No Move On, No Reconsiliation

Ilustrasi

Oleh : Harry Tjahjono

Hari ini, akhirnya Ahok (dan keluarganya) mencabut permohonan banding. Saya pribadi, meski bukan keluarganya - setuju. Berikut pendapat saya, bukan pendapat mereka. Sepanjang negeri ini masih sakit, permohonan banding Ahok sama saja dengan bunuh diri.

Lonceng keadilan di negeri ini telah mati. Gejala awal kematian itu terjadi sejak Ahok dinyatakan sebagai tersangka, dan seterusnya sampai akhirnya Ahok ditahan. Sebab jika lonceng keadilan masih hidup, Ahok harus bebas murni.

Keadilan dan hukum di negeri ini telah lancung. Kematian hukum dan keadilan itu bahkan dipertontonkan secara terbuka dan kasar dalam kasus Ahok. Para penyeleweng keadilan dan pendukung keadilan sama-sama bersembunyi di balik frase normatif : hormatilah proses dan keputusan hukim.

Jika Ahok nekad banding, besar kemungkinan hukumannya akan makin berat. Siapa yang bisa menjamin masih ada sisa roh keadilan di tingkat lebih tinggi ? Jadi, artinya Ahok memang mengakui bersalah soal penistaan agama dong ? Ya, memang apa bedanya ?

Di negeri yang sakit dan keadilan sudah mati - salah atau tidak sudah tak berarti lagi. Hukum sudah tak ada substansinya. Dan kebenaran Ahok sudah tidak ditentukan oleh hukum dan pengadilan - tapi moral yang berada di luar hukum. Jutaan, puluhan juta, bahkan mungkin ratusan juta orang yang meyakini Ahok tak bersalah (seperti kata LBH Jakarta dan pakar HAM PBB, hanya korban kriminalisasi) - lalu menyatakan simpati, dukungan dan cintanya - itulah kebenaran sesungguhnya.

 

Hukuman penjara dua tahun justru hanya jadi penanda : 1) matinya keadilan, de facto maupun de jure, serta 2) seperti diucapkan Ahok sendiri kepada sahabat terbaiknya, Djarot : untuk memberikan pencerahan kepada warganya.

Di negeri yang sakit ini, cap terhukum sudah tak ada artinya. Tapi kebenaran moral yang harus dikejar dan dipertahankan habis-habisan.

Dua tahun bukan waktu yang lama buat Ahok. Tak ada artinya dibanding nilai pencerahan bagi warga serta bangkitnya kekuatan rakyat (Silent Majority / SM). Sungguh, dua tahun itu sama sekali tak ada artinya.

Dan bagi para lawan politik Ahok, mereka sesungguhnya bukanlah meraih kemenangan. Kekalahan mereka telak. Mereka tak pernah menyangka bangkitnya kekuatan SM yang selama ini berhasil mereka redam. Dan bangkitnya kekuatan raksasa itu 'hanya' dibayar oleh dua tahun penjara Ahok.

Hok, jangan ragu jika engkau memang mau membatalkan pengajuan bandingmu. Engkau sesungguhnya telah menang bersama kekuatan rakyat atau SM.

Air matamu menjadi sumber daya hidup gerakan rakyat. Kepedihanmu menjadi monumen atau batu tapal 'Kebangkitan Nasional 2017' dan selanjutnya.

Pengorbanan Ahok adalah pengorbanan istri dan ketiga anaknya. Kita, dan bangsa ini berhutang budi pada keluarga itu. Kita wajib membayarnya, dengan terus bangkit dan membakar nyala api kebangkitan nasional rakyat (SM).

Tulikan telinga kita atas teriakan yang meminta agar kita "move on". Tak ada move on, sebab cinta rakyat pada Ahok tak pernah patah. Tulikan telinga kita atas teriakan yang meminta "rekonsiliasi". Bukan kita yang merobek-robek kepercayaan, tapi mereka. Rajutlah dulu kepercayaan yang kalian robek sendiri - maka kami akan menggandeng tangan kalian tanpa perlu ajakan rekonsiliasi.

Ahok, pengorbanan dan air matamu tak pernah menguap sia-sia.

Sampai jumpa pada perjuangan selanjutnya. No move on, no reconciliation ! Kita santai saja seperti reaksi Djarot : "Rekonsiliasi ? Aneh, kita ngga ngapa-ngapain kok rekonsiliasi ?"

Sumber : Status Facebook Harry Tjahjono

Monday, May 22, 2017 - 22:30
Kategori Rubrik: