Nilai Kekuatan Uang Bagi Muslim

Oleh : Putra Rahman

Sebagian besar dari kita menganggap uang 10.000 rupiah adalah uang kecil yang tak ada artinya apa-apa, apalagi saat dibelanjakan (jajan), tapi bagi sebagian orang lain terlihat sangat besar dan sangat berharga. Untuk mencari uang sebesar ini mereka harus bersusah payah, dan banyak orang menganggap uang sebesar ini adalah nyawa untuk keluarga mereka dalam sehari.

Uang, dana, atau harta itu sangat penting. Ia memang sangat menentukan, walau tidak segala sesuatu itu bisa dinilai dengan uang, namun segala sesuatu butuh uang. Gerakan apapun yang tidak ditopang oleh uang bin dana alias harta, pasti akan kalah. Termasuk gerakan kaum Muslimin yang menginginkan kemajuan hidup.

Sebagian orang bersikap negatif terhadap masalah harta-benda ini. Mereka berdakwah, berceramah, menyebarkan buku, tulisan, menggelar majlis taklim, dan lain-lain dalam rangka mengajak kaum Muslimin menjauhi urusan harta (dana).

Alasan mereka sangat klise, dan sudah berulang-ulang disampaikan. Mereka berkata, "Hendaklah kalian menjauhi dunia. Karena dunia itu di mata Allah lebih rendah dari bangkai binatang. Sibukkan diri kalian dengan ilmu dan ibadah, lupakan harta-benda. Harta hanya akan menyusahkan kalian di akhirat nanti. Berzuhudlah terhadap dunia, kurangi mimpi-mimpi tentang harta, sibukkan dirimu dengan dzikir, ilmu, ibadah. Jangan tertipu oleh harta-benda, karena semua itu akan membinasakan kalian, membuat kalian menjadi rakus, jauh dari Allah, serta membuat kalian terlibat konflik dengan sesama saudara!"

Dan nasehat-nasehat sejenisnya yang seringkali kita dengar, namun yang menyampaikan nasehat itu malah bergelimang harta.

Banyak sekali orang berpikir salah-kaprah seperti itu. Pemikiran-pemikiran yang salah dalam menempatkan sesuatu. Zuhud dunia adalah benar, tetapi tidak di semua keadaan berlaku prinsip zuhud dunia. Zuhud tidak serta merta harus tidak berharta, justru harus banyak harta tapi tidak dikendalikan oleh harta, tapi bisa mengendalikan harta. Inilah yang dinamakan Zuhud.

Harta dan benda itu sangat berpengaruh dalam kehidupan kaum Muslimin. Mengapa? Sebab fitrah manusia itu LAHIR-BATIN. Batin manusia dicukupi dengan agama, lahirnya dicukupi dengan harta benda (materi). Ini seperti dua sisi pada sekeping mata uang. Dimanapun berada, urusan kita tidak akan lepas dari urusan: agama dan harta (urusan lahir-batin).

Coba pahami beberapa hal di bawah ini:

~ Ketika Ummat Islam fakir dari harta-benda, mereka tidak bisa mendirikan perusahaan-perusahaan. Akhirnya perusahaan didirikan oleh orang-orang non Muslim. Akibatnya, mereka bebas menentukan aturan apapun dalam perusahaan mereka.

~ Kalau seorang Muslim yang shalih memiliki harta, lalu mendirikan perusahaan. Maka Insya Allah, dia akan memproduksi sesuatu hal yang baik. Tetapi kalau yang mendirikan perusahaan itu orang-orang yang memuja hawa nafsu, mereka membuat produk yang penting laku, tanpa mengindahkan sebab akibat yang bisa timbul dari produknya, sehingga akibatnya menyusahkan kita semua.

~ Ketika Ummat Islam fakir, maka mereka akan selalu mencari kerja, mencari penghasilan ke perusahaan-perusahaan tertentu, termasuk perusahaan milik non Muslim. Ya, bagaimana lagi, tidak ada perusahaan milik Muslim kok? Kalaupun ada, itu untuk keluarga mereka sendiri dan kawan-kawannya. Akhirnya, tenaga kaum Muslimin terpakai untuk membesarkan bisnis orang lain.

Ini adalah FAKTA yang ada di tengah-tengah masyarakat kita selama ini. Jangan berlagak pilon dengan mengatakan, bahwa harta-benda tidak dibutuhkan Ummat. Itu adalah pemikiran sesat yang harus dibuang dari akal Ummat ini.

Harta itu salah satu pilar ajaran Islam. Menjaga harta, menjadi 1 dari 5 prinsip dasar Islam. Harta sangat besar pengaruhnya bagi agama seorang Muslim. Contoh sederhana, ketika kurs rupiah anjlok, bisnis-bisnis Muslim banyak yang gulung tikar. Akibatnya, banyak orang menjadi pelaku kriminal, terlilit rentenir, bahkan sampai ada yang murtad karena kesusahan ekonomi. Lihat saudara, akibat kurs rupiah turun, agama pun turun!

Lalu bagaimana dengan seruan Zuhud, meninggalkan dunia, mencintai Akhirat, tidak sibuk dengan harta-benda? Bukankah semua itu juga ajaran Islam?

Iya benar, semua itu ajaran Islam. Tapi jangan salah dalam menempatkan ajaran-ajaran itu. Kita harus menempatkan segala sesuatu pada PROPORSI-nya. Jangan dicampur aduk!

Harta itu memiliki setidaknya 4 fungsi, yaitu: 1. Kebutuhan fitrah; 2 Sarana kemudahan; 3. Fitnah; dan 4. Kekuatan.

Sebagai kebutuhan fitrah, setiap manusia membutuhkan harta, agar tetap survive dalam kehidupan. Tanpa harta, kita akan mati, atau kelaparan, atau sengsara, karena tidak memiliki uang untuk membeli kebutuhan-kebutuhan hidup.

Sebagai sarana kemudahan (fasilitas), harta mempermudah urusan manusia. Manusia bisa kemana-mana dengan jalan kaki, tapi kalau memiliki harta bisa membeli motor. Manusia bisa menulis dengan tangan, tapi kalau memiliki harta bisa membeli komputer. Manusia bisa mengiris singkong secara manual, tapi kalau punya harta bisa membeli mesin pengiris singkong. Manusia bisa lebih mudah bekerja, belajar, memperbaiki rumah, bepergian, memasak, dan sebagainya dengan fasilitas yang dimiliki. Semua itu butuh harta untuk membeli fasilitas.

Sebagai fitnah, yaitu ketika nilai harta yang dimiliki seseorang jauh lebih besar dari kebutuhan layaknya, lalu orang itu sibuk dan terlena bermain-main dengan harta-bendanya. Nah, sikap seperti inilah yang sebenarnya dilarang dalam Islam.

Sebagai quwwah atau kekuatan, harta adalah penentu kemenangan dalam kompetisi antar keyakinan. Orang Yahudi memiliki slogan, “Dengan harta, kami bisa membeli apa saja.” Mereka bukan hanya membeli fasilitas, tetapi juga bisa membeli opini, hukum, jabatan, serangan militer, kebenaran ilmiah, bahwa fatwa keagamaan. Malah mereka bisa membeli “nyawa” manusia.

Cara mudah memahaminya sebagai berikut: “Untuk urusan kesenangan pribadi dan keluarga, silakan Anda bersikap zuhud sebaik-baiknya. Tetapi untuk urusan kemuliaan Ummat, dilarang kita bersikap zuhud, sebab sama saja hal itu dengan membiarkan Ummat tertimpa kefakiran, kelemahan, serta kerusakan iman.” Semua hal yang menyebabkan Ummat ini rusak, hukumnya haram.

Kaidah Zuhud itu beredar dalam masalah pribadi (privacy), bukan dalam konteks masyarakat kaum Muslimin. Secara pribadi, kalau seseorang ingin hidup semiskin-miskinnya, agar kelak di Akhirat hisabnya mudah, silakan saja, welcome man! Tetapi dalam konteks masyarakat Ummat Islam, wajib kita menguasai aset-aset kekayaan. Kalau kita tidak menguasai aset kekayaan itu, eksistensi agama kita tidak akan selamat dari rongrongan orang kafir.

Dalam Islam itu ada hukum ghanimah, baitul maal, zakat, nafkah, warits, shadaqah, diyat, dan sebagainya. Betapa banyak hukum-hukum seputar harta-benda. Sampai urusan susuan (radha’ah) diatur dalam Islam, padahal ini menyangkut hak-hak nafkah bagi bayi. Ini menandakan, bahwa Islam sangat besar perhatiannya terhadap urusan harta-benda.

Kalau Anda saksikan, bagaimana wajah peradaban modern? Ya, kita sudah sama-sama tahu. Wajah dunia modern telah dikangkangi oleh selera Yahudi dan kepentingan mereka.

Lalu pertanyaannya, “Mengapa Yahudi begitu merajalela?”

Ya, karena mereka didukung oleh sumber dana yang amat sangat besar. Ada yang pernah menyebut harta milik Yahudi internasional saat ini sekitar 5000 triliun dollar. Entahlah, saya tidak tahu tepatnya. Andai benar jumlahnya senilai itu, ya wajar kalau mereka mampu membiayai jaringan New World Order di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Mereka tidak akan kehabisan suplai dana untuk membiayai aksi-aksi mereka.

Sementara itu, dakwah kaum Muslimin baru beredar dalam urusan kotak amal, sumbangan koin, pengumpulan zakat, infaq, shadaqah, bisnis kitab, dan sebagainya. Bahkan lebih parah lagi malah menghabiskan tenaga dan pikiran untuk berdebat tentang masalah furuiyah dan khilafiyah.

Prinsip dasar yang harus dipahami oleh ummat Islam adalah: "Wajib bagi kaum Muslimin memikirkan pertarungan kepemilikan aset ekonomi, untuk menjaga agama kita ini. Karena siapapun yang paling menguasai aset, mereka akan berkesempatan membesarkan agamanya."**

Sumber : facebook Putra Rahman

Monday, March 20, 2017 - 08:45
Kategori Rubrik: