NU, You Rock Bro!!!

ilustrasi

Oleh : Chitra Retna S

Kafir itu..

..yang menolak keadilan sosial seperti redistribusi tanah.

Dua hari lalu kabar sejuk itu berhembus. NU dalam Sidang Bahtsul Masail mengeluarkan beberapa pernyataan mengejutkan, salah satunya tentang kata "kafir".

Bahwa terminologi kafir mengandung kekerasan teologis. Maknanya mengeras ke arah: kami yang paling benar, kalian salah, kalian dapat label kafir. Karena itu lebih baik dihapuskan dalam perbincangan sehari-hari. Pakai term Muwathinun saja, warga negara, term yang merujuk pada "semua setara".

You rock, bro!

NU tampak begitu maju dalam hal discourse (wacana). Menyatakan "kekerasan teologis" artinya NU memahami bahwa penafsiran, sekali lagi, PENAFSIRAN, ajaran agama dalam suatu konteks sosial tertentu bisa melahirkan masalah. Gak ada yang salah dengan teks-nya, tapi penafsirannya dalam setting konteks tertentu bisa sangat masalah. Pejoratif. Dan NU melangkah maju dengan mengusulkan reinterpretasi teks secara progresif: jangan lagi pakai kata kafir, semua muwathinun, citizen yang setara. Penyebutan kata muwathinun juga sinyal bagaimana NU konsisten menangkap perkembangan pemikiran, konsep citizenship: semua setara didepan hukum/negara.

Di ujung sana Ketua Pemuda Muhamadiyah cak Nanto - iya ketua yang "sekarang", if you know with who I am comparing - mengeluarkan pernyataan cerdas lainnya: setuju, ini perdebatan nilai dan kultur, asal jangan dibirokrasikan (dilembagakan seperti jadi peraturan negara dsb), karena akan ada yang semakin "mengeras" kalau dibirokrasikan.

Di sudut lain yai Cirebon kesayangan Husein Muhammad menulis: kata kafir bukan lagi merujuk pada komunitas diluar komunitas agamanya, tapi menyitir ulama Esgar Ali Engineer, kata kafir lebih tepat dinisbahkan pada mereka yang menolak sifat "Ilahi", menolak masyarakat yang adil, egaliter dan bebas dari setiap bentuk penindasan. Seperti pada mereka yang menolak redistribusi tanah untuk keadilan. Yai satu ini ada di garda depan mereka-mereka yang mendorong reinterpretasi Qur'an dan Hadist agar berkeadilan, melawan penafsiran literalis berujung pada ketidak-adilan (khususnya perempuan) seperti pada kasus nikah, cerai, talak, waris, kepemimpinan, female genital mutilation, kerja, nikah muda dsb. Mereka2 yang berani menentang arus tafsir konservatif, mendasarkan pada ilmu evidence-based dan konteks, untuk mencari tafsir yang adil.

Ini ruang perebutan makna. Setidaknya, setidaknya banget, kalau ada orang yang bilang "kafir" seenaknya di depan publik, orang-orang lain di sekitarnya akan mendelik dan mengingatkan. Kalau ada pengajar TPA mengajari anak-anak TPA tepuk kafir, ibu-ibu tercerahkan di sekitarnya akan protes. Kalau ada sekolah-sekolah yang mengajarkan kata ini sehari-hari, ortu-ortu akan mengirimkan sinyal protes atau tidak mau menyekolahkan anaknya disana. Perebutan makna terjadi di ruang-ruang sehari-hari. Dan ini perdebatan sehat, tanda bahwa memaknai Islam itu tidak tunggal dan letter lek, kamu pilih penafsiran, saya pilih penafsiran, mari kita debat dengan damai.

NU, you rock bro!

Sumber : Status Facebook Chitra Retna S

Saturday, March 2, 2019 - 22:30
Kategori Rubrik: