Noda Merah Dalam Kelompok Masyarakat Heterogen

ilustrasi

Oleh : Muhammad Jawy

Dalam masyarakat multietnis, multiagama, pengelompokan masyarakat atas dasar etnis, agama, bahkan aliran agama, tidak bisa dihindari. Keberagaman adalah bagian dari alam itu sendiri, dan tinggal di negeri dengan keberagaman yang amat luar biasa seperti Indonesia tercinta ini, kita akan menjumpai baik kebanggaan karena tetap bisa bersatu di atas keberagaman, ataupun juga tantangan akibat gesekan atas perbedaan itu sendiri.

Saya mempelajari fenomena ini dari melihat kasus di beberapa negara.

Saya mulai dari Myanmar.

Mayoritas masyarakat disana (90%) beragama Budha, dan mayoritas dari masyarakat Budha ini adalah masyarakat yang cinta damai. Saya tahu, karena saya pernah ke sana, punya beberapa kawan Myanmar yang Budha dan tengah berjuang keras melawan hoaks dan ujaran kebencian yang berkontribusi terhadap genosida etnis minoritas Rohingnya.

Siapa yang paling vokal mengusung hoaks dan ujaran kebencian di Myanmar? Adalah sebagian kecil dari masyarakat Budha yang ekstremis. Salah satu tokohnya adalah Ashin Wirathu, yang pernah menjadi cover majalah Time dengan judul The Face of Buddhist Terror. Ia adalah pembakar emosi massa ulung, sehingga Facebook sampai menutup akunnya. Pemerintah sipil yang relatif baru terbentuk, masih belum bisa membendung hegemoni militer yang de facto menguasai mayoritas fungsi pemerintahan, sekaligus militer inilah yang bersimbiosis dengan para ekstremis disana.

Ekstremis ini sebenarnya relatif sedikit, tetapi sangat vokal, mereka sangat intoleran, karenanya dalam gambar yang saya sertakan ini, mereka saya tandai dengan noda lingkaran merah. Supaya apa? Supaya kita tidak mudah menggeneralisir kelakuan para kelompok ekstremis ini ke masyarakat luas yang sebenarnya tidak direpresentasikan oleh mereka.

Kita pindah negara. India.

India adalah negara dengan multietnik yang kenyang dengan pengalaman multiagama. Negeri mayoritas Hindu ini pernah menjadi rumah bagi kekaisaran Islam, Mughal yang terkenal dengan masterpiece yang masih berdiri hingga sekarang. Ia pun pernah memiliki presiden muslim A. P. J. Abdul Kalam, yang sering disebut people's president, presidennya rakyat. Terlalu banyak cerita bagaimana masyarakat lintas agama disana mampu bersatu untuk memperjuangkan kemerdekaan, hingga mengisi kemerdekaan itu.

Namun belakangan ini, meningkatnya gerakan nasionalis Hindu yang berpandangan radikal, mengancam masa depan demokrasi India. Terlebih mereka berkoalisi dengan partai pemenang pemilu sejak 2014, BJP, yang menguasai pemerintahan hingga sekarang.

Kawan saya seorang factchecker di India, mengeluhkan bahwa hoaks disana tidak hanya muncul di media sosial, bahkan bisa muncul dari koran yang berafiliasi ke pemerintahan Modi.

Ulah sebagian kecil ekstremis Hindu ini sering mengancam kedamaian India, dengan target yang paling sering adalah umat Islam dan Kristen. Mereka kadang berdemo sambil meneriakkan "India belongs to only Hindus, not to any other!". , dan meminta supaya gereja ditutup. Terjadi peningkatan kerusuhan rasial/agama, dengan korban tidak sedikit. Beberapa kerusuhan yang dipicu oleh para ekstremis ini hingga memunculkan istilah Saffron terror, aksi kekerasan yang dipicu oleh nasionalisme Hindu.

Merekalah yang saya labeli sebagai noda merah dalam kelompok mayoritas ini.

Namun seperti sudah saya letakkan pada gambar, noda merah ini bukan hanya milik kelompok mayoritas saja. Bahkan dalam beberapa kelompok minoritas, ada sebagian kecil dari mereka yang memiliki perilaku yang sama: intoleran, bigot, ingin menang sendiri.

Bagaimana dengan Indonesia?

Sebagaimana dengan negara lain tersebut sebelumnya, satu noda merah sebenarnya terlalu oversimplifikasi. Kalau di kelompok mayoritas di Indonesia yang muslim, ada banyak varian kelompok-kelompok kecil di dalamnya yang bisa kita kategorikan sebagai noda merah.

Ada kelompok yang tegas mengusung ideologi ekstrimisme seperti simpatisan ISIS dan Al Qaeda. Mereka menganggap bahwa NKRI itu tidak sah, dan boleh membuat kekacauan di Indonesia sebagai bagian perjuangan mereka. Meskipun keduanya memiliki perbedaan metode yang signifikan, namun merekalah yang sering ada di balik kejadian teror yang masih melanda negeri ini, bahkan juga menjadi pelaku di negara lain.

Ada kelompok lain yang mengusung ideologi anti NKRI, namun tidak menempuh jalan kekerasan. Bisa jadi karena jalan non kekerasan yang dipilih, banyak menipu masyarakat bahkan hingga ke level aparatur negara. Demikian juga mereka yang menghalalkan fitnah dan hoaks, menjual nama umat, padahal lebih kental praktek pragmatisme politiknya.

Namun kita patut bersyukur, mayoritas dari kelompok mayoritas itu, adalah masyarakat cinta damai. Mereka tidak lepas dari jangkarnya bangsa ini, dua organisasi terbesar dan sangat dihormati, NU dan Muhammadiyah. Mereka, ditambah beberapa ormas dan para tokoh yang mengedepankan keadilan, adalah benteng kuat sehingga kelompok mayoritas tidak jatuh ke dalam propaganda para ekstremis ini.

Dan harus saya sebutkan, bahwa bahkan dalam kelompok minoritas di negeri ini pun ada yang berperilaku layaknya noda merah. Mereka yang gagal menempatkan diri dalam rangkaian kebhinnekaan, dan tidak jarang melemparkan provokasi yang kemudian menjadi aksi saling balas provokasi.

Tidak ada yang benar-benar hitam, tidak ada yang benar-benar putih, menggunakan standar apapun.

Nah tugas kita, bagi yang merasa terpanggil, adalah memastikan jangan sampai noda merah itu membesar, justru kita harus berusaha supaya noda itu semakin mengecil dan menghilang.

Bagaimana caranya?

1. Pinter, jangan mudah terprovokasi oleh informasi yang tidak jelas kebenarannya. Jangan menjadi masyarakat murahan yang doyan dengan ujaran kebencian dan hoaks. Teliti sebelum percaya, verifikasi sebelum membagi berita. Jadilah masyarakat yang gengsi kalau gampangan menerima informasi.

"Gue bukan gampangan, tauk!" gitu dong.

2. Guyub. Perbedaan itu adalah keniscayaan, kita boleh fanatik dalam keyakinan kita, namun harus membuka ruang keguyuban terhadap sesama dalam kerangka persahabatan. Memperbanyak tatap muka, diskusi dengan mereka yang berbeda, itu bisa mengurangi tingkat kecurigaan dan ketidakpercayaan.

"Perbanyak interaksi sosial di dunia nyata, jangan menggantungkan informasi dari WAG atau FB"

3. Guyon. Banyak perbedaan yang tidak mungkin dihilangkan, namun kita tetap bisa hidup cair bersama dengan perbedaan itu. Guyon, tentu dalam kadar yang tidak melanggar norma, adalah cara baik untuk menjaga kewarasan nalar kita. Dengan kadar guyon yang normal, kita tidak mudah menjadi masyarakat yang baperan, sensian, apalagi ngamukan.

"Jangan salah, Srimulat pun turut berkontribusi dalam menjaga kadar emosi masyarakat. Tanpa mereka, dan masyarakat yang doyan humor, barangkali kita akan lebih dekat dengan perkelahian antar sesama kita."

Tabik.

Sumber : Status Facebook Muhammad Jawy

Sunday, August 18, 2019 - 14:00
Kategori Rubrik: