Open Kimono Ala Sandiaga

Ilustrasi

Oleh : Muhammad Jawy

Panggung opini publik Indonesia mau tidak mau harus diakui masih menempatkan pelaku politik DKI sebagai aktor utamanya. Tiap hari publik disodori berbagai macam informasi, bahkan juga disinformasi melalui sosial media. Di era global village seperti sekarang memang siapa yang berada di atas panggung opini publik, otomatis yang akan menyerap energi besar masyarakat. Energi adu keyboard. Tidak terkecuali Sandiaga Salahudin Uno.

Termasuk ketika Sandi yang tengah menjelaskan kepada publik tentang pentingnya transparansi pengelolaan pemerintahan daerah. Uniknya Sandi menyebutnya sebagai Open Kimono. Sontak publik terkejut. Pendukungnya juga kaget, kenapa Sandi pakai istilah itu. Bukankah itu ......? Nyaris tidak ada pembelaan yang berarti dari pendukungnya, dan tampak mereka bingung arep sambat kalih sinten.

Di sisi lain, para oposannya, tidak sedikit yang tertawa. Memang budaya JAV yang sempat merasuk ke kultur digital negeri ini, membuat kata Open Kimono bisa memiliki banyak makna. Saya melihat ada yang tertawa jahat hingga keluar eluh getih putih. Damn, please kamar sebelah yang Vyanisty stop setel youtube bentar dong, lagi nulis nih!

Jadi begini saudara, Open Kimono adalah memang frase dalam dunia bisnis yang sudah lama dipakai untuk menyimbolkan transparansi pengelolaan usaha. Sejak tahun 1990an sudah ada yang pakai. Sandi sebagai pelaku bisnis, tentu saja hafal di luar kepala istilah yang sering dipertukarkan dengan para koleganya, termasuk Open Kimono ini. Asal usulnya sendiri tidak jelas, bahkan diduga bukan orang Jepang yang membuatnya.

Bahwa kesan nakal dan seksis tidak bisa dipungkiri ada dalam frase Open Kimono ini. Karena makna yang ada di permukaan adalah, membuka Kimono sampai si pemakainya telanjang bulat, sebagai perumpamaan dalam bisnis pun butuh transparansi hingga detail, dengan harapan tidak ada penyimpangan dalam pengelolaan assetnya. Perlu kita pahami juga bahwa di Jepang pemakai kimono tidak hanya perempuan, meskipun mayoritas memang perempuan. Sehingga kesan Open Kimono tidak bisa lepas dari membuka baju perempuan. Tapi laki-laki pun juga jamak menggunakan kimono, bahkan sekarang pun kucing ada yang dipakaikan kimono juga. Tentu buat pose foto saja atau untuk event tertentu, karena jelas dia akan tersiksa kalau tiap hari pakai kimono.

Nah tentu saja kita harus sepakat dengan Sandi tentang pentingnya transparansi pengelolaan anggaran dan asset di pemerintahan daerah. Di era keterbukaan informasi publik, hanya koruptor dan kroninya yang tidak sepakat dengan hal ini. Namun tentu Sandi harus memilih frase yang lebih tepat, mengingat karena beliau naik jadi Wagubernur tidak lepas dari peran kuat massa 212 yang mempersepsikan beliau sebagai tokoh muda energik yang Islamis. Dan tentu Open Kimono adalah frase yang sangat problematis. Dan masalah bertambah karena ketika Sandi ditanya wartawan, dia menambahkan kalau di Indonesia ya Open Kebaya-lah. Ini tentu memperberat masalah, karena di Indonesia hanya perempuan yang menggunakan kebaya, tidak ada kebaya buat laki-laki dan kucing. Dan frase membuka kebaya, itu sangat tidak pantas dipakai, perempuan Indonesia mana yang mau dipakai buat istilah semacam itu. Pun itu jauh dari semangat 212. Terlepas dari maksudnya yang mungkin baik. Saya alumni 212 soalnya, meski nggak ikut reuni.

Jadi Sandi, dari sekian banyak istilah yang bisa menggambarkan transparansi informasi pemerintahan, pilihlah frase yang tidak melukai masyarakat kita, terlebih konstituen sendiri. Kalau memang betulan transparansi tengah digalakkan, pasti akan dapat banyak simpati kok. Masalahnya beberapa kalangan punya persepsi yang berkebalikan ketika misalnya tayangan rapat yang biasanya langsung di-online-kan mendadak dihentikan, atau ketika akses jurnalis untuk menelisik jeroan DKI dipersempit. Ini tentu bertentangan dengan semangat transparansi itu sendiri.

Nah monggo, publik menunggu pembuktian keseriusan Sandi dan rekan dalam issue transparansi Kim.. eh maksudnya perencanaan, penganggaran, dan asset dari DKI.

Sumber : Status Facebook Muhammad Jawy

Thursday, December 14, 2017 - 13:45
Kategori Rubrik: