Nikmat Akal

Oleh : Denny Siregar

"Menariknya dunia ini ia seperti sarang laba-laba raksasa..

Lekatannya sangat kuat dan sulit untuk keluar dari perangkapnya. Sekali kita merasakan manisnya, kita terus merasa haus dan haus untuk terus mereguknya. Itulah kenapa kita selalu menemukan orang2 yang tamak dan serakah, karena rasa hausnya tidak pernah selesai.

Kelekatan jiwa kita dengan dunia menjadikan nafsu kita semakin berkuasa. Keinginan kita tinggi dan angan kita panjang. Semakin kuat nafsu berkuasa terhadap diri kita, maka kita perlahan berubah menjadi binatang.

Ada yang licik seperti ular, ada yang buas seperti serigala bahkan ada yang pemalas seperti babi. Binatang adalah mahluk tak berakal. Dari sini bisa diartikan bahwa ketika nafsu menguasai jiwa kita, maka kita tidak ubahnya menjadi binatang karena akal pun hilang.

Memang mengerikan berada pada kondisi itu. Dan saya pun pernah mengalaminya.. "

Temanku duduk menerawang membayangkan situasinya dulu yang kutahu sangat berbeda dengan sekarang. Dahulu tema obrolan selalu bersifat materi dan jauh dari nilai. Mobil bagus, wanita cantik dan hal-hal yang - kalau diperhatikan - sebenarnya mirip anak kecil sedang memamerkan mainan terbarunya.

"Bagaimana caranya bisa keluar dari situasi itu ?" Tanyaku heran. Menarik mendengar pengalaman seseorang dalam sisi spiritual. Tidak lupa cangkir kopi terhidang di depan kami selama pembicaraan.

Dia terdiam sejenak, seperti melemparkan dirinya kembali ke masa lalu.

"Ah.. menakutkan sebenarnya. Pertama aku dihajar dari sisi terlemahku, berhala yang kubangun sendiri. Kebetulan aku sangat mengagungkan harta yang kupunya..

Ketika aku ingin bertobat, maka apa yang kukumpulkan dulu "diambil" secara paksa melalui peristiwa. Menyakitkan memang, tapi baru kutahu kemudian bahwa itulah yang disebut proses penyucian atau penyembuhan.. Namanya sedang disembuhkan ya sakit.

Lama proses dan intensitas sakitnya, sebanding dengan banyaknya maksiat yang kulakukan. Aku seperti dikupas bagian per bagian, dimana setiap bagian mempunyai level sakit yang berbeda.

Semakin dikelupas, aku merasakan cara berfikirku menjadi beda. Ternyata dampak dari proses penyembuhan itu adalah akal menjadi terang, seperti ada kabut yang disingkirkan. Dari situ aku jadi bisa melihat lebih jelas semua permasalahan bahkan solusinya.

Jadi sebenarnya semua itu hanyalah masalah berfungsinya kembali akal. Mengembalikan kita kembali menjadi manusia. Keterikatan kuat kita pada dunia perlahan-lahan berkurang ketika akal terang. Kita menjadi orang yang lebih mementingkan fungsi daripada gengsi. Dan ketika sampai pada tahap pemikiran itu, hidup menjadi lebih enteng. Tenang..

Dan ketenangan membawa kebahagiaan yang bukan lagi semu, bahagia dengan kepura2an tetapi rapuh, menghibur diri dengan bungkusan materi. Bahagia plastik, made in China.. "

Aku gelak mendengar analoginya. Entah apakah aku berani berada pada situasi sepertinya. Itu seperti latihan menjadi pasukan khusus, pasti sangat berat menanggungnya..

Ah, entahlah.. kuhirup saja secangkir kopi sambil terus mendengarkan petualangannya..

"Ketika Tuhan hendak menghilangkan nikmat pada hambaNya, maka pertama kali yang akan dihilangkan adalah nikmat akalnya.." Imam Ali as**

Sumber : facebook Denny Siregar

Friday, December 23, 2016 - 16:00
Kategori Rubrik: