NU Siluman

ilustrasi

Oleh : Ahmad Tsauri

Selalu membawa statusnya sebagai pengurus NU, tapi tidak pernah mebela NU. Jelas tidak memahami alur berpikir NU. Tapi masa ia sesimpel itu gak paham. Kalau selalu beroposisi dengan PBNU, apa mungkin sebaiknya ikut ormas lain saja.

Katanya hujahnya lemah, tidak layak dijadikan dalil. Secara tidak langsung menuduh para kiyai dilevel pengurus Besar tidak kompeten. Sekaliber KH. Afifudin, Prof. DR. Machasin, KH. Dr. Maemon Abdul Ghogur, Dr. KH. Moqshit Ghazali dll. Belum jajaran ulama khos dibelakangnya.

Ceto woro-woro, yang dibahas Kafir dalam kontruks negara bukan aqidah teologi. Kalau aqidah jelas, diluar Islam Kafir. Tapi kalau dalam negara agama, kafir ada 4, harbiy, dzimiy, muahad dan musta'man.

Non muslim di Indonesia tidak masuk kedalam 4 kategori itu. Jadi kategorinya warga negara saja. Masa begitu saja tidak paham.

Lagian kontroversi apa? Yang nyerang dan tidak setuju kan mereka semua yang dibelakang Prabowo, HTI, FPI, NU GL (FPI ngaku2 NU). Ngapain diurusin. Bukan membantu menjelaskan malah menyalahkan PBNU. Kenapa selalu membela mereka dan menyudutkan NU.

Di daerah memang ada kecenderungan, ada tokoh diberi tempat di Syuriah NU. Padahal tidak punya latar belakang berkiprah di NU. Ujug-ujug langsung Syuriah NU. Sebaiknya yang menjadi pejabat teras NU di semua level, harus punya track record dari level bawah.

Meskipun tidak alim, gak bisa baca kitab, tapi minimal tidak menjadi benalu. Duduk di kepengurusan NU bukan membantu menjelaskan konstruksi berpikir dan 'ijtihad' Ulama NU, malah menyalah-nyalahkan.

Kalau merasa levelnya pengurus, kenapa gak tanya langsung saja ke pejabat teras PBNU. Call bisa , WA bisa, inbox fb bisa, datang langsung ke pengurus-pengurus NU bisa, ke Kramat raya langsung tiap hari terbuka. Kenapa harus ribut di Twitter. Ribut dimedsos kelasnya kami, santri, penggembira, bukan selevel Syuriah PCNU.

Miris.

Sumber : Status Facebook Ahmad Tsauri

Monday, March 4, 2019 - 07:45
Kategori Rubrik: