Nur Sugik tak Layak Dipanggil Gus

ilustrasi

Oleh : Alexander Sakura

Orang ini aneh bisa menyandang gelar "Gus", meskipun bukan anak kyai. Dan yang paling nggegirisi, dia tidak pernah belajar agama secara khusus, bodoh dalam arti sebenarnya. Karena konon, sekolah formalnya pun tak lulus SD. Nur Sugik bukan ustadz, apalagi kyai. Nur Sugik tak pernah ngaji secara serius. Pemahaman agamanya acak adut. Tidak jarang dia menafsirkan ayat Al-Qur’an secara sembrono.

Nur Sugik juga bukan anak kyai, jadi berhentilah memanggil dia dengan sebutan “Gus’, karena bukan putera kyai, dan tidak pernah mondok di pesantren manapun yang artinya bukan “Gus”, alias “Gus Abal-Abal” atau “Gus KW 12”. Dia cuma mantan pemain debus. Celakanya banyak masyarakat kita yang cenderung menyukai orang-orang dengan sistem ceramah yang cenderung kasar dan dibumbui tabiat bersebrangan dengan pemerintah atau ormas keagamaan yang lain.

Modal baju gamis dan kopiah putih serta hadis dan ayat Al-Qur’an sedikit2 jadilah dia menasbihkan diri seorang dai. Brand yang dia bangun adalah sosok pemberani, maka tak ayal para pengikut FPI begitu memujanya, tak ketinggalan para kadrun yang cètèk ilmu ikut gila. Meskipun ceramahnya kasar dan sama sekali tidak pantas keluar dari mulut seorang dai tapi buat pengikutnya tak soal. Malah mereka jumpalitan senang. Ketahuan karakter kadrun kan suka yang terbalik bukan?

Dia konsisten menjek-jelekkan Presiden Jokowi dan pendukungnya di setiap ceramahnya dengan dibumbuhi kata-kata kasar seperti ‘jancuk”. Ketika amanah (agama) dipasrahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah masa kehancurannya.

https://www.google.com/…/yang-meresahkan-bukan-habib-b…/amp/

Sumber : Status Facebook Alexander Sakura

Friday, May 22, 2020 - 00:00
Kategori Rubrik: