Ninoy VS PSI, Kalah Jadi Abu Menang Jadi Abu Juga

ilustrasi

Oleh : Aldie El Kaezzar

Buat saya sesederhana itu. Waktu pertama kali baca tulisan Ninoy, saya lihat ada disinformasi di sana. Seberapa banyak? Itu bisa diperdebatkan. Yang jelas tulisan Ninoy memang mengandung tuduhan yg salah.

Ninoy memang pantas diganjar hukuman, saya lihat berapa kali tulisannya memang offside. Dan sayangnya bukan offside tipis. Walaupun belum pernah tatap muka atau interaksi langsung, namun pernah berada dalam "1 lingkungan" dan melihat bagaimana dia berinteraksi dengan yg lain, memang terkadang membuat saya mengerenyitkan dahi.

Di mata saya ia orang yg pintar, namun seperti halnya semua orang, termasuk saya sendiri, pasti ada saja 1-2 hal yg perlu diperbaiki. Saya harap konflik ini bisa menjadikannya lebih matang lg. Dalam hal ini, saya tidak akan memihaknya. Ia jelas bersalah.

PSI gerak cepat beraksi, Ninoy pun jd "pesakitan". Ia mengaku salah, membuat peryataan maaf di atas materai dan video permohonan maafnya sudah disebarkan. Sore ini saya dapati, ternyata PSI baru saja melaporkan Ninoy ke polisi. Artinya isu ini diperpanjang ke ranah hukum.

Bayang kejadian ini sudah ada dalam kepala saya waktu membaca tulisan Ninoy. Tapi saya tidak menyangka ini terjadi setelah ada mediasi "kekeluargaan". Secara hukum PSI sangat berhak dan sah tapi secara "politik", ini bukan langkah yg cerdas.

Setelah mendatangi DPP PSI dan memohon maaf, alangkah eloknya kalau "buku ditutup", sudahilah. Karena mediasi memang umum dipahami sebagai jalur kekeluargaan, bukan jalur hukum. Jadi rancu kalau setelah ada mediasi tapi dilanjut juga ke jalur hukum.

Lain ceritanya kalau Ninoy minta maaf tanpa tatap muka atau mediasi. Ini masih wajar. Berlaku kalimat yg belakangan populer, "kami maafkan, tp proses hukum tetap lanjut."

Kalau kasusnya berhenti, orang akan melihat PSI sebagai korban. Dengan memaafkan, PSI justru bisa meraih simpati publik. Muda-emosional, itu biasa. Tapi muda-kalem-bijaksana, ini baru luar biasa.

Saya meyakini sedikit banyak kemenangan Jokowi di 2 periode ini justru karena posisinya sebagai korban fitnah dan hoax yg masif. Jadi kasus ini harusnya bisa dimanfaatkan PSI sebagai batu loncatan.

Kasus Adian mungkin bisa jadi contoh, secara moral, permintaan maaf seharusnya jadi garis finish sebuah kasus. No more episodes after this.

"Dari sisi hukum, kepolisian sudah melakukan penindakan yang benar sesuai prosedur, itu sudah tepat. Namun sebagai manusia, terlebih lagi ini sudah mendekati lebaran, dan mereka (pelaku) sendiri sudah menyatakan meminta maaf dan menyesali perbuatannya maka saya juga harus bisa memaafkan," -Adian (Kompas)

Bayangkan kalau PSI mengeluarkan pernyataan senada, bohong kalau tidak ada yg simpati.

Biarlah kali ini keduanya menjadi abu, tanpa ada arang, karena memang tidak ada yg patut jadi pemenang. Mudah-mudahan kasus ini mampu mendewasakan mereka (juga kita semua) dan ada kalanya itu harus ditempuh melalui sebuah "kesalahan", kejatuhan atau bahkan kehancuran.

Tapi, jangan kuatir, toh menjadi abu bukan artinya tanpa manfaat, karena ia bisa menjadi pupuk yg baik untuk tanaman bukan? So, tidak pernah ada kata terlambat untuk bangkit dan memulai kembali.

Sumber : Status Facebook Aldi El Kaezzar

Saturday, July 13, 2019 - 11:15
Kategori Rubrik: