NU, Neno Dan Pepes Karawang

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

(Selama Ini Kita Nyembah Siapa Ya . . . ? 

Millenial Swing-Voters . . .

Pernah dengar doa mBak Neno dalam acara munajat 212, tempohari di Lapangan Monas ? Doa ini menyitir salah satu hadits, asbabul-wurudnya, riwayat munculnya hadits, karena Perang Badar.

Pasukan Muslim cuma sedikit, sepertiganya. 'Kendaraan' perang pun minim. Kuda cuma 2, onta 70. Quraish punya kuda 100 dan 170 onta. Dengan strategi perang apapun, ndak mungkin menang. Nurut logika . . .

Makanya Nabi (Muhammad) berdoa. Mohon pertolongan pada Tuhannya, Allah. Jika hari itu pasukan Islam tumpas, ludes pula para 'abdi'Nya. Penyembah-Nya.

Yang berdoa, nurut hadits itu, Muhammad, Rasulullah. Utusan Allah. Dan musuh yang dihadapi 'saudara2'nya juga. Tapi masih menyembah berhala Hubal dan Uzza . . .

Coba dipikir. Opo kita orang ndak nyêsêk. Apa yang kita sembah saat ini dipertanyakan. Memangnya kita, Umat Islam Indonesia yang diperkirakan ndak pilih Prabowo dan akan pilih Jokowi, selama ini nyembah 'Bethoro Kolo' ? Kalau tawaf saat umroh atau haji, muteri gardu PLN ? 

Itu bukan saja sombong tapi menghina. Dirinya disetarakan Rasul dan Hadijah ra, istri Nabi, dan kita dipadankan sebagai Quraish Jahililiyah 

Ini sama juga dengan kumpulan emak2 asal Karawang. Katanya kalau Jokowi menang, adzan nggak boleh, LGBT boleh nikah 

Para 'emak' ini salah omong. Bukan ndak boleh, Mak ! Tapi memang ndak pernah dengar. Wong 'ndak pernah' Jum'atan ! Lagipula yang LGBT sopo, yang 'ditembak' siapa . . .

Yang nambah bikin grêgêtan, sudah bukan 'rahasia umum' jika sebagian besar kaum Nahdliyin ada di belakang Jokowi. Paling tidak, ndak berdiri di belakang Prabowo. Atau 'seakan' diam. Meski mungkin ndak ada pernyataan resmi dari Nahdlotul Ulama.

Lha mosok nanti mBah Moen, Habib Lutfi, Gus Mus, Gus Ulil, dan lain-lain diam saja. Bahkan ikut mendorong dan meng-iya-kan. Dorong Jokowi larang adzan . . . 

Urusan doa mBak Neno sebenarnya sudah dibelokkan. Di'slimurno', kata orang Jawa. Dikesankan seolah mBak Neno 'ngancam' ndak akan nyembah lagi Tuhan. Kalau kelompoknya, Prabowo, kalah.

Maksudnya biar ndak terkesan hujat 'wong NU', meski bentuknya 'plesetan'.

Tapi malah ada yang ngeyel. Memperjelas. Kalau Prabowo kalah, ndak ada yg nyembah Tuhan. Karena yg menang PKI . . 

Jadi Kiai Ma'ruf Amin, mBah Moen, dan kawan-kawan disebutnya PKI . . . 

Ndak salah jika mantan ketua Muhammadiyah, Syafi'i Ma'arif, menyebutnya sebagai ndak ngerti etika dan adab, bahkan 'biadab' !

NU telah dijadikan 'target'. Karena NU jadi benteng terkuat dan bukan tak mungkin terdepan sekaligus terakhir, dari serbuan Islam Garis Keras dan Radikal yang bikin porak poranda negeri2 (Islam) timur tengah dan afrika.

Acara NU di Tebing Tinggi diusik. Sebagai pertanda. Seakan mereka mulai berani buka front peperangan . . .

Agaknya mereka tak pernah baca atau lupa sejarah. NU telah berdiri tangguh dan liat selama lebih 90 tahun. Ada Resolusi Jihad di masa perang kemerdekaan. Berhadapan 'head to head' dengan PKI.

Kiranya mereka salah terka. Kesantunan dan sikap diam, dikira cermin 'ketakutan' . . .

Mereka telah salah memilih mangsa dan musuh . . .

Tapi . . . 
Apakah benar NU 'merasa' dijadikan 'target' ?
Apakah benar NU 'merasa' sedang digoyang ?
Apakah benar NU 'merasa' sedang ditabuhkan gedang perang ? 'Merasa' ditantang ?

Ya ndak tahu !
Semua terserah dan kembali pada 'Wong NU' untuk mengartikan . . .

Tapi banyak orang mengatakan, Pemilu 2019 ini bukan 'Pilpres biasa'. Akan dan telah jadi 'momen dan sarana' Gerakan Radikalis yang hendak merobek apa saja yang selama ini kita punya.

Dulu kita pikir cuma bisa terjadi di Timur Tengah. Namun nyatanya dapat terjadi di depan hidung kita. Sangat amat dekat. Di Marawi, Filipina

Biasanya, ya biasanya, Kaum Nahdliyin.tak akan diam. Membiarkan yang lain ter-engah bertahan sendirian . . . 

Jadi . . .
Apakah benar NU 'diduga' hanya diam ?
Apakah benar NU 'diduga' justru mungkin telah jauh2 hari bersiap diri ? Dalam diam ?

Ya ndak tahu !
Semua terserah dan kembali pada 'Wong NU'

Apakah akan dijadikan 'momen dan sarana' seolah Sayyidina Ali melawan kaum Khawarij, kaum yang biasanya sok suci, sok ngerti sendiri, sok Islami ?

Ya ndak tahu !
Semua terserah dan kembali pada 'Wong NU' . . . . . . . . .

Wassalam !

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Wednesday, March 6, 2019 - 08:15
Kategori Rubrik: