Niqab Pengganti Penangkal Virus Corona?

ilustrasi

Oleh : Mila Anasanti

Anjuran untuk waspada dan siapkan masker dibalas dengan, "In syaa Allaah dengan memakai niqab lebih aman dan sesuai sunnah."

Duh, ummat Islam. Kadang semangat mengambil hikmah dari perkara yang disyariatkan memang bagus, tapi bukan berarti bermudah-mudahan menggampangkan sesuatu tanpa ilmu.

WHO telah menyatakan wabah 2019-nCoV sebagai darurat global yang menjadi perhatian internasional [1]. Artinya saat ini risikonya sangat tinggi baik di tingkat regional (China), juga di tingkat global.

Hingga tulisan ini diposting, 2019-nCoV bertanggung jawab atas 361 kematian di China dan 1 kematian di Philipin, dengan 45 kematian baru dilaporkan dalam periode 24 jam, dan 17.387 infeksi di seluruh dunia.

Jumlah kasus 2019-nCoV sekarang telah melampaui jumlah kasus dalam wabah SARS-CoV 2003 ataupun MERS, meskipun tingkat kematian masih lebih rendah (2 - 3%). Sedang Angka fatalitas kasus untuk MERS sekitar 37% dan 11% untuk SARS. [2]

Karena sudah menjadi warning bagi masyarakat global, ada baiknya kita lebih perhatian terhadap gejala, persebaran dan pencegahan virus ini.

Di gambar yang saya lampirkan, masker yang berwarna putih bernama N95 respirator, masker yang direkomendasikan untuk dipakai menghindari corona virus (2019-nCoV).

Bahkan masker warna hijau yang biasa dipakai dokter operasi bedah TIDAK CUKUP untuk melindungi penularan virus corona, apalagi niqab yang bagian pipi hingga bawah dagu tidak tertutup rapat.

Sejatinya, masker bedah dimaksudkan untuk ahli bedah, karena masker ini bisa menjaga patogen dari hidung dan mulut dokter untuk tidak masuk ke area yang dibedah.

Sedang masker bedah tidak dirancang untuk mencegah partikel virus, karena tidak terpasang erat di hidung dan pipi, berbeda dengan respirator N95. Tapi pemakaian respirator N95 dalam keseharian juga tidak direkomendasikan, karena membuat susah bernapas. Paling tidak pemakaian masker bedah mampu pengurangi risiko tertular dan tetap masih tergolong nyaman untuk dipakai keseharian.

Cara yang terbaik untuk menghindari 2019-nCoV menurut CDC:
1. menunda perjalanan ke China, terutama Wuhan, tempat virus berasal yang kini telah menginfeksi lebih dari 15.000 orang.

2. Rutin cuci tangan, hindari menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang tidak dicuci.

3. Hindari kontak dekat dengan orang yang sakit

4. Mendisinfeksi objek dan permukaan yang sering disentuh dengan bahan yang mengandung alkohol.

5. Hindari kontak dengan orang sakit batuk, dan jika punya gejala batuk, lebih baik berdiam di rumah.

Diagnosis harus dicurigai pada semua pasien dengan demam dan / atau gejala penyakit pernapasan (misal batuk, sulit bernapas), terutama yang tinggal atau telah melakukan perjalanan ke Provinsi Hubei, Cina, atau daerah lain yang terkena dampak dalam 14 hari terakhir.

Perkiraan masa inkubasi virus ini berkisar 2 hingga 10 hari, [3] dengan perkiraan median 5,2 hari [4].

Gejala klinis sangat menyerupai pneumonia virus, dan tingkat keparahan berkisar dari ringan hingga berat. Sebagian besar pasien datang dengan penyakit ringan, tapi sekitar 20% kasus berkembang menjadi penyakit parah. [5]

Gejala yang paling umum adalah demam, batuk, dan kesulitan bernapas. Gejala lain yang kurang umum termasuk mialgia, kelelahan, dahak, sakit kepala, sakit tenggorokan, rhinorrhoea, nyeri dada, hemoptisis, diare, dan mual / muntah.

Sekitar 90% pasien datang dengan lebih dari satu gejala, dan 15% pasien datang dengan demam, batuk, dan sesak nafas. Presentasi klinis menyerupai SARS, tetapi tampaknya lebih sedikit pasien yang memiliki gejala pernapasan atau gastrointestinal bagian atas [6] [7]. Beberapa pasien bahkan mungkin tidak menunjukkan gejala ini.

Sekitar 33% pasien mengalami komplikasi seperti sindrom gangguan pernapasan akut, cedera pernapasan akut, syok septik (tekanan darah yang sangat rendah sehingga tidak mendapat asupan darah dan oksigen karena infeksi di seluruh tubuh), dan cedera ginjal akut. Cedera jantung akut dan infeksi sekunder juga telah dilaporkan [6] [7].

Oh ya, belum terdeteksi ada korban di Indonesia, bukan berarti tidak ada. Karena 'tool kit' untuk mendiagnosis 2019-nCoV dengan cepat masih menunggu didatangkan dari luar negri. So, hati-hati ya.

Referensi:

[1]. https://www.who.int/…/30-01-2020-statement-on-the-second-me…

[2]. https://www.thelancet.com/…/PIIS0140-6736(20)30185…/fulltext

[3]. https://www.who.int/…/situ…/20200126-sitrep-6-2019--ncov.pdf

[4]. https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMoa2001316

[5]. https://www.who.int/…/s…/20200128-sitrep-8-ncov-cleared.pdf…

[6]. https://www.thelancet.com/…/PIIS0140-6736(20)30183…/fulltext

[7]. https://www.thelancet.com/…/PIIS0140-6736(20)30211…/fulltext

Sumber : Status Facebook Mila Anasanti

Sunday, February 9, 2020 - 12:15
Kategori Rubrik: