Obrolan tentang Salam

 

Oleh: Eko Kuntadhi

Ada teman yang menasehati tentang ucapan salam. "Mengucapkan salam itu hukumnya sunah. Menjawabnya wajib,' kata teman saya.

 

Maksudnya?

"Jika ada orang mengucaokan Assalamualaikum, lalu kita gak mau menjawab. Kita dosa," ujarnya lagi.

Abu Kumkum nanya. "Kalau dia mengucapkan 'salam sejahtera. Semoga Tuhan memberkatimu', itu wajib dijawab gak?"

"Gak wajib. Kecuali dia bilang Assalamualaikum?"

"Jadi kamu hanya mau menjawab yang berbahasa arab saja?"

"Begitulah?"

"Sebetulnya yang ingin diajarkan.kenjeng Nabi akhlak tentang keramahan kepada sesama atau hanya ramah dengan yang bahasa aran saja?"

"Tapi pengertian agamanya begitu."

"Kalau ada orang bilang 'salam sejahtera untukmu', terus kamu cuek gak jawab. Apa bukan terkesan kamu sombong?"

"Bukannya mau sombong. Tapi gak wajib dijawab."

"Jadi agama mengajarkan kamu sombong? Tinggi hati? Kamu yakin kamjeng Rasul mengajarkan umatnya untuk sombong dan tinggi hati?"

"Gak gitu, Kum. Rasul diturunkan untuk memperbaiki akhlak manusia..."

"Kalau gitu, pasti Kanjeng Rasul memerintahkan kita membalas salam. Membalas keramahan semua orang juga dengan keramahan. Jikapun salamnya menggunakan bahasa lain juga harus dibalas. Itulah yang dinamakan akhlak."

"Tapi, kum..."

Aku yang dari tadi mendengar obrolan Kumkum dan temannya, senyam senyum sendiri. Kumkum memahami makna menjawab salam jauh lebih dalam ketimbang temannya yang hanya berputar pada teks. 

Ada satu kisah. Rasulullah pernah menegur sahabat yang gamisnya berpanjang-panjang. Saat itu, memanjangkan gamis atau pakaian adalah bentuk kesombongan. Maksudnya mau gaya. 

Sebetulnya sampai sekarang. Pakaian para raja biasanya nyengser terkewer-kewer sampai panjang. Hal itu untuk menunjukan kebesaran. Ada kesan sombong dengan pakaian itu.

Rasul menegur dia agar memendekkan gamisnya. Maksudnya agar para sahabat tidak bersombong-sombong dengan pakaiannya. Memendekkan pakaian agar terhindar dari kesombongan.

Tapi apa yang ditangkap sebagian orang sekarang? Pakaian kependekan adalah sunnah. Jadilah orang berebut pakai celana cingkrang.

Ini memang lucu. Makna teguran Nabi agar tidak bersombong-aombong dihilangkan. Yang diingat cuma saran kanjeng Nabi untuk memendekkan celana. Padahal kalaupun dulu kesombongan ditampilkan dengan gamis yang kependekan, pasti itu yang ditglegur. Sebab Rasul mengajarkan umatnya agar tidak sombong. Bukan mengurus soal pakaian.

Jika memendekkan celana lalu keluar sifat sombong, bahwa dia paling beragama dibanding yang lainnya. Ya, sama saja. 

Kita sepakat kenjeng Rasul diturunkan untuk memperbaiki akhlak. Perbaiki perilaku. Menjauhkan kesombongan. Bukan mempersoalkan ukuran celana.

Rasul juga memerintahkan menjawab salam agar kita beretika. Masa ada orang menunjukan keramahan kita malah melengos? 

"Mas, bayarin kopinya, ya. Salam lekum?," Abu Kumkum nyolek saya. Dia bangkit dari duduknya. Terus ngeloyor.

Kalau mendengar permintaan kayak ini, saya boleh melengos gak sih?

 
(Sumber: Facebook Eko Kuntadhi)
Friday, November 15, 2019 - 09:15
Kategori Rubrik: