Ocehan Trump Kemenangan Soros?

Ilustrasi

Oleh : Fadly Abu Zayyan

Ada yang menarik dari reaksi Trump atas hasil voting Resolusi PBB terkait klaim AS atas Jerussalem sebagai ibukota Palestina. Trump sangat kecewa karena merasa ditinggal sekutu-sekutunya. Tidak cukup disitu, bahkan dia terang-terangan akan menghentikan aliran dana bagi mereka. Nah lo!

Dalam ocehannya, Trump menyebutkan bahwa selama ini mereka telah menerima "bantuan" dari AS dengan nilai yang tidak sedikit. Bukan sekedar ratusan juta, tapi mencapai milliaran USD. Baik berupa dana ataupun persenjataan (militer). Nah lo lagi!

Bagi saya ini adalah fenomena yang sangat menarik. Disaat kaum Zionis Sawo Matang (ZSM) giat membangun serta menyebarkan opini bahwa ada alasan yang "wajar" juga seakan masuk akal atas pendudukan Israel terhadap Palestina, justru negara-negara sekutu yang jelas menerima aliran dana dengan nilai fantastis dari AS malah tidak berani berada dalam satu barisan menolak hasil resolusi di forum PBB itu. Mudah-mudahan kaum ZSM yang disini sekedar ikut-ikutan dan latah saja. Serta tidak kecipratan bantuan dari Zionis atau sekutunya. Husnudhon sajalah!

Masih ingatkah kita bagaimana sikap Saudi, Mesir dan UEA atas bocoran data adanya aliran dana dari Qatar terhadap organisasi teroris? Trio boneka ini langsung acting mencak-mencak mengecam bahkan memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar. Hmm.., mungkin pikir mereka saat itu mumpung ada kambing hitam. Padahal bocoran itu untuk memancing reaksi mereka. Dan ibaratnya, Qatar bukanlah pendana utama. Melainkan hanya membayar "uang keamanan" agar tidak diganggu oleh keberingasan geng ISIS dkk. Beda cerita ketika dikemudian hari saat OKI mengecam klaim Amerika atas Jerussalem, tiga negara itu diam seribu bahasa seperti anak kecil yang takut dijewer kupingnya jika sampai salah mengambil sikap. Tapi mengapa saat di forum PBB kemarin, mereka berbalik arah mencari selamat sendiri bahkan berani mengkhianati tuannya (AS). Sungguh nggilani! Lebih nggilani lagi, saat saudaranya (Palestina, Yaman dan dulu Suriah) hidup bergelimang darah dan air mata, mereka justru enak-enakan hidup bergelimang harta!

Dalam pandangan saya, perubahan sikap ini bisa menjadi parameter dimana Rezim Transparansi Keuangan Global sudah efektif bekerja. Dimana dulu segala sesuatu didunia ini (bahkan Agama) dapat dibeli, kini ruang geraknya sudah mulai terbatasi. Ketika dulu dengan mudahnya kelompok-kelompok radikal dibentuk dan mendapatkan aliran dana bahkan bantuan senjata dari negara sponsor, kini mulai terbatasi bahkan "ditelanjangi". Terbukti, sejak kesepakatan transparansi keuangan ditanda tangani, satu persatu mereka mulai dari al Qaeda, al Nusra, ISIS dll kini gulung tikar.

Kini modus "bantuan" serupa kepada negara-negara sekutu (termasuk di Arab) sebagaimana yang diucapkan oleh ocehan emosi Trump juga turut terdeteksi. Inilah yang bisa jadi membuat mereka berubah haluan dan mencari selamat sendiri. Walaupun dana bantuan itu terlanjur "dikantongi". Oalah! Ketilep ya Trump? Tambah jengkel sama Soros ya? Orang yang kamu tuduh sebagai teroris karena turut mensponsori terciptanya Rezim Transparansi Global hingga mampu menelanjangi dan membuka topeng berbagai negara di muka bumi? Eks anggota Freemason "tobat" yang mengetahui rahasia dan kemudian melawan konco-konconya sendiri. Sosok yang dulunya "serakah" tapi kemudian berubah menjadi humanis pasca bertemu dan berbicara dengan Gus Dur pada 2006 silam. Dimana setelahnya, membuatnya mengerti dan memahami betapa luhurnya nilai-nilai kemanusiaan. Dan akhirnya, berujung pada perseteruan dua pentolan Yahudi: Rothschild VS Soros! Ironisnya, justru terdapat segelintir pemimpin Muslim malah memilih menjadi boneka dan bermuka dua. Sementara umatnya menjadi buih-buih!

Wallahu a'lam bi shawab..

*FAZ*

Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan

Saturday, December 23, 2017 - 22:00
Kategori Rubrik: