Operasi Naga Hijau, Semut Merah dan Kerajaan Agung Sejagat

ilustrasi

Oleh :Fadly Abu Zayyan

Pada tahun 1997, rezim Orde Baru sudah merasakan gejala Krisis Ekonomi hebat. Hutang Luar Negeri menumpuk, sedangkan pembayaran menjelang jatuh tempo dengan menggunakan US Dolar. Ini otomatis akan menggerus "Cash Collateral" berupa cadangan devisa. Belum lagi ulah spekulan global yang akan menaikkan kurs US$ karena tahu persis saat tingginya permintaan. Tidaklah heran krisis saat itu diiringi dengan merosotnya nilai tukar IDR terhadap US$.

Di tengah kepanikan luar biasa, satu-satunya jalan keluar adalah mencairkan sebagian Aset Collateral yang ada di Swiss. Setidaknya, terdapat tiga bentuk aset itu. Yaitu Dinasty, Trusty dan Prasasti. Aset Dinasty adalah milik Kerajaan-Kerjaan di Nusantara yang tersimpan di Eropa melalui salah satu Bank tertua, yakni HSBC yang sudah masuk di Nusantara pada tahun 1885. Sedangkan Trusty adalah titipan dari bangsa-bangsa Asia Afrika yang juga diserahkan kepada Soekarno untuk mengamankan dari penjarahan Bangsa Eropa. Sedangkan Prasasti adalah artefak-artefak budaya yang bisa dijadikan Collateral yang nilainya ditentukan oleh Kurator Internasional.

Tapi bagi Rezim Orde Baru, sayangnya aset ini telah dititipkan kepada "Orang-Orang Amanah" (OOA) oleh Soekarno menjelang kejatuhannya karena mengetahui ada peran Amerika dibalik penggulingannya. Soekarno berpesan kepada mereka, aset ini hanya boleh digunakan oleh pemimpin yang Amanah dan Ikhlas bekerja untuk rakyat. Hingga saat ini tidak ada yang tahu keberadaan OOA selain diantara mereka sendiri. Mirip seperti Wali diantara para Wali. Dan memang, bisa jadi diantara mereka sudah ada yang mencapai maqam Wali.

Dengan situasi kritis dan genting seperti ini, Orde Baru membentuk Operasi Naga Hijau untuk mencari OOA. Saat itu keberadaan OOA diidentifikasi banyak berada di Jawa Timur dan berprofesi sebagai Kyai Kampung. Meski tujuannya gagal, Operasi ini setidaknya menelan korban jiwa tokoh-tokoh NU dan beberapa Kyai Sembur (pengobatan) yang dituding sebagai Dukun Santet. Pasca kejadian itu, dengan gamblang Gus Dur menuding ES berada dibalik operasi ini. Tuduhan yang membuat Eggy Sudjana jadi meradang karena merasa ditunjuk hidungnya. Dan akhirnya, pada Mei 1998 Soeharto harus lengser karena tidak mampu menyelesaikan Krisis Ekonomi. Dan bisa jadi juga kualat atas Operasi Naga Hijau tersebut.

Pasca lengsernya Soeharto dan saat Gus Dur menjabat Presiden, OOA mulai "membuka diri" terhadap Gus Dur yang dianggap berpihak kepada Rakyat. Mereka saling berkomunikasi karena memang satu "frekwensi". Penataan aset ini membuat beban Hutang Luar Negeri menjadi berkurang. Tidaklah heran jika saat itu, Presiden harus berkali-kali keluar negeri yang oleh pembencinya dituding sebagai Presiden Plesiran. Padahal ini terkait penataan aset yang "tercecer". Akibat langkah strategis yang dilakukan Gus Dur ini, dirancanglah strategi pelengserannya melalui para proxy sebagaimana yang disebut dengan Operasi Semut Merah. Setelah lengser, Gus Dur juga sempat menitipkan Kyai Kampung kepada para pendukungnya.

Kini saat Jokowi menjadi Presiden, bisa kita lihat benang merahnya. Bahwa kelompok yang ingin menggulingkannya, seakan terhubung dengan orang-orang yang terkait dengan Operasi Naga Hijau dan Operasi Semut Merah. Dan belajar dari Gus Dur, pembiayaan negara dengan aset tersebut, diformat dalam bentuk Hutang Negara. Dimana komposisinya lebih besar kepada SBN (Surat Berharga Negara) yang ibaratnya seperti berhutang pada brangkasnya sendiri dan rencananya akan dibereskan di akhir masa jabatan. Siapapun pengganti Jokowi di tengah jalan, akan menanggung konsekwensi membayar "hutang" tersebut. Inilah yang membuat gamang siapapun yang ingin menjegalnya.

Dan saat ini, OOA tetap akan tersembunyi keberadaannya. Mereka tak akan membuka diri apalagi sekedar dipancing dengan Acara Karnaval Raja-Rajaan. Salah satunya sebagaimana yang dilakukan oleh Kerajaan Agung Sejagat. Dengan ditangkapnya Raja beserta Ratunya, semoga memberikan efek jera dan terkuak siapa dalang dibalik mereka.

*FAZ*

Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan

Thursday, January 16, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: