturkan, Banser akan dibubarkan, radikalisme disuburkan, bahkan kelas ormas yg sudah dibubarkan mau dibangkitkan melalui DNA islam dgn darah lain yg disebut pemurnian islam, tapi kelakuan setan.

Tragedi Papua bukan sekedar huru hara biasa, amunisi menghancurkan Indonesia ada didalamnya, ruh orba masih merajalela karena kroninya masih hidup dalam komunitas yg tertata, tak terasa tapi ada, duitnya banyak dimana-mana, kita harus waspada karena mereka akan menerkam Indonesia utk kembali berkuasa.

Jadi, baju oposisi harus diwaspadai, mereka berkolaborasi utk kembali menggali kejayaan yg pernah mereka kuasai. 

Awasi oposisi, selain mulut mereka asal bunyi, hati mereka sudah mati. Lihat saja, setelah gagal beroposisi, bermanuver mau berkoalisi, begitu tau Jokowi gak ngasi hati, mereka balik garang menyerang. Bahkan Ibu Kota pindah mereka yg gerah, karena apa, karena dalam prosesnya mereka tak bisa menjarah. 

DASAR LINTAH DARAT, SEMUA MAU DIKERAT. PEMERINTAH BUTUH OPOSISI, BUKAN GALI.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Tuesday, September 3, 2019 - 18:15
Kategori Rubrik: