Nyawa

Oleh: Alois Wisnuhardana

 
Pernah terjadi, seorang tukang elpiji terlindas truk di ruas jalan ini. Mati di tempat peristiwa detik itu juga. Tulang punggung seluruh keluarga pun patah seketika. Kejadian di waktu yang lain, seorang pelajar SMA juga harus meregang nyawa karena tertabrak truk. Satu benih masa depan pun melayang.
 
Ada juga cerita lebih memilukan. Sepasang calon pengantin mengalami kecelakaan, dan keduanya meninggal seketika. Mereka pun merayakan pernikahan di surga, diiringi tangis kerabat mereka di bumi fana. Yang tak kalah menyedihkan, ada seorang calon pengantin perempuan, hendak berbelanja kain pengantin di kota, lalu mengalami celaka dan meninggal. Sang kekasih pun sedih tiada terkira.
 
 
 
Kecelakaan di ruas jalan antarkota di Sumatera Utara memang tergolong tinggi. Lalu lintas di mana truk-truk pembawa muatan hasil kebun, hasil hutan, dan barang-barang kebutuhan sehari-hari, berbagi jalan yang sama, saling berebut berkejaran. 
 
Tahun 2015 saja, 27 orang mati sia-sia di jalan raya Sumut. Tahun berikutnya, sedikit turun tapi masih di angka 20 orang. Sementara pada tahun 2017, angkanya sudah naik lagi.
 
Jalan penghubung antarkota di Sumut paling sibuk, tentu saja adalah jalan dari Medan-Tebing Tinggi, yang kemudian terpecah menuju Pematang Siantar atau Riau. Ruas Medan-Tebing Tinggi itu, orang menyebutnya jalur neraka. Di ruas ini, kampung sudah sambung-menyambung, desa sudah saling berhimpit, sehingga orang lalu lalang dari pagi terang hingga malam penuh bintang datang.
 
Jika tidak ada alternatif, jalur neraka akan semakin menakutkan. Jalan tol adalah salah satu jawabannya. 
 
Namun orang sering berpikiran pendek, bahwa jalan tol itu cuma menguntungkan orang-orang bermobil. Mereka inilah yang dianggap penikmat utama --bahkan satu-satunya-- atas adanya jalan tol.
 
Jalan tol Medan-Tebing Tinggi yang sudah diresmikan Presiden Joko Widodo Oktober 2017 lalu adalah kunci pengurai jalur neraka tadi. Sudah bertahun-tahun jalur ini direncanakan dibangun karena kemendesakannya, terutama dari sisi ekonomi, dan baru selesai akhir tahun lalu. 
 
Yang tak kelihatan selain urusan ekonomi adalah, jalan tol ini diperhitungkan dapat menjadi penghapus citra buruk ruas Medan-Tebing Tinggi sebagai jalur neraka. 
 
Selama ini, truk-truk yang melintas jalur lintas Sumatera itu memang dikenal sebagai raja jalanan. Dengan adanya jalan tol ini, beban jalan antarprovinsi itu akan berkurang, sehingga kecelakaan juga dipastikan akan berkurang. Bagi supir truk, jalan tol yang sekarang sudah mencapai Sei Rampah dan tahun ini akan selesai sampai Tebing Tinggi, akan menyingkat waktu tempuh dan ongkos perjalanan para supir.
 
Tapi yang jauh lebih penting, nyawa yang sering terenggut sia-sia di jalanan ini juga akan lebih berharga. Kisah-kisah pilu tentang kematian yang selalu menyedihkan semoga tak lagi terumbar. Kematian di jalan, meski adalah tragedi kemanusiaan, seringkali sekadar dikumpulkan dan dicatat sebagai angka dan statistik. 
 
Jalan tol, pada sebagian tempat, seperti jalur Medan-Tebing Tinggi ini, tampaknya memang bukan semata-mata urusan suatu jalan berbayar yang hanya dinikmati oleh kaum bermobil, seperti yang dikritik seorang anak muda berjaket kuning tempo hari. 
 
Jalan tol itu, semoga memang bisa menjadi pemupus kisah-kisah pilu, yang selama ini beterbangan nyaris setiap minggu, diwarnai tangis sedan sedu dan jerit bertalu-talu.
Sunday, February 18, 2018 - 22:15
Kategori Rubrik: