NU Dan Pancasila, Membayar Hutang Yang Tak Mudah

ilustrasi
Oleh : Aan Anshori
 
Selama ini, NU dikenal sangat getol menyuarakan pembelaannya terhadap Pancasila. Keberpihakannya semakin mencolok saat gelombang khilafah berusaha melumat Bangsa ini, dilumat untuk tunduk pada Islam politik. 
 
Sangat sulit untuk tidak melihat NU tampil sebagai satu-satunya ormas Islam "ivy league," yang membabati gerogotan kanker tersebut saat lainnya diam dan malas. Kenapa NU bisa sedemikian ngototnya membela Pancasila, vis a vis melawan tubuh Islamnya sendiri? Menurut saya, NU sedang membayar hutang sejarahnya. 
 
Sejak menit pertama perumusan Pancasila Juni 1945, melalui wakilnya, Wahid Hasyim, NU mendukung ideologi Islam sebagai platform utama Pancasila. Bersama-sama wakil Muslim-Nasionalisnya, ia setuju Piagam Jakarta tercantum dalam sila pertama, presiden haruslah orang Indonesia asli yang beragama Islam. 
 
Dua hal penting ini adalah cerminan betapa elit Islam kala itu menganggap kelompoknya punya jasa lebih besar, jumlah lebih banyak, ketimbang kelompok lainnya. Seandainya pada saat itu HTI ada, bisa dipastikan NU akan bahu-membahu dengannya mengegolkan gagasan Indonesia bersyariah. Namun alur sejarah berkata lain, dalam sebuah momentum singkat sekitar 18 Agustus 1945, dua hal krusial itu hilang bersama dengan digunakannya kata "Pembukaan," mengganti diksi "mukaddimah," dalam pembukaan UUD 1945. 
 
Tidak cukup jelas apa yang sebenarnya terjadi pada pertemuan antara seluruh wakil Islam di PPKI dan Hatta ketika Latuharhary dkk. mengancam wilayah Indonesia timur akan berpisah jika Islam ngotot dipaksakan. Namun yang pasti, anasir-anasir simbolik Islam politik benar-benar dikepras pada rapat tersebut. 
 
Wahid Hasyim memang tidak sengotot Ki Bagus Hadikusumo, satu-satunya yang tetap kukuh agar tiga hal di atas dipertahankan. Saking ngototnya, Soekarno merasa perlu meminta tolong khusus kepada Kasman Singodimejo agar melunakkan hati wakil Muhammadiyah ini, dan berhasil. Meskipun belakang Kasman merasa sangat bersalah atas keberhasilan tersebut.
 
Sepuluh tahun kemudian, meski telah berpisah dengan Masyumi dan menjadi partai politik tersendiri pada pemilu 1956, NU tetaplah seperti yang dulu. Wakil-wakilnya di Konstituante tetap satu suara dengan wakil Islam lainnya; menuntut agar piagam Jakarta dimasukkan kembali.
 
Prof. Faisal Ismail dalam disertasinya mencatat wakil-wakil NU seperti Ahmad Zaini, KH. Masjkur, KH. Saifuddin Zuhri maupun Ahjak Sosrosugondo mengkritik keras Pancasila sebagai slogan kosong yang tidak memberikan muatan konkrit bagi bangsa. 
 
Bagi yai Zuhri, ayah Menteri Agama Lukman Saifuddin, maupun yai Masjkur, sila pertama akan menyebabkan problem teologis karena bisa diinterpretasikan berbeda-beda. "Bagi yang percaya batu adalah tuhan, maka Tuhan adalah batu. Bagi penyembah pohon, maka Tuhan di sila tersebut adalah pohon," tegas KH. Masjkur. 
 
Sila pertama, menurut Ahjak, juga bermasalah karena juga masih mengadoposi Komunisme yang dianggap tidak bertuhan. "Tidak ada konsep alternatif kecuali menjadikan Islam sebagai dasar negara karena kesempurnaannya," tawar KH. Zuhri. 
 
Mereka sangat ngotot mengusung Islam sebagaimana juga Natsir, Isa Anshary dan Otman Raliby dari Partai Masyumi, Sjamsijah Abbas dari Perti maupun MT. Abubakar dari PSII.
 
Tiga kali voting dalam sidang Konstituante, tiga kali pula NU tetap konsisten pada pendiriannya; syariat Islam. Titik.
 
Meski pengusung Piagam Jakarta kalah tipis beruntun tiga kali, sidang perumusan dasar negara tetap tidak memenuhi kuorum sehingga, presiden Soekarno tidak punya pilihan lagi kecuali mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Salah satu isinya;  mengembalikan UUD 1945 tanpa Piagam Jakarta. Para pengusung syariat Islam semakin kecewa, terutama kepada Soekarno yang telah mengalahkan mereka 2-0.
Pancasila rasa Demokrasi-Terpimpinnya Soekarno kemudian dijalankan pascadekrit. Poros agama dalam Nasakom diisi oleh Nahdlatul Ulama. Betul, NU akhirnya bisa duduk bersama dengan PKI dan, saya kira, mulai belajar melihat lawan politik yang ia hajar habis-habisan selama sidang Konstituante. 
 
Pilihan NU untuk "membelot" ke kelompok Nasionalis bisa dipahami dalam rangka ingin membuktikan bahwa dirinya jauh lebih progresif ketimbang Masyumi, kompetitor sekaligus rumah politik lama penuh derita bagi Nahdliyyin. 
 
Memang, NU dibawah kepemimpinan rais aam Yai Wahab Chasbullah sejak 1947 hingga 1971 bisa dikatakan cukup progresif dan terbuka. Dia adalah satu-satunya kiai papan atas NU, kala itu, yang cukup dekat dengan lingkar studi dan politiknya HOS Cokroaminoto di Surabaya ketika Soekarno masih relatif muda. Pemikiran out of the box kiai cum pengusaha ini adalah jejak awal yang sangat penting di tengah tradisionalisme Nahdliyyin yang masih cukup dekat dengan blok-Islamnya Masyumi dkk.
 
Pada kelanjutannya, blok-Islam ini, dengan sokongan militer, dan Amerika Serikat, akhirnya berhasil membalaskan dendam pada Soekarno dengan cara melengserkannya, berbarengan dengan sekutu terkuat; PKI. 
 
Dalam soal Tragedi 65-66, penting diketahui bahwa terdapat dua kelompok di tubuh NU saat itu; faksi mbah Wahab-pak Idham Chalid yang cukup moderat, dan faksi militan-tradisionalis yang lebih dekat dengan Masyumi. Saya menulis agak panjang kiprah keduanya dalam "Kemenangan Faksi Militan; Jejak Kelam Elit Nahdlatul Ulama akhir September-Oktober 1965," Silahkan dicari sendiri di internet.
 
Yang menarik, selama proses transisi awal dari Orde Lama ke Orde Baru, sekitar tahun 1967-1970, sebagai imbas dari penggayangan ratusan ribu Tertuduh PKI, terdapat fakta mencengangkan, yakni banyak orang pindah agama ke Kristen/Katolik. Jumlahnya mencapai mendekati satu juta orang. Mereka menemukan salib sebagai “jalan spiritualitas baru” pelipur duka gara-gara Tragedi 1965.
 
Kenyataan ini tak pelak membuat  blok-Islam makin membenci kelompok Kristen, rival abadi mereka dalam perumusan dasar negara ini. Sikap ini pada gilirannya akan mempertebal kecurigaan mereka dalam perjalanan Pancasila.
 
Di tangan Soeharto, Pancasila berubah menjadi teks suci untuk melegitimasi ketakutannya terhadap dua yang dianggap musuh; komunisme dan Islam-Politik. Seluruh aspirasi politik aliran (Islam) dikanalisasi menjadi satu pintu partai politik melalui PPP, agar mudah dikontrol kemudian ditundukkan. 
 
Faksi di dalam Nahdlatul Ulama yang dekat dengan Blok Islam kembali bersatu dengan blok tersebut untuk memperjuangkan aspirasi syariat melalui partai tersebut dalam bingkai Pancasila dan NKRI, hingga kemudian Nahdlatul Ulama dinakhkodai dua tokoh utamanya; Yai Akhmad Shiddiq sebagai rais aam dan Gus Dur sebagai ketua umum. Keduanya memutuskan NU menerima asas tunggal Pancasila sebagai dasar organisasi menggantikan narasi Islam yang telah diugemi sejak lama oleh organisasi ini. 
 
Dua orang ini kemudian mengambil sikap politik yang tak kalah penting, yakni menarik NU keluar dari arena politik praktis di mana selama ini NU adalah lokomotif utama PPP. 
 
Khusus Gus Dur, ia begitu sangat serius memberikan arah baru dalam NU, terutama bagaimana Islam bisa sejalan dengan Pancasila untuk merawat kebhinnekaan yang ada. Sungguh. Ia memberikan segalanya agar NU bisa menjadi lebih moderat, termasuk mempertaruhkan previlese darah birunya dengan menjabat sebagai ketua Dewan Kesenian Jakarta dan  membuka acara malam puisi Yesus Kristus. 
 
Itu hanya contoh kecil dari langkah-langkah "nyleneh" Gus Dur mengaplikasikan Pancasila dalam semangat ke-NU-annya yang membuatnya tidak hanya diboikot kiai Asad Syamsul Arifin, kiai sangat senior di kalangan NU, namun juga membuat suami Sinta Nuriyah ini harus menghadapi "sidang" ratusan kiai di Pesantren Arjawinangun Cirebon 1989. 
 
Secara khusus terkait luka masa lalu Kristen-Islam, Gus Dur yang merupakan "santo" di kalangan jutaan Nahdliyyin terasa benar-benar memberikan antibiotik agar luka itu sembuh dan sekaligus membuat ikatan Islam-Kristen jauh lebih kuat, sebagaimana keinginan asasi Pancasila. Hal ini tercermin dari penggalan pidato Presiden Gus Dur 27 Desember 1999 pada sebuah perayaan Natal. 
 
_".... Suka cita ini bukanlah hanya monopoli Anda-anda yang beragama Kristen saja, tapi adalah kegembiraan kita semua. Ini tertuang baik dalam kitab suci kaum Kristiani maupun di dalam Al-Quranul Karim yang saya percayai, karena di sana diterangkan adanya seorang Juru Selamat yang datang ke dunia. Dari semua penafsiran Al-Quran menyatakan, bahwa Sang Juru Selamat itu adalah Isa al Masih,"_
 
NU dibawah komando Gus Dur pelan-pelan bermetamorfosis menjadi kekuatan baru pembela Pancasila yang sesungguhnya. Bukan pengusung Pancasila yang munafik; mulutnya menyatakan Pancasila namun hatinya menginginkan tegaknya syariat Ialam.
 
Dalam pikiran saya, NU seperti tengah membayar hutang masa lalunya terhadap Pancasila. Pembayaran itu tidaklah mudah karena hingga detik ini, masih ada tiga kelompok dalam NU terkait penerimaan Pancasila; menolak, lamis, dan menerima sepenuhnya. 
 
Saya ada di kelompok terakhir. Entah Anda.(*)

Sumber : Status Facebook Aan Anshori

 

Wednesday, June 5, 2019 - 13:30
Kategori Rubrik: