Oligarki Politik Seorang JK

ilustrasi

Oleh : Dahono Prasetyo
Sosok yang satu ini menjadi luar biasa dalam berbagai era kekuasaan. Mengawali kiprah politik berlatar belakang pengusaha ibarat botol dan tutupnya. Politik dan bisnis satu paket untuk bertahan dalam tampilan elegan. Isi botol bisa berupa air, obat, minuman, bumbu, atau minuman beralkohol yang memabukkan saat diminum over dosis.
Sebut saja inisialnya JK

Lobby lintas negara seorang JK terbukti ampuh memulangkan Rijik di era pandemi yang penuh kontroversi ini. Selain pengusaha papan atas, JK dikenal politikus ulung yang mampu membawa perubahan situasi secara cepat. 
Jika kita tarik ke belakang, tahun 2004 JK sukses merebut Partai Golkar dari Akbar Tanjung dengan tujuan mendukung Partai Demokrat yang butuh tambahan suara dari partai untuk memenangkan Pemilu langsung. Hasilnya SBY-JK berhasil mengalahkan Mega-Hasyim dengan perolehan suara 60,62%. Yang mengherankan JK menjadi Capres SBY bukan atas dukungan Partai Golkar meskipun dia Ketua Umumnya. Golkar di Pemilu 2004 mendukung Capres Mega-Hasyim. JK merebut Golkar hanya butuh massa partai, tidak dengan partainya. 

Untuk urusan memecah kelompok, JK jagonya.
Mundur lagi ke belakang, tahun 2000 saat JK dipecat Gus Dur dari posisi Menteri Perindustrian dan Perdagangan bersamaan dengan Laksamana Sukardi, menteri BUMN dengan alasan keduanya terlibat KKN. Sebelum menjadi Ketua Umum Golkar, JK dikenal sebagai donatur utama partai, sedangkan Laksamana Sukardi adalah anak emasnya PDI-P. Kemarahan JK dan elite Golkar bersama PDI-P menjadi pintu gerbang pelengseran Gus Dur. 

: Untuk urusan lobby lintas Partai, JK terkenal piawai.
Kemudian di tahun 2009 saat menjabat Wapres,  JK yang tetap sarat "KKN cantiknya" menyiratkan menjadi orang nomer dua yang beraroma nomer satu. Dalam iklan kampanye Partai Golkar untuk Pemilu, JK beracting membuka kancing lengan baju, mengucapkan kalimat tantangan "Lebih Cepat Lebih Baik". SBY yang kala itu di konotasikan lamban, merasakan ancaman terselubung dari wakilnya.  Ambisi JK menjadi nomer satu memaksa SBY mendepaknya dari Wapres pada Pilpres 2009. Alhasil SBY-Budiono berhasil mengalahkan 2 Pasangan Mega-Prabowo dan JK-Wiranto dengan 60,8% suara. 

: Hal terkait ambisi, JK punya kelas tersendiri.

Pada Pemilu 2014 menjadi momen JK berkibar kembali, saat berperan memecah kongsi Mega Prabowo. Sakit hati Mega yang dikhianati Menkonya saat SBY berkuasa 2 periode, membuat Wapres JK ikut "dijauhi". JK yang kemudian selepas 2009 "dibuang" SBY lebih cenderung merapat ke Prabowo saat mengusulkan nama Jokowi pada Pilkada DKI. 

Masih ingat mengapa Prabowo enggan hadir pada pelantikan Gubernur DKI Jokowi-Ahok? JK menyimpan agenda tersembunyi menjadikan Jokowi sebagai "pesaing" Mega dalam Pilpres 2014. Bagi Prabowo yang lagi naik daun, mengalahkan Mega pada 2014 lebih mudah dibanding Jokowi. Jika Mega maju Pilpres 2014 maka Paslon Prabowo-JK menjadi ancaman serius bagi Mega, entah siapapun pasangannya.

Mega butuh dukungan partai lain sekelas Golkar jika ingin memenangkan 2014. Skenario Golkar memaksa Mega menuruti niatan JK. Merelakan Jokowi-JK maju demi mengalahkan potensi kemenangan jika terwujud pasangan Prabowo-JK. 

: Untuk atrategi "pengkhianatan politik", JK lah sutradaranya
JK yang kemudian terganjal di MK terkait UU Pemilu membuatnya tak bisa lagi mendampingi Jokowi di periode ke dua. JK yang kini sedang menyiapkan skenario baru, bagaimana 2024 gurita politik JK bisa memenangkan Pilpres. 
"Memulangkan" Rijik tidak sekedar dilihat euforianya. JK sedang menguji kesolidan massa Islam jika nantinya akan disatukan untuk mendukung Capres 2024. Menjauhkan Jokowi dari massa Islam garis keras menjadi strategi awal yang cerdas. Hingga suatu ketika, saat massa Islam terbelah, JK sudah menyiapkan si anak emas Abas untuk menyatukannya. Kemudian menjadikan Abas pahlawan yang pantas menduduki Istana tanpa perlawanan yang berarti.

Begitulah jaringan oligarki politik yang dimiliki JK, mencengkeram sejak reformasi 98. Tangan dinginnya berhasil membuat Indonesia pasang surut selama 22 tahun. Mempengaruhi banyak hal dan kepentingan dalam cita-cita tertingginya menjadi nomer satu yang belum terwujud. Usia boleh uzur, namun mengamankan "gerbong" menjadi tanggung jawabnya setiap detik. 

Siapakah JK yang hebat itu? Bagi pecinta komedian pasti kenal sosok tua yang sering dijadikan bulan-bulanan lawakan. Ya.. dialah JARWO KUWAT
Sumber : Status Facebook Dahono Prasetyo

Tuesday, March 9, 2021 - 09:15
Kategori Rubrik: