Obrolan Tentang Presiden

Oleh: Dahono Prasetyo

 

Awal topik dialog mereka tak begitu menarik buatku. Di ujung pembicaraan yang kutangkap hanya seputar kondisi Jakarta yang macet di mana mana. 3 orang seumuranku duduk santai seusai shalat Dhuhur di masjid kawasan Pasar Senen. Yang seorang berkaca mata kupastikan PNS dari seragam yang dikenakannya. Yang seorang berbadan gemuk memakai kopiah, kutebak salah satu pedagang tak jauh dari masjid tersebut. Dan yang seorang lagi berbadan kurus tinggi berjenggot tanggung kuperkirakan seorang sales atau pegawai swasta dengan tas laptop tergantung di pundaknya.

Jarak mereka ngobrol lesehan di pelataran masjid hanya 3 meter dari tempatku duduk bersandar di tiang masjid sambil menjawab beberapa chat WA. Mereka berbicara akrab barangkali memang sudah kenal lama. Membicarakan situasi Jakarta bisa siapa saja dan dimanapun tak habis dikupas dari kaca mata apapun. Namun mendadak kepalaku terpaksa menengok gegara salah seorang menyebut nama Jokowi.

 

 

"Presiden sekarang tambah parah, kerjaannya keliling dunia cari utangan. Siapa juga nanti yang bayar kalau bukan kita kita?" kata seseorang yang kutebak sales itu.

"Ane juga heran, orang ngritik ngomongin die di medsos malah ditangkep tangkepin. Udah kayak jaman Firaun aje" sambung lelaki gemuk berbaju gamis berlogat betawi itu.

"Itulah resikonya kalau Presiden dari Sipil" sahut yang berseragam PNS sambil memandang jalan raya di depan. Sekilas sempat memandangku yang sedang berkerut jidat nguping pembicaraan mereka.
Tak butuh berfikir panjang untuk menemukan kalimat kesimpulan. Kuputuskan mendekati mereka.
"Boleh ikut koment ngobrol nggak bung?" pertanyaanku yang tak butuh jawaban medadak mengagetkan ramah tamah mereka.
"Sayapun sama seperti bapak bapak bertiga. Punya harapan tinggi yang tak kesampaian kepada Presiden. Yang membedakan hanya saya lebih bersyukur negara kita masih bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan Negara Syariah Indonesia atau Negara Komunis Indonesia." lanjutku sambil memandang keheranan mereka satu persatu.
"Hey anda siapa berani beraninya menyela?" seru seseorang yang kuduga sales sambil beringsut mendekatiku.
"Saya warga negara Indonesia sah yang mencari penghidupan di negeri ini. Yang berfikir optimis pada proses perbaikan negeri ini ke arah lebih baik. Selamat siang. Saya lanjut duluan pak" pamitku sambil ngeloyor jalan keluar masjid tak peduli api geram 3 lelaki yang menjelang meletus. Di trotoar depan halaman masjid sempat kulihat si terduga sales dan PNS berdiri menggerutu menunjuk tangan padaku. Entah apa yang dibicarakan. Hanya si terduga pedagang gemuk yang masih duduk tak beringsut posisinya. Alis dan bibirnya terlihat sabar. Barangkali dia faham kalimat "isengku" tadi dibanding 2 kawannya. Itupun baru sangka baikku.

Di dalam busway, di sela ketiak lengan berpegangan handle, kuputar lagi rekaman kejadian "insiden" idealis tadi. Sedikit menyesali apa yang terpaksa aku lakukan. Aku jarang bisa mengontrol idealisme yang bertemu otak latah. Tidak di sosmed, masjid atau halte trotoar, aku seperti menemu banyak seteru isi kepala. Mereka yang menggelisahkan keadaan berbaur dengan mereka yang menambah beban sendiri dengan cara menggerutu.

Ibarat pepatah : Banyak jalan mendaki menuju puncak gunung. Semuanya sama menuju ke atas. Pilihlah jalan salah satunya dan lakukanlah. Itu lebih baik daripada berjalan mondar mandir di kaki gunung sibuk menakut nakuti pendaki yang ingin pergi ke puncak.

Faham ya son? Bukan FaHam = Fahry Hamsyah.

Depok 011117

 

(Sumber: Facebook Dahono Prasetyo)

Friday, November 3, 2017 - 01:00
Kategori Rubrik: