Olahraga dan Keadilan Tuhan

Oleh: Saefudin Achmad

 

Sepakbola Indonesia memang tidak membuat bangga. Timnas hanya berada di peringkat 170-an. Boro-boro masuk piala dunia, bisa juara Asia saja sesuatu yang dalam istilah nahwu disebut "tarojji" (mengharapkan sesuatu yang yang sangat sulit terwujud). Indonesia juga tidak punya pembalan moto GP yang selevel Marc Marquez atau Valentino Rossi. Pun demikian dengan dengan pembalap F-1, tidak punya pembalap yang selevel Lewis Hamilton.

Tapi Indonesia tidak pernah kekurangan pemain badminton kelas dunia di setiap generasi. Dari mulai generasi Susi Susanti, sampai Liliana Natsir. Dari generasi Alan Budi Kusuma, hingga Jonatan Crishtie dan Antoni Ginting. Belum nama-nama Marcus dan Kevin Sanjaya, serta Ahsan dan Hendra yang merajai dunia di ganda putra.

 

Jika sepak bola dikuasai negara Eropa dan Amerika Selatan, maka Basket dan Tenis dikuasai Amerika Serikat. Belum ada pemain badminton kelas dunia yang lahir dari Benua Eropa dan Amerika Selatan. Badminton dikuasai oleh negara-negara Asia seperti Jepang, China, dan Indonesia.

China dan Amerika Serikat memang sangat mendominasi di tiap olimpiade. Tapi melihat China dan Amerika Serikat bisa menjuarai Piala Dunia adalah sesuatu yang sangat sulit terjadi. China dan Amerika punya segalanya untuk bisa membuat program latihan sepak bola dengan fasilitas terbaik, serta dengan mendatangkan pelatih tebaik, tapi tetap saja sepak bola dikuasai negara Eropa dan Amerika Selatan.

Pun begitu sebaliknya. Negara-negara Eropa punya segalanya untuk mengembangkan Badminton. Tapi nyaris hanya Denmark yang berhasil melahirkan pemaian badminton kelas dunia seperti Axelsen, itupun levelnya masih di bawah pemain dari China, Jepang, dan Indonesia.

Tidak ada negara superior dalam olahraga. Tidak ada negara yang punya pemain sepakbola terbaik dunia, sekaligus pemain badminton, tenis, basket, moto GP, F-1. Uang dan teknologi terakhir pun tidak mampu 'membeli' olahraga. Masing-masing negara punya keunggulan di cabang olahraga yang khas. Ada banyak hal yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah mengapa sepakbola maju di Eropa dan Amerika Selatan, Badminton di negara-negara Asia, dan Basket serta Tenis di Amerika Serikat.

Melihat fenomena ini, jika direnungkan lebih dalam, hal ini menjadi bukti keadilan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan manusia-manusia super di bidang olahraga hanya ada di sebuah negara. Orang-orang super ini tersebar di berbagai belahan dunia. 

So, tak perlu berkecil hati timnas Indonesia tidak punya prestasi yang mendunia, kita punya pemain-pemain badminton kelas dunia yang tak dimiliki negara lain.

 

(Sumber: Facebook Saefudin Achmad)

Monday, December 16, 2019 - 15:30
Kategori Rubrik: