Novel Baswedan, Kecewa Tapi Mau Mundur Eman

ilustrasi
Oleh : Agung Wibawanto
 
Ceritanya, om Edan kecewa berat ditinggal rekannya mas Febri di KPK. Dia mengatakan, "Bila pemerintah tidak mendukung dan KPK tidak tampak sungguh-sungguh untuk berantas korupsi maka orang-orang yang memilih jalan untuk berjuang dalam rangka memberantas korupsi akan meninggalkan gelanggang yang tidak ada harapan," ucapnya.
Andai saya, hanya berandai ya, jika sudah tidak merasa nyaman di suatu tempat kerja, pastilah saya ambil sikap seperti Febri. Tapi, katanya om Edan ini tidak mengenal takut sama siapa pun bahkan bisa mengatur pegawai, kenapa sekarang tidak berkutik? Dulu ia mungkin berkuasa bisa lakukan apapun di KPK semaunya, sekarang tidak bisa macam-macam (Ketua WP, mas Yudi, kan juga kena sidang etik).
Mungkin, mungkin om Edan hanya jengkel karena KPK tidak seperti harapannya lagi bisa diacak-acak dan dikuasai. Gak usah naif lah, lembaga seperti KPK pasti ada politiknya (perebutan kelompok2 yang ingin berkuasa dengan arti sesungguhnya). Sebelum ini, meski om Edan bukan pimpinan tapi riil dia yang megang kendali.
Dugaan saya, dugaan lho ya. Ada dua faktor penyebab Febri mundur. Pertama, atas keinginan sendiri udah gak betah karena politik (kondisi perebutan kuasa tadi), atau; Kedua, Febri sengaja diminta mundur oleh om Edan, untuk membuat sebuah 'kesan' buruk KPK. Om Edan sendiri masih betah di dalam karena terkait gaji juga akses ke lembaga super body tersebut.
Mau dilepas, ya tentu Eman. Selain itu juga karena misinya untuk menguasai sepenuhnya KPK belum kelar. Pertikaian dengan komisioner KPK, terutama Ketua KPK, om Firli, harus ia prioritaskan. Untuk itu Firli harus angkat kaki dengan serangan isu-isu etik. Catatan buat om Firli, setiap perilaku anda sekarang ini tengah diperhatikan orang banyak.
Untuk itu, jangan kebanyakan polah hedon yang bisa menyerangnya sendiri. Fokus saja kepada tupoksi pencegahan tindak koruptif pejabat. Sementara, 'mata' presiden ada di dewan pengawas. Tentu Jokowi tidak bisa intervensi langsung, sehingga dibutuhkan Dewas yang senantiasa mengawasi segala hal yang terjadi di tubuh KPK.
Terkait polemik 'pelemahan' dan 'penguatan' KPK, itu hanya istilah dan pemaknaan yang sangat bergantung siapa yang bicara. Bisa pula kemudian berbalik-balik, dulu pelemahan sekarang penguatan dan sebaliknya. Publik juga dapat melakukan pengamatan dan pengawasan sendiri untuk kemudian berasumsi dan beropini.
Kita lihat saja peran KPK secara substansi. Keluar masuknya orang di KPK menjadi hal lumrah (teknis) dan jangan sampai mengalihkan konten substansinya. Apalagi sekadar omongan om Edan, sangat amat tidak perlu digubris. Ia semakin ingin mendapat sorotan media agar berkesan one man show atau pejuang tangguh yang butuh dukungan publik.
Pejuang tangguh itu adalah orang yang mau bekerja tanpa banyak bicara di depan lensa media, rela berkorban dan tanpa pamrih, apalagi malah sibuk ngurusi kepentingan politik sesaat. (Awib)
 
Sumber : Status facebook Agung Wibawanto
Sunday, September 27, 2020 - 18:30
Kategori Rubrik: