Nikita? Kenapa Tidak? (Angel of Verdun)

ilustrasi

Oleh : Karto Bugel

Sempat terpikir bahwa masalah hanya akan berhenti cukup di situ dan Maher dikorbankan. Berarti tulisan saya "The Angel of Verdun" langsung salah seketika.

Betapa sayang bayangan si cantik dan nyablak itu hanya berumur sangat pendek. Langkah kaki "biyayakannya" yang sangat mungkin telah tak sengaja "nyrimpet" benang merah yang konon berfungsi sebagai pengikat rekat sebuah misteri yang lama dicari, tak memiliki makna apapun.

Ternyata tidak. Cerita ini masih berlanjut. Para lelaki salah baju itu terlalu arogan untuk mundur demi meredakan riuh suara yang telah dibuat salah satu anggotanya alih-alih jera pada sosok sexy Nikita.

"Lonte" bergema, dan namun kuping kita tak sakit.

Dia yang memilih diksi "lonte" dalam amuknya itu justru sedang menghancurkan jubah dan julukan yang lama menempel padanya. Runtuh, tanpa dapat dicegah lagi. Dia menista dirinya sendiri dengan mulutnya.

Berbalik makna dengan panggilan habib yang dulu sangat kita jaga dan namun entah kenapa tiba-tiba makna luhur itu mulai runtuh, tiba-tiba, kata lonte tak lagi membuat telinga kita sakit. Tak ada rasa gatal pada telinga apalagi marah terhadap stigma buruk yang sengaja ditempelkan oleh seorang pemimpin umat pada sosok perempuan modis bernama Nikita. Kita enjoy saja mendengarnya.

"Kenapa?"

Ga harus kenapa dong! Ga harus selalu punya alasan kan? Begitulah kita seharusnya. Dulu hidup kita enjoy ajah koq dengan kelakuan dan mulut loncer teman-teman main kiita.

"Rese lo ahh". Atau "ngehe loe!". Indah-indah saja kan? Kita ga ngamuk dan tersinggung dengar makian teman dangan diksi seperti itu kan?

Entah sejak kapan, tiba-tiba masyarakat kita berubah. Tiba-tiba semua jadi lebay, dikit-dikit pakai bahasa Arab hanya supaya terlihat ngarti agama dan santun. Baju kita berubah, gaya kita jadi "weird". Mbuh lah..!! Kita jadi "awkward".

Sempat kita sedikit terhibur dengan kelakuan gila Ahok. Mulutnya bener-bener seperti ga punya rem. Lebih parah dari kebanyakan cara kita becanda. Tapi, jangan tanya bagaimana hatinya. Jangan tanya kejujuran dan keberpihakannya pada orang banyak. Ahok is the best.

Tapi kita menolaknya. Kita sudah keburu masuk pada cara-cara asing yang hanya bersifat artifisialistik.

Ahok tumbang karena kita sudah berubah dengan senang budaya asing yang sebenarnya ga akan ga pernah melebur dalam satu jiwa kemanusiaan kita. Kita Indonesia yang tak mungkin kehilangan ke Nusantaraan kita meski langit runtuh. Itu PASTI!

Lalu, munculah Nikita. Sesaat kaget dan gamang, dan kita mengambil jarak demi mengamatinya. Anehnya, ada kekitaan banget pada perempuan "sedeng" itu. Dan lebih aneh lagi, mudah bagi kita suka pada sosok apa adanya tersebut. Nikita hadir mengisi apa yang kemarin pernah hilang.

Saya ga tahu dengan anda, tapi saya suka dengan caranya hadir. Bila kalian pun suka dan bisa menerima, selamat saya ucapkan. Berarti, ada harapan sembuh bagi kita untuk menjadi normal kembali.

Pada saat yang sama, akan mudah bagi kita melawan dan mengusir pengaruh asing itu dengan local genius kita. Imun atau antibodi yang muncul setelah adanya infeksi adalah cara paling sempurna melawan virus asing apapun.

The Edge of Tomorrow menggambarkan seorang perempuan bernama Rita Vrataski yang diharapkan banyak prajurit disekelilingnya menjadi panglima demi memimpin dan bertempur dengan alien yang ingin menguasai bumi.

The Angel of Verdun sebagai julukan Rita, tak terlalu berlebihan kita sematkan pada sosok Nikita Mirzani untuk kita dapuk menjadi figur pemersatu dalam melawan pengaruh asing (alien) yang telah membuat kita terkapar.

Nikita adalah kita dan kita adalah Indonesia.

Kemarin, dia kabur dan tak pernah berani pulang karena sebab perempuan. Hari ini, ada perempuan yang akan menjadi neraka baginya seumur hidup.

"Nikita?"

Kenapa tidak? Sudah saatnya!!
.
.
RAHAYU
.
Sumber : Status Facebook Karto Boogle

Monday, November 16, 2020 - 11:30
Kategori Rubrik: