Nyala Seorang La Nyalla

Ilustrasi

Oleh : Budi Setiawan

La Nyala marah menyala-nyala dikadalin Gerindra. Dia muntahkan semua unek-uneknya. Mulai dari Prabowo yang marah-marah hingga sebagai La Nyala dia merasa terhina. Sang Daeng yang logat Bugisnya sudah habis itu juga menceritakan betapa Gerindra memerasnya tapi hanya diberikan janji palsu bahkan nyaris ditipu.

Sebagai pengusaha kaya, dia bilang gak masalah 300 Milyar sudah disiapkan dan langsung dicairkan jika dia jadi Gubernur Jawa Timur. Persekotnya sebanyak 40 Milyar bakal dikasih jika keluar rekomendasi dari Gerindra. Tapi nyatanya bohong belaka. Gerinda pilih dukung calon lain dan La Nyala ditinggal. Dicampakkan. Meskipun sudah keluar uang milyaran.

La Nyala tidak hanya “membakar” markas Hambalang yang dia bilang 08. Dia juga mendesak agar alumni 212 jangan pilih Gerindra karena sudah berkhianat dan melecehkan amanat dari yang mereka sebut sebagai ulama. Al Kotot , pentolan 212 yang juga muncul dukung Hari Tanu tempo hari, lebih lanjut membongkar konspirasi politik yang menggunakan sentimen Islam sebagai kuda tunggangan.

Si Kotot bilang ulama mereka mengatakan titik fokus pemenangan dengan kopi paste skenario tumbangnya Ahok adalah di lima daerah, termasuk Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sumatra Utara. Dia juga bilang hanya karena 212 berkontribusi banyak kepada Gerindra, Pilkada Jakarta bisa dimenangkan. Jadi penolakan Gerindra adalah penghianatan.

Pengakuan La Nyala dan Al Kotot patut disyukuri bahwa kebusukan aksi 212 justru dibuka oleh para pelakunya sendiri. Dengan demikian, isu agama dan teknik menumbangkan Ahok bakal kehilangan daya rusaknya hingga gampang diredam dalam Pilkada tahun ini yang berlanjut ke pemilihan Presiden 2019. Jadi siapapun yang menggunakan isu agama pasti akan segera dihujat karena biang keroknya sudah ketahuan dan ngaku sendiri akan kebusukannya.

Drama La Nyala ini makin membuat terang benderang bahwa Islam hanya dijadikan tunggangan politik oleh para broker. Bodohnya mereka yang ikut 212 termakan jargon-jargon bela Islam. Bahkan ada yang sampai gempor jalan kaki dari Ciamis dan hanya diberikan sebutan Mujahid setelah itu ditinggalkan. Nampak jelas bagi pendukung 212 bahwa mereka tidak lebih dari laron-laron penggembira yang terperdaya.

212 bukan bela Islam. Tapi gerakan pembohongan dan pembodohan yang membajak nama Islam.

Gak percaya ?
Tanya La Nyala…
Dah jontor dia..

Sumber : Status facebook Budi Setiawan dengan judul asli Lah Jontor

Friday, January 12, 2018 - 14:15
Kategori Rubrik: