Nyesel Pilih Anies- Sandi

Oleh : Jumrana Sukisman

Saya bertemu dengan seorang teman dr Jakarta, lama tdk berjumpa kami ngobrol panjang. Mulai dr kabar keluarga masing-masing, pekerjaan, hingga soal politik

Dulu, dia ini pendukung Anies Sandi. Dan ngefans sama Prabowo. Saya nanya, " apa kabar Jakarta?" dia menjawab sambil mesem, "tambah kacau"...

Menurutnya, Jakarta di tangan Anies Sandi nengalami kemunduran. Pemerintahan di Jakarta spt autopilot, gubernur dan wakilnya spt tak tau tugas dan fungsinya. Jakarta semakin kotor dan kumuh di banyak tempat akibat pengurangan tenaga kebersihan. Kebijakan di Tanah abang dan PKL yg salah, akhirnya PKL menjamur lagi bahkan d tempat2-strategis. Banyak lahan parkir yg dulu dikelola profesional dan menghasilkan PAD Jakarta kini dikuasai preman. Belum lg masalah transparansi anggaran. Dulu jamannya Ahok (katanya lambat2) kita bisa mengawasi penggunaan anggaran melalui website DKI. di situ laporannya jelas dan clear. APBD selalu bersisa banyak dan dikembalikan k kas negara tapi kita merasakan bamyak perubahan positif . Sekarangi? APBD yg banyak itu habis tp tdk ada pembangunan yg berarti. Gubernur dan Wakil Gubernurnya malah jalan-jalan keluar negri tapi hasil kunjungan ke luar negri jg tdk jelas. Banyak... sangat banyak kebijakannya yg mengecewakan padahal belum setahun jd Gubernur. Harga rusuh sederhana yg jaman Ahok hanya 300 ribu naik sampai 6 kali lipat. KJP yg dikurangi dan tersendat.

"Lu tau nggak", katanya,.... "dulu gw pilih krn isu reklamasi, katanya mo dihentikan, tdk taunya diam2 dia ngeluarin Pergub utk melanjutkan reklamasi. Yang bikin gw sesek, sistem smart city Jakarta udah nggak jalan kayak dulu lagi. Padahal itu dibuat mahal loh. Dulu kita bisa laporan klo ada yg nggak beres di wilayah dan langsung ada tuh yg dateng menangani"...-dia menarik nafas panjang..., "gw nyesel milih dia pas pilkada"..

"Ngomong-ngomong, pilpres nanti, lu milih siapa? tanyku

"Belon tau, tapi klo ada dr kesatuan yg jd capres gw pilih itu"...

"Emang jokowi nggak bagus ya?"

"Bagus sih, pembangunan merata d seluruh Indonesia. Terasa banget perubahannya dan iklim investasi sangat baik.Tapi negara itu yg penting stabilitas politiknya, keamanan dan pertahanannya harus kuat. Sekarang banyak kaum radikalis, sering ada teror, negara gaduh terus. ini bagaimana mau membangun kalo begini. Kita butuh pemimpin yg tegas, keras, supaya kaum radikal itu ditangkap semua, teroris dan org2 yg mendukungnya ditembak mati, dan orang-orang yg suka gaduh itu, pasti diam, mrk tdk akan berani. Kita butuh tentara yg menjadi presiden.

Loh sebelumnya, 10 tahun kita dipimpin seorang purnawirawan jenderal, dan apa yg terjadi? radikalisme dan intoleransi tumbuh subur, klp anti pancasila dibiarkan berkembang. Tau nggak siapa yg bikin gaduh saat ini? karena, ada mantan jenderal yg nggak terima kalah pilpres, tdk punya jiwa negarawan, tapi malah sibuk mengeluarkan statemen kontraproduktif. Yg pendukungnya sangat berisik dan suka menyebarkan hoax dan ujaran kebencian.

Temanku terdiam lama.... dan jawabannya singkat dan hanya satu.. , "IYA".

Setelah itu, kami tdk membicarakan politik, saya bercerita tentang MAFINDO dia beecerita tentang hobi barunya, membuat art work.

 

Sumber : facebook Jumrana Sukisman

Tuesday, July 17, 2018 - 15:15
Kategori Rubrik: