Oposisi Ala Kadarnya

Oleh : Aldi Bhumi

Akhir2 ini aku bingung. Mengapa Prabowo d biarkan melakukan blunder seperti itu oleh timsesnya? Tidak adakah konsultan komunikasi yg menasehatinya? Kan Boyolali bukan blunder pertama yg d lakukan Prabowo?

Sebelumnya ada 2030 Indonesia bubar, yg ternyata berdasarkan novel. Candaannya juga ada tentang gaji wartawan. Tim komunikasi tidak menahan Prabowo ketika buat konfrensi pers mengenai Sarumpaet. Prabowo d biarkan berjanji tidak akan import. Candaan bernada mengejek tentang Boyolali kan bukan yg pertama? Sebetulnya bisa d antisipasi.

Anehnya, timses malah double down untuk hal seperti janji tidak import. Walaupun tentu mereka sadari itu mustahil. Pemilih pun belum tentu mau tidak import samasekali. Krn ini kan artinya tidak ada lagi HP Samsung, Apple, Xiaomi atau apapun yg anda pakai baca tulisan ini?

Mengapa bentuk kampanya Prabowo menjadi full retorika bombastis yg hiperbola? Mengapa Prabowo d biarkan melakukan blunder demi blunder?

Ya, boleh saja menipu diri dengan bilang itu yg d inginkan warga Indonesia. Bisa saja bilang semua polling yg ada salah, sebetulnya saat ini pemilih Prabowo 101% dan Jokowi -1%.

Oh ya, bila ada yg tunjukan hasil polling online pada anda, tanyakan hasilnya per propinsi.

Tapi tentu para strategist d timses Prabowo tidak semua segila dan se'delusional itu. Tentu tau beda integritas data antara poling online, medsos, dan lapangan. Kalau ada yg bilang ga masalah, itu krn memang mereka harus menampakkan optimisme ke konstituennya. Tentu ada yg realistis. Jadi, walaupun mereka ga mengatakan, walaupun ga memperlihatkan, aku bisa lihat bahwa mereka khawatir prospek Prabowo presiden yg kelam.

Terlihat dari mulai banyaknya tuntutan pada bawaslu masalah simbol jari. Tuntutan pada mereka yg menyerang Prabowo dari sisi "Boyolali". Tuntutan pada ungkapan kemarahan bupati Boyolali yg kelahiran Boyolali dan jelas2 tampang Boyolali. Mungkin masih akan ada lagi tuntutan2 lainnya.

Semua ini kulihat sebagai manifestasi rasa takut. Perwujudan rasa khawatir.

Jadi, semakin aneh bukan? Kalau takut after effect Boyolali, kenapa biarkan canda Prabowo yg melecehkan? Apakah becanda harus melecehkan? Apakah ga ada cara lain?

Stand up comedy tuh bisa roasting tampa takut ada yg tersinggung, krn audience tau bahwa yg ngomong adalah stand up comedians. Itupun ga jarang comedian roasting ada yg tersinggung.

Ga mungkin ga ada tim komunikasi yg handal d kubu Prabowo.

Setelah memikirkan semua itu, mau ga mau aku sampai pada satu kesimpulan.

Jangan2 sebetulnya tim Prabowo sudah pasrah. Sudah nerimo bahwa kemungkinan calonnya sangat kecil. Jadi tujuan tim Prabowo memang bukan memenangkan Prabowo.

Lalu apa tujuannya?

Siapa yg d untungkan dengan blunder, kontroversi, dan janji bombastis? Yg pasti, sulit d bayangkan blunder tersebut menguntungkan org yg membuat blunder secara langsung.

Ada satu pihak yg mungkin d untungkan dengan adanya blunder2 ini.

Gerindra.

Pada polling yg kubaca, khususnya polling LSI Denny JA, ada anomali. Walaupun Prabowo kalah suara d banding Jokowi, dan bila d banding 2014 bisa d katakan menyusut cukup tajam,... Tetapi suara Gerindra meningkat significant. Menyalip Golkar d posisi kedua.

Agar sederhana, ku anggap Prabowo adalah akumulasi suara partai2 pendukungnya. Ketika Prabowonya menurun d banding 2014, mengapa Gerindra bisa naik drastis?

Jokowi sendiri lebih nyaman posisinya d banding 2014. Apakah Golkar menyusut? Kurasa bukan itu masalahnya.

Ada yg aneh d sini. Bila kusederhanakan, pemilih Gerindra pilih Prabowo. Pemilih Prabowo belum tentu pilih Gerindra. Jadi, seharusnya Gerindra menguat, Prabowo menguat. Gerindra menyedot suara yg tadinya d luar jangkauan pemilih Prabowo d 2014.

Tetapi ini Gerindra menguat, Prabowo melemah.

Janji bombastis dan kontroversi yg d ucapkan prabowo, walaupun blunder, tetapi berita2 seperti ini dapat meningkatkan expose dan probabilitas partai utama Prabowo.

Ku lihat, pemilih Jokowi, kemungkinan besar tidak akan memilih Gerindra. Lalu, darimanakah keuntungan kenaikan perolehan suara yg akan d ambil Gerindra? Yg memang pendukung Jokowi sendiri, rasanya kecil kemungkinan pilih Gerindra.

Yg paling mungkin terjadi, adalah Gerindra akan menyedot suara pemilih, dari partai pendukung Prabowo sendiri. Bukan Gerindra menyedot suara dari PDIP, dari Golkar, dari Nasdem, atau dari partai pendukung Jokowi lainnya.

Suara yg mungkin tersedot antara dari PKS, dari PAN, ataupun dari Demokrat.

Lalu yg berpotensi menjadi the ultimate loser d sini?

Grass root PKS biasanya cukup solid. Kalaupun sedang d terjang badai, bayanganku pecahan PKS akan membuat partai baru, bukan belok k partai lain.

Sisa PAN dan Demokrat. Tapi, jauh lebih beresiko Demokrat.

PAN sudah lama d sisi Prabowo. Konstituen PAN sudah terbiasa dengan Prabowo sebagai calon.

Mangsa paling empuk bagi Gerindra mungkin Demokrat. Yg konstituennya mungkin merasa disfranchised dengan ketidakberdayaan mantan partai besar, yg semakin lama terasa semakin irrelevant.

Kesimpulan?

Tujuan Gerindra sepertinya satu, rebut kursi DPR sebanyak2nya. Krn daya tarik dan elektabilitas Prabowo menyusut, berarti pemilih potensial Gerindra juga menyusut. Jadi, kemungkinan merebut kursi bukan dari opponent, tetapi dari allies.

And Demokrat have everything to lose.

(kwek)

 

Sumber : facebook Aldi Bhumi

Wednesday, November 7, 2018 - 19:45
Kategori Rubrik: