Obrolan Singkat Korupsi Warung Kopi Pagi Ini

Ilustrasi

Oleh : Ainur Rofiq Al Amin

Kalau seminggu lalu saya naik bis dengan untel-untelan, maka pagi ini beda, longgar.

Dari Tambakberas saya jalan kaki ke gerbang pondok untuk nyegat bis yang lewat tol, eh kok belum nongol itu bis yang lewat tol. Maka saya jalan ke selatan menuju perempatan Sambong untuk cari bis yang lewat bawah (bukan tol). Saya dapat bis jarak jauh yang mau balik kandang sehingga kosong dan tentu bisa senden/ndeglek.

Turun di PLN Waru, Sidoarjo, saya langsung cari warung nasbung langganan. Memilih nasbung yang lauk terong-teri, sungguh nikmat hehe, lebih nikmat makan di hotel. Oh ya, warung langganan ini dulu ramai kalau pagi, tapi sekarang agak sepi. Mungkin karena banyak orang yang lebih suka lewat jalan baru ya?

Sambil makan nasbung (tapi bukan nasbung hasil demo lho hehe) plus ngopi, saya mengikuti percakapan para warungers (pelanggan warung). Pagi ini nampaknya mereka bicara tentang korupsi.

Sebut saja pelanggan warung namanya si A berkata: "Mereka sudah kaya, tapi masih doyan makan uang negara." Saya gak ngerti ini ditujukan kepada koruptor yang mana.

Lalu si B menyahuti dengan menyebut bupati dari kabupaten tertentu: "Dia (si bupati) itu punya dum truk 300 an buah. Tak doakan segera ditangkap." Saya juga tidak paham apa bupati yang disebut itu betul punya banyak truk.

Ada juga yang nyentil, sebut saja si C: "Mereka ketangkap karena ada yang lapor. Kenapa lapor, sebab pembagian tidak rata." Saya juga ndak paham apa benar karena pembagian gak rata akhirnya ada yang lapor, boleh ya boleh tidak hehe...

Kesimpulannya, kawulo alit sudah banyak tahu tingkah polah elit, dan mereka orang mustadhafin yang harus kita takuti doanya.

Sumber : Status Facebook Ainur Rofiq Al Amin

Friday, January 17, 2020 - 10:45
Kategori Rubrik: