NU dan Sebutan "Nabi" Buat Ahok

ilustrasi
Oleh : Jaya Surbakti
NU memang Organisasi yang merangkul semua. Kata Gus Muwafiq, Ibarat kendaraan, NU itu seperti bis yang muatannya banyak sekali, semua ada di dalam, dari kyai sampai bandar dadu. Karena besarnya, NU itu tidak biasa cepat-cepat dalam berjalan. Agar tidak ada yang ketinggalan, agar semua bisa di angkut.
Begitu juga kesan yang saya dapat saat Ahok, sebagai Komisaris Utama Pertamina hadir dalam acara milad ke-9 Pondok Pesantren Motivasi Indonesia secara virtual. Ahok mengisi diskusi yang bertema ‘Pandemi dan Geliat Kemandirian Pesantren’.
Dalam acara ini, Ahok mengusulkan agar para santri diajarkan berbisnis untuk menghidupkan kemandirian ekonomi.
“Jadi para santri ini dilatih bisnis, dilatih berbahasa Inggris dengan baik, mengerti tentang saham, ini menarik,” kata Ahok.
Disela diskusi ada candaan yang dilontarkan Kyai Ahmad Nurul Huda Haem, Ketua Divisi Usaha LD-PBNU, mengatakan Ahok jadi “nabi” usai dipenjara.
“Saya mau komentari dulu, Pak Ahok ini gagasan-gagasannya kan luar biasa sekali tadi yang disampaikan beliau itu ya, jadi rasanya tidak salah kalau beliau sejak keluar dari Mako Brimob jadi ‘nabi’,” kata Nurul Huda.
“Ini saya yang ngomong jadi aman aja Pak Ahok,” sambungnya.
“Tapi ini becandaannya beliau, becandaannya beliau bahwa beneran jadi nabi bahkan katanya pengin bikin band namanya nabi band, saya tanya waktu itu, ‘Pak Ahok ini nabinya nabi apa ini’, kata beliau (Ahok), narapidana binaan,” ujarnya.
Sontak candaan itu pun membuat semua narasumber tertawa.
Menurut Nurul Huda, Ahok sudah dapat ciri NU-nya. Karena ciri NU selain pintar, juga suka bercanda.
“Itu diajarin Gusdur itu,” Ahok menimpali.
NU hadir bisa untuk semua. Dan semua bisa ada untuk NU juga. Tidak ada sekat apakah dia itu pernah divonis sebagai penista agama, atau dia bukan berasal dari kalangan Islam, bagi NU itu tidak menjadi kendala untuk saling bersinergi dalam memajukan negeri ini.
Bukan kali ini saja NU bersikap seperti ini. Saya juga ingat bagaimana proses persahabatan yang diceritakan oleh Hotman Paris perihal kedekatannya dengan Gus Sholah. Dia merasa diterima dan diminta datang ke pesantren untuk memberikan kuliah umum berkaitan dengan hukum.
Hotman Paris yang bukan Islam diterima dan diundang untuk berbagi pengetahuan tentang hukum di depan para santri Pondok Pesantren Tebuireng.
Dan masih banyak kisah lain yang dapat kita ambil sebagai sifat dan sikap NU itu dalam bermasyarakat, bahwa semua adalah saudara, semua harus saling jaga dan semua konflik dapat dihadapi dengan santai, bahkan kadang dengan candaan. Bukan kekerasan dan bukan pula pertentangan.
NU memandang keberagaman itu sebagai suatu keniscayaan. Apalagi Indonesia yang masyarakatnya beragam sekali, baik dari segi agama, juga dari segi budaya. Sehingga bagi NU, semua yang ada di Indonesia ini, selama dia menghormati keberagaman, menjunjung tinggi Pancasila dan mencintai NKRI, semua adalah saudara sebangsa setanah air.
Bukan hanya dalam konteks Indonesia. Beragam dalam konteks lingkup NU saja bisa terjadi. Mengenai ini, pernah diceritakan oleh Gus Dus, perdebatan yang terjadi antara Kyai Bisri Syansuri dengan Kyai Wahab Chasbullah. Mereka berdebat mengenai bagaimana hukum Islam memandang drum band.
Perdebatan alot menjurus keras. Tapi uniknya, begitu perdebatan selesai, kedua kyai kharismatik itu malah berebut untuk saling melayani satu sama lain dalam jamuan makan.
“Kalau berdebat masalah agama, mereka saling keras, tapi kalau sudah mendengar azan, mereka akan berhenti dan menuju masjid bersama-sama. Sudah tidak ada masalah,” ujar Gus Dur waktu itu.
Kisah antara Kyai Bisri dan Kyai Wahab itu menunjukkan bahwa perbedaan pendapat adalah hal biasa di kalangan NU. Begitu juga dengan perbedaan pandangan agama dengan umat agama lain. NU sama sekali tidak ingin memperdebatkannya, apalagi sampai harus memecah belah kerukunan antar umat beragama.
Semua umat beragama di Indonesia ini silahkan beribadah menurut agama dan kepercayaannya masing-masing. Silahkan memberikan doktrin yang menurutnya
terbaik
 

untuk disampaikan kepada umat masing-masing.

Namun, bila NKRI sudah memanggil, semua harus masuk ke barisan untuk sama-sama menjaga keutuhannya. Tidak boleh ada perbedaan di sana. Karena NKRI harga mati.
Sumber : Status Facebook Djohar Iskandar
Wednesday, March 3, 2021 - 08:15
Kategori Rubrik: