Nur Latifa, Saksi BPN Tidak Tahu Yang Dicoblos Capres Nomor Berapa

ilustrasi

Oleh : Nurul Indra

Nur Latifa, saksi BPN di sidang MK membuat opini bahwa petugas KPPS mencoblos 15 surat suara di TPS daerah Boyolali. Di persidangan, ia menyampaikan fakta :

1. Di desa itu ada kesepakatan, pemilih yang tidak mampu mencoblos karena keterbatasan fisik (manula misalnya) akan dibantu anggota KPPS. Surat suaranya akan dicobloskan. Hal ini diketahuinya dari warga setempat.

2. Nur Latifa tidak bisa memastikan teknisnya seperti apa. Apakah petugas menanyakan terlebih dahulu kepada si pemilih, akan mencoblos siapa, dia tidak bisa memastikan.

3. Nur Latifa menyebut ada 15 pemilih yang dibantu petugas KPPS mencoblos surat suaranya. Usianya beragam, paling muda menurutnya usia 25-an.

4. Nur Latifa menyaksikan itu dari sisi kursi saksi.

5. Nur Latifa tidak tahu, petugas KPPS yang disebut bernama Komri itu mencoblos nomor berapa untuk pemilih tersebut.

6. Ia mengaku menerima ancaman setelah viddo viral terkait kesaksiannya di TPS, 2 hari setelah pilpres.

7. Tetapi, ancaman itu tidak didengarnya sendiri. Ia tahu ancaman itu dari temannya.

Kesimpulan :

Petugas KPPS di Boyolali mencoblos sejumlah surat suara di TPS dalam rangka membantu pemilih yang tidak bisa mencoblos sendiri. Tidak diketahui ia mencoblos nomor berapa.

Artinya, kesaksiannya itu tidak membuktikan adanya kecurangan di TPS itu.

Nur Latifa diancam terkait video viralnya tentang kejadian petugas KPPS membantu pemilih mencoblos surat suara. Bukan terkait perannya sebagai saksi di sidang MK.

#catatanSidangMK
#nurulindra

Sumber : Status Facebook Nurul Indra

Wednesday, June 19, 2019 - 20:00
Kategori Rubrik: