NU Di Pusaran Pilpres

ilustrasi

Oleh : Rumail Abbas

Suara NU itu penting. Namun sejak keputusan Bahtsul Masa'il di Munas NU jadi perbincangan banyak orang, bak bola liar pendukung² paslon 02 malah mencibir keputusan itu, alih² malah mencibir NU.

Di antara cibiran yang kebetulan menyebut (mention) akun saya di media sosial:

- NU hendak mengubah Quran (Surat Al-Kafirun)
- NU hendak mendirikan agama baru: Islam Nusantara
- NU hendak memiliki kitab suci baru: Kitab Kuning
- NU digerogoti sepilis, liberalis, dan sekularis
- NU melenceng dari ajaran Hadlratus Syaikh Hasyim Asyari
- NU menganggap hukum manusia lebih tinggi dari hukum Allah
- NU sudah sesat
- Kepada Allah, NU cari murka. Kepada kafir, NU cari muka (ini asli dari pengasong khilafah di Indonesia)

Sejauh yang saya teliti, orang² yang kontra-NU (lebih spesifik lagi: Kontra-Kiai Said) itu minor. Lantang saja di sosmed, tapi jumlah mereka tak banyak. Nyaris bisa ditepuk sekali hantaman.

Jauh di sana, adalah warga NU yang masih tunduk patuh pada ulama NU, apalagi di jajaran pengurus PBNU.

Munas adalah hajatan milik NU. Seluruh kiai sepuh dirawuhkan di sana. Bahtsul Masa'il tentu ketat akademik. Sangat menerima perdebatan argumentatif.

Jika timses dan pendukung Prabowo-Sandi masih liar menjelek-jelekkan NU, artinya paslon 02 ini tidak ada niatan untuk menang. Bagaimana tidak? Sandiaga Uno itu berkali² pingin sowan (salah satunya) di Pesantren Buntet Cirebon (NU banget!), sampai ditolak berkali² hingga pihak yayasan pesantren melayangkan surat resmi penolakan, eh pendukung hora-hore 02 malah tidak ada beban menghina² NU.

Sinting, namanya. Sama kayak sintingnya FPI di Tangerang sana menyebarkan meme di bawah: bahwa NU sudah tersesat di jalan.

Memangnya jumlah FPI kalau dikonversi jadi berapa suara, sih?

Sumber : Status Facebook Rumail Abbas

Saturday, March 2, 2019 - 22:30
Kategori Rubrik: