Omong Kosong Islam Tegak Melalui Politik Kekuasaan

ilustrasi

Oleh : Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bila Anda berpolitik dengan mendukung seorang calon dan kemudian sebegitu bencinya dan mencaci maki calon yang tidak Anda dukung, berarti Anda masih lugu atau bahkan bisa disebut culun dalam dunia perpolitikan.

Berpolitik dengan cara emosi dan menebar kebencian hanya akan dilakukan oleh mereka yang masih lugu dan bodoh dalam perpolitikan.

Sebab baik seseorang yang Anda dukung ataupun tidak Anda dukung hanya akan berkompetisi di medan laga saat perebutan kekuasaan saja.

Namun, bila kompetisi telah usai, mereka pada akhirnya akan bermesra-mesraan kembali dan akan bagi-bagi kekuasaan.

Sebab, bagi para elit politik, politik itu sportifitas kompetisi. Tidak ada keseriusan bagi mereka saling hantam saat berkompetisi. Walaupun hati ummat tersakiti.

Karena dalam politik hanya ada satu prinsip, "Tidak ada teman sejati dan tidak ada lawan abadi, sebab yang ada hanyalah kepentingan abadi.

Sedangkan Anda yang telah terlanjur mati-matian membenci, mencaci maki, dan menumpahkan sumpah serapah hanya akan mendapatkan kekecewaan manakala calon Anda kalah.

Lebih-lebih akan sakit hati manakala calon Anda yang kalah malah bermesraan dengan calon yang telah terlanjur Anda caci maki tersebut.

Padahal, pada saat Anda membela sang calon saat itu, telah terlanjur menumpahkan segala macam kebencian dan caci maki.

Bahkan, begitu bersemangatnya Anda telah mempertaruhkan agama dengan menjual ayat dan mayat demi sang calon presiden yang Anda dukung.

Anda telah merelakan kehilangan teman, tetangga, dan bahkan saudara hanya demi sang calon yang Anda anggap sebagai dewa dan juru selamat.

Makanya, jangan pakai emosi dalam politik! Jangan terlalu membela mati-matian calon yang Anda suka! Jangan terlalu membenci dalam politik! Apalagi jangan pernah bawa-bawa agama dalam politik!

Politik itu hanya sebuah seni perebutan kekuasaan yang bersifat duniawi. Jadi, politik itu seharusnya mengadu ide dan gagasan, bukan menebar caci maki dan kebencian.

Bahkan, semenjak lahirnya agama Islam, sejarah mencatat bahwa tidak pernah benar-benar ada politik itu untuk dan demi membela agama Islam.

Mulai dari Abu Bakar menjadi khalifah melalui negosiasi, terbunuhnya Umar, Ustman, dan cucu kesayangan Nabi, berakhir politik kekuasaan dinasti Ottoman Turky.

Apalagi jargon-jargon indah propaganda khilafah HTI dimana tidak ada satupun dalil dari Al-Qur'an.

Omong kosong bahwa mereka ingin menegakkan Islam melalui politik kekuasaan.

Hanya orang bodoh yang percaya dengan propaganda khilafah, di mana mereka sulit menangkap fakta bahwa di balik propaganda khilafah ada persekongkolan Kapitalis dan Zionis untuk menghancurkan agama Islam dari dalam.

Begitu mahal agama diseret-seret ke dalam dunia politik. Dan terlalu mulia agama dipertaruhkan hanya demi kekuasaan duniawi sesaat.

Bahkan nyatanya, seringkali dan berulangkali Islam malah tercoreng dan umat Islam mengalami perpecahan karena disebabkan persoalan politik kekuasaan.

Malahan, fakta dan realita yang tidak bisa dibantah adalah Islam dapat tegak dan menyebar ke seluruh penjuru dunia bukan melalui politik kekuasaan, namun Islam dapat tegak hanya melalui jalan syiar dan jalan dakwah.

Nyatanya Nabi hanya bertitel seorang Utusan yang membawa risalah agama melalui jalan dakwah, bukan seorang raja, presiden atau bahkan bukan berjabat khalifah atau sebagai imam dan sulton.

Beliau tidak meninggalkan kursi kekuasaan, tidak meninggalkan kerajaan, dan bahkan tidak meninggalkan sebuah negara dan sistem kenegaraan.

Beliau hanya meninggalkan MADINAH yang bermakna masyarakat bagsa yang majemuk penuh toleransi, di mana saat itu di Madinah tetap ada berbagai macam suku, dan tetap ada para pemeluk Yahudi dan Nasrani.

Kalau memang Islam diturunkan dan dapat tegak hanya dengan politik kekuasaan atau khilafah, tentunya Nabi dahulu yang lebih berhak menyandang status sebagai raja atau presiden. Nyatanya tidak!

--------------------------------------------

Hanya kadrun yang berpoillitik dengan cara emosi, caci maki, menebar benci dan bawa-bawa agama.

Noh liat, nyatanya setelah para ustadz jual-jual agama untuk belain Prabowo, eh dianya malah menjilat kekuasaan pada JOKOWI yang anggap ente FE KA I.

Kalau Prabowo dapat ikut mengecap manisnya kekuasaan. Lalu kini, bagaimana nasib Habib Riziek, Aa Gym, Tengku Zulkarnaen, Adi Hidayat, Bahtiar Nasir, dan bahkan nasib Abdul Somad yang secara terang-terangan mempertaruhkan kerukunam umat Islam dengan menjual ayat dan mayat.

Lalu, siapa yang kemudian siap mempertanggung jawabkan di akhirat kelak manakala umat sudah terlanjur terpecah dan saling membenci. Tidak ada lain kecuali para ulama yang ikut menebar provokasi kebencian melalui dalil-dalil dan orasi-orasi yang penuh kebencian.

Udahlah tong, kalau masih lugu, jagan ikutan maen politik dah, entar malah sakit ati.

Yuk kita tegakkan Islam lewat jalan syiar dan dakwah saja. Jangan lagi mau dikadalin dengan propaganda khilafah ala HTI. Omong kosong!

#

Selamat Hari Santri 22 Oktober 2019

Sumber : Status Facebook Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Tuesday, October 22, 2019 - 11:00
Kategori Rubrik: