NU Melindungi Kelompok Lain

ilustrasi

Oleh : Akhmad Mustain

Sejak akhir 1950-an NU tampil sebagai imamnya umat Islam. Bukan saja organisasi ini memiliki prinsip yang kuat, tetapi juga memiliki kekuatan politik yang disegani. Sejak sebelum dibubarkannya Masyumi, NU telah memiliki peran menonjol, apalagi setelah partai Islam modernis itu dibubarkan, maka NU menjadi kekuatan utama kelompok Islam di Indonesia. Kekuatan yang dimiliki NU itu tidak dipergunakan untuk memupuk kekuasaan sendiri atau untuk menginjak lawan politiknya. Sebaliknya digunakan untuk membela Negara dan membela hak dasar kelompok lain. Ketika PKI menyerang PNI, Muhammadiyah dan eks Masyumi, maka NU tampil membela mereka padahal selama ini menjadi pesaing dalam politik nasional. Tetapi ketika berhadapan dengan musuh dari luar maka ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah (kebangsaan) dibangun kembali.

Di kecamatan Grogol, Kediri PKI menduduki tanah milik H. Amir, seorang warga Muhammadiyah. Pihak BTI-PKI menuduh bahwa tanah milik H. Amir tersebut bukan tanah hak milik, tetapi hanya hak pakai, karena itu, akan diambil untuk kepentingan rakyat. Karena Muhammadiyah kecil pendukungnya di daerah itu, lagi pula tidak memiliki pasukan khusus maka ia melaporkan kasusnya kepada NU, yaitu kepada Gus Maksum Jauhari, pemimpin Pesantren Lirboyo. Saat itu juga santri Lirboyo dengan bersenjata lengkap berupa celurit dan pedang dikerahkan untuk menjaga tanah H. Amir. Sejak saat itu BTI tidak berani lagi datang ke tempat itu, sehingga tanah itu bisa digarap dengan aman.

Tidak hanya membela Muhammadiyah, NU dan Ansor juga membela PNI dalam peristiwa perebutan tanah yang juga masih terjadi di Pagu, Kediri. Ketika PKI menguasai tanah bengkok dusun, saat itu Parmin, Kepala Dusun berasal dari PNI meminta bengkok desa tersebut diserahkan, tetapi PKI menolak, lalu setelah panen Kamituwo mengambil secara paksa harta desa tersebut. Saat itu pasukan BTI datang menyerang pertemuan tersebut dan mengeroyok Parmin, sang Kepala Dusun. Selain itu, Kiai Muhammad Said yang mencoba menolong Parmin ikut dianiaya, tetapi tidak mempan. Berita tentang penganiayaan Parmin dan Kiai Said itu memancing kemarahan para pemuda Ansor, karena itu, Ansor menyerbu markas BTI. Ketuanya Kasdi dan Kasidi ditangkap dan pengikutnya dihajar beramai-ramai, kemudian mereka diserahkan kepada polisi lalu diadili dan dimasukkan penjara.

Musuh utama PKI adalah Masyumi karena dianggap kebaratbaratan. Karena itu, ketika Masyumi dilarang, maka PKI paling diuntungkan sebab satu lawan sudah berhasil disingkirkan dalam merebut kekuasaan nasional. PKI tidak menyangka bahwa NU jauh lebih kuat ketimbang Masyumi dalam menghadapi PKI. Ketika Masyumi dilarang Pemerintah pada 1960, sementara underbauwnya Masyumi seperti GPII, HMI dan PII tidak dilarang, maka selalu menjadi bulan-bulanan PKI karena dianggap sudah tidak memiliki induk semang sebagai pelindung.

Sebagai contoh pada 13 Januari 1965 PII, sebuah organisasi pelajar yang berafiliasi ke Masyumi, mengadakan pelatihan di Kanigoro, Kediri. Pada pagi dini hari pesantren pusat latihan PII tersebut diserbu oleh ribuan anggota Pemuda Rakyat dan anggota BTI yang bersenjata lengkap. Al-Qur’an dan berbagai macam buku agama diinjak-injak. Para pengasuh pesantren, yaitu Kiai Said Koenan dan KH Jauhari, dianiaya. Sementara para pengurus PII digiring ke Polsek, dengan tuduhan Masyumi sebagai organisasi terlarang, telah melakukan tindakan makar dengan menyelenggarakan training politik di Kanigoro tersebut.

Rupanya pesantren yang ditempati training PII tersebut adalah milik tokoh NU, Kiai Jauhari, yang anaknya adalah pengasuh Pesantren Lirbooyo dan sekaligus sesepuh Banser (belakangan beliau termasuk pendiri Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa). Maka pada 13 Januari 1965 segera dilakukan serangan balasan untuk membebaskan para kiai dan pengurus PII yang ditahan polisi dan BTI. Delapan truk berisi Banser Kediri menyerbu menggerebek rumah para pimpinan PKI dan menangkap pelaku penyerbuan PII, yaitu Suryadi dan Harmono, yang kemudian diserahkan ke Kantor Polisi. Seterusnya para aktivis PII banyak minta perlindungan kepada para kiai dan tokoh NU Kanigoro. Maka dengan mudah dikepung oleh PKI sehingga pelaksanaan pelatihan tersebut terhenti. Saat itu para pemuda Ansor beserta segenap santri Lirboyo yang dipimpin Gus Maksum datang untuk membebaskannya.

PKI juga masih belum rela sebelum seluruh organisasi neven atau underbouw Masyumi dibubarkan semuanya. Ketika gagal melakukan sabotase terhadap PII, maka PKI ganti memprovokasi Bung Karno untuk membubarkan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sebuah organissi mahasiswa nevennya Masyumi. Demikian pula Serikat Buruh Islam Indonesia (SBII) milik Masyumi. Bung Karno berharap NU membantu dalam pembubaran HMI itu karena beberapa waktu sebelumnya HMI Yogya dan Jakarta melakukan pengganyangan terhadap NU, PMII dan Menteri Agama K.H. Saifuddin Zuhri yang dituduh meng-NU-kan IAIN dan Departemen Agama dalam Peristiwa 10 Oktober 1963, yang menggemparkan, sehingga harus melibatkan Pakualam VII dan Bung Karno untuk menyelesaikannya.

Bung Karno kaget ternyata sikap NU sangat lain. Walaupun Masyumi merupakan rival politiknya dan HMI sendiri pernah mensabotnya, tetapi NU tidak ingin balas dendam, tidak ingin HMI ikut dibubarkan karena tidak terlibat pemberontakan PRRI, karena itu, NU menolak permintaan Bung Karno dan dengan gigih membela HMI karena NU tahu bahwa ini merupakan provokasi PKI untuk mempreteli satu-persatu kekuatan Islam. Untuk membela HMI itu sampai Menteri Agama berani berdebat dengan Presiden Soekarno, bahkan Kiai NU itu mengancam bahwa kalau HMI dibubarkan, Kiai Saifuddin Zuhri akan mengundurkan diri sebagai Menteri Agama. Dengan sikapnya yang tegas dari Kiai Saifuddin Zuhri, Bung Karno tidak jadi membubarkan HMI dan SBI. Betapapun sulitnya situasi yang dihadapi, NU tetap menjaga ukhuwah Islamiyah walaupun pihak lain belum tentu mampu melaksanakan hal yang sama.

Begitu juga ketika Hamka seorang tokoh terkemuka Masyumi diserang Lekra PKI, dengan tuduhan plagiasi, maka Lesbumi sebagai organisai kebudayaan NU melakukan pembelaan pada tokoh Masyumi tersebut. Pada waktu itu tidak ada yang berani membela pimpinan Masyumi sebagai partai terlarang karena khawatir dituduh anti-pemerintah. Tetapi Lesbumi dan koran NU, Duta Masyarakat, yang dipimpin H. Mahbub Djunaidi dan H. Said Budairi gigih melakukan pembelaan terhadap ulama dan sastrawan dari Masyumi dan pimpinan Muhammadiyah tersebut.

Ruang lingkup perjuangan NU dengan demikian menjadi luas, tetapi karena perangkatnya sudah sangat luas, sehingga berbagai tugas tersebut diperankan dengan sangat baik dan efektif, untuk menjaga kekuatan Islam dan kekuatan nasional dalam mempertahankan Negara Indonesia dan falsafah Pancasila.

(Sumber : buku Benturan NU vs PKI)

Sumber : Status Facebook Akhmad Mustain

Monday, July 6, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: