NU, Islam Yang Tepat Untuk Indonesia

Ilustrasi

Oleh : Agus Salim

Kelompok islam A di kenal intoleran, rasis, anarkis dan mendukung aksi-aksi teroris ini kerap kali membuat gaduh dengan aksi-aksinya. Membuat resah masyarakat dan mengganggu keamanan dan kenyamanan warga, pemimpin mereka dalam ceramah-ceramahnya kerap kali mengujarkan kebencian, melontarkan kata-kata kasar, menghina lambang negara, adat budaya suku, dan menyeru untuk membunuh, menggoreng isu SYIAH, PKI dan ASENG. Tapi tidak pernah sekalipun menyebut bahayanya ISIS yang sudah nyata di depan mata. 

Bahkan terang-terangan berbaiat pada begundal teroris ISIS dan memuja khilafah, setiap ada aksi teror yang menelan korban jiwa mereka menuduh sebagai pengalihan isu, rekayasa aparat dan menganggap teroris yang tewas sebagai syuhada. Puncaknya adalah saat pilkada jakarta, dengan jasa editan video buni yani kelompok ini memainkan isu SARA, mereka mengkampanyekan ayat almaidah 51 dan mengharamkan memilih pemimpin kafir cina. Aksi demo mereka atas nama islam atas nama ulama berhasil merusak tenun kebangsaan, mereka memboikot produk-produk yang kontra pada mereka, melarang sholat jenazah muslim yang menentang mereka, persekusi orang yang mengkritik mereka di sosial media, mengajarkan pada pawai anak-anak kecil untuk meneriakkan yel-yel bunuh ahok. 

Mereka memang berhasil memenjarakan ahok, namun saat pemimpin mereka terjerat kasus dan di tetapkan sebagai tersangka mereka menuduh polisi mengkriminalisasi ulama, memusuhi umat islam. Bahkan salah satu dari mereka dengan ndesonya melaporkan kaesang sebagai orang yang mengujar kebencian. Padahal video kaesang adalah ungkapan keprihatinan warga indonesia pada umumnya yang waras atas apa yang terjadi saat ini dengan tingkah pola kelompok islam A ini.

Kelompok islam B pemimpin tertinggi dan sesepuh mereka turut andil dalam berjuang dan mendirikan negara NKRI ini, mereka sepakat dengan PANCASILA sebagai dasar negara indonesia, sebagai negara damai bukan negara agama, mereka menjaga toleransi dan kerukunan umat beragama, menjaga budaya dan keraifan lokal, menjunjung tinggi kesatuan dan persatuan.

Dalam sosial media kelompok islam A kerap kali membujuk kelompok islam B
"Kita jangan mau di adu domba kafir, mereka senang melihat kita bermusuhan"
"Rezim jokowi ini sengaja memecah belah kita umat islam, dia anak PKI yang ingin menghancurkan umat islam"
Dan sebagainya.

Ketika kelompok islam B tidak merespon seruan mereka, kelompok islam A ini akan mengeluarkan kata-kata mutiara
"Dasar muslim munafik, liberal, saudara muslim di musuhi, kafir di lindungi".

Hadrotusyaikh KH. Hasyim asy'ari membentuk NU salah satu tujuannya adalah agar tercipta islam yang tepat bagi indonesia, mengingat indonesia adalah negara dengan ragam suku, bangsa, agama dan budaya, di tanamkanlah khubbul wathon minal iman kepada santri dan warga NU, sebab islam saja tanpa nasionalisme akan menjadi ekstrim, mudah mengkafir sesatkan orang lain, membunuh atau terbunuh demi agama adalah sama besar pahalanya bagi mereka para pengkapling surga.

Melalui serangkaian do'a, ikhtiar dan memohon restu pada guru-gurunya, mbah hasyim tahu betul resiko yang kelak akan di hadapinya, tantangan yang di hadapi anak cucunya, rintangan yang di hadapi santri dan pengikutnya di masa yang akan datang, namun ia di kuatkan oleh mbah kholil bangkalan selaku salah satu gurunya "siapa yang menentang NU akan hancur". Terbukti ucapan waliyullah itu, satu persatu pemfitnah dan pembenci ulama-ulama NU hancur dengan sendirinya, itulah mengapa kyai-kyai NU santai saja ketika di fitnah, sebab beliau-beliau ini faham betul ucapan mbah kholil itu tidak main-main.

Terbukti saat ini dari seluruh dunia hanya islam NU yang masih bertahan selebihnya sudah menjadi puing karena berhasil di pecah belah, suriah, irak, libya, somalia, tak pelak banyak ulama-ulama dari penjuru dunia minta di ajari islam NU, minta di didirikan NU di negaranya, sebab mereka merindukan islam yang rakhmatan lil'alamin seperti NU. meskipun di gempur dari segala penjuru dengan fitnah, provokasi, adu domba, hasud, dll. NU di pecah tetap bersatu, di benturkan tetap kuat, di adu tetap rukun, di belah tetap merekat, paling susah membumi hanguskan NU sebab NU sejak awal berdirinya sudah bertekad menjaga indonesia sebagai negara damai, bukan sebagai negara islam, NU sama sekali tidak melirik ketika di ajak membentuk negara islam di indonesia, karena NU memiliki banyak saudara selain islam, yaitu kristen, budha, hindu, dll. Mbah hasyim sudah mewanti-wanti agar NU dengan kekuatan besarnya, dengan jumlah mayoritasnya agar bisa mengayomi seluruh rakyat indonesia dalam bingkai bhinneka tunggal ika, salah satu bukti abdinya pada indonesia adalah dengan resolusi jihad NU yang memukul mundur penjajah dari bumi surabaya, lantas sekarang sudah merdeka sudah damai ada kelompok mengatas namakan islam mengajak NU memerangi bangsa sendiri ( non muslim ) demi tercipta negara islam, NU kompak menjawab ORA SUDI.

Ibarat air jernih agar tetap terjaga kejernihannya maka taruhlah di wadah yang bersih pula, islam mengajarkan kedamaian, tapi jika wadahnya kotor jangan heran jika ada pelaku bom bunuh diri pelakunya beragama islam, ada teroris pelakunya islam, ada yang makar pada pemerintahan resmi pelakunya kelompok islam, ini karena air yang jernih tadi di tuangkan ke wadah yang tampilan luarnya mulus bersih tapi dalamnya penuh debu, karatan dan banyak eek kecoaknya, itulah mengapa banyak yang berjubah tapi suka marah-marah, banyak yang bersorban tapi penuh ancaman, banyak yang berpenampilan nabi tapi berakhlak abu jahal, ya karena ada eek kecoak tadi.

Sebaliknya ulama-ulama NU, sarungnya kusut, bajunya ada yang di tambal-tambal, kadang gak pake sendal, tapi dakwahnya sejuk, wajahnya berseri, tidak mengajarkan santri-santrinya untuk membenci, memusuhi, santrinya di ajarkan mencintai tanah air adalah sebagian dari iman, cinta tanah air berarti cinta warganya yang berbeda agama, cinta penduduknya yang beda suku, semua di ayomi, di lindungi, salah kaprah jika banser di anggap menjaga gereja, yang banser jaga adalah saudaranya yang rentan di ganggu dan di bom kelompok teroris dan radikal, cukuplah almarhum riyanto sebagai bukti totalitas banser dalam menjalankan tugasnya ia rela menjadi korban asalkan saudaranya dalam gereja terselamatkan. 
Begitulah bila air jernih ( islam ) itu di tuangkan dalam wadah yang bersih ( NU ), maka islam NU adalah islam yang tepat bagi indonesia.

Sumber : Status Facebook Agus Salim

Wednesday, January 3, 2018 - 13:45
Kategori Rubrik: