NU dan Dakwah Digital

Ilustrasi

Oleh : Budi Setiawan

Ketika saya bertemu dengan dua jagoan NU mas Sumanto Al Qurtuby dan mas Rumadi Ahmad disebuah restoran di Jakarta, saya melontarkan gagasan agar departemen media NU untuk bergerak menguasai medsos dan media mainstream menguasai ranah dakwah digital.

Saya haqul yakin sangat banyak ustad-ustad NU yang bisa menyebarkan gagasan rahmatan lil alamin untuk mengkonter ceramah ustad-ustadan dobol yang menyebarkan kebencian. Teknologinya sederhana tidak memerlukan banyak dana, tapi dampaknya luar biasa di dunia maya.

Dunia maya dan realita sekarang bersatu mempengaruhi satu sama lain dalam membangun persepsi,ideologi dan sudut pandang. Media mainstream jelas-jelas kekurangan narasumber mengisi program tausiyah atau ceramah yang gemuk pendapatan iklannya itu. Karena kurang ,mereka akhirnya rekrut penceramah-penceramah model tahu bulet digoreng dadakan. Lihat mas betapa Metro TV terpaksa menjadikan orang yang gak bisa nulis arab jadi penceramah.

Coba kalau NU bergerak.Kejadian konyol itu tidak akan terjadi. Jadi NU ada peluang besar mengisi kekosongan ini memasok ustad-ustad handal yang saya yakin akan memberi khasanah pemahaman Islam yang inklusif, modern dan membumi tanpa kebencian. Masak NU kalah sama Bahtiar Nasir yang konon kabarnya menjadi pemasok penceramah di TV.

Sudah saatnya NU terjun di dunia video streaming, live streaming,artikel kajian Islam yang rahmatan lil alamin dan gemilang di layar kaca. Tujuannya adalah untuk.mengkonter pemahaman sempit yang disebarkan ustad-ustadan yang cuma berputar-putar ngedobol soal rambut, selangkangan, bid'ah kopar kapir, 72 bidadari, idung pesek sama jilbab.

Dan dari buku yang mas Rumadi hadiahkan ke saya, 100 episode bisa kita bikin.

Saya tunggu undangan untuk sowan ke markas mas Rumadi untuk mendiskusikan lebih detil dakwah digital yang sempat kita obrolkan bersama mas Manto tempo hari.

Sudah saatnya kita bergerak mas.

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan

Wednesday, December 6, 2017 - 13:30
Kategori Rubrik: