Nikah Siri

ilustrasi
Oleh : Ahmad Sarwat
 
Ustadz, apa hukumnya nikah sirri?
 
Pertanyaan kayak gini biasanya saya cuekin, cuma saya baca pertanyaannya tapi saya gak balaskan jawabannya.
 
Tapi si pengirim WA satu ini ngotot minta jawaban, soalnya dia terlanjur nikah sirri. Pagi sore siang malam, wiridannya kirim WA ke saya minta jawaban.
 
Rada sebel juga, terus saya jawab gini : Ente mau nggak beli mobil bagus tapi murah, Kijang Innova baru gress langsung dari showroom, cuma 50 juta doang, sudah termasuk dapat hadiah. Tapi nggak pakai BPKB/STNK? 
 
Dia mikir agak lama gak dijawab-jawab. Tapi akhirnya dia bilang, berarti itu mobil bodong dong ya ustadz? 
 
Ya 100% mobil bodong. Lewat di jalanan ketemu polisi judulnya selalu deg-degan, sport jantung. Kan ggak ada plat nomor polisinya, kecuali palsu bikinan pinggir jalan. Polisi yang jeli pasti tahu plat nomor palsu.
 
Dia balik tanya lagi, tapi gini ustadz, saya nikah sirri karena diajarin sama ustadz saya. Beliau juga nikah sirri, saya jadi ikutan beliau. 
 
Wah, ini dia nih profil ustadz yang enggak bener. Sudah ambil jalan tidak benar, eh malah ngajarin muridnya jalan yang nggak bener juga. 
Kenapa nggak bener? 
 
Pertama, dia nikahi anak perawan orang secara sirri, artinya tidak ada legalitasnya. Di mata hukum, meski halal untuk dijimak, tapi jelas perempuan itu bukan istrinya. Resikonya kalau nginep di hotel kalau pas ada razia, pastinya digelandang pak hansip. Sebab alamat mereka berdua di KTP berbeda. 
 
Kedua, kalau hamil dan punya anak, anaknya tidak bisa dapat akte lahir yang normal. Akibatnya, status legalitas anak ikut jadi masalah. Anak yang tidak tahu apa-apa ikut menanggung ulah ayahnya.
 
Ketiga, kalau ribut urusan cerai apalagi urusan harta gono-gini, tidak bisa mengadu ke Pengadilan Agama. Sebab di mata hukum, keduanya memang bukan suami istri. Jadi Pengadilan Agama tidak bisa berbuat apa-apa. 
 
Keempat, kenapa nggak nikah yang beneran aja? Jawabnya karena tidak dapat izin dari istri pertama. Bila tidak ada surat izin resmi dari istri pertama, KUA tidak mau berikan surat nikah resmi. Maka langka satu-satunya ya nikah sirri alias nikah bawah tangan yang ilegal. 
 
Kelima, perbuatan macam ini dulu awalnya cuma jalan keluar yang tidak rekomended. Guru-guru kami yang asli dari Mesir atau Timur Tengah bertugas di Jakarta bertahun-tahun tapi tidak memungkinkan mengajak istri. 
 
Maka urusan kebutuhan biologisnya jadi masalah. Jalan keluar yang penuh resiko adalah menikah dengan wanita lokal tanpa lewat urusan KUA resmi. Dan pernikahan mereka rata-rata bermasalah, khususnya ketika masa tugas selesai dan mereka kudu balik ke negeri masing-masing. Rata-rata pernikahan mereka berakhir dengan perceraian.  
 
Rela anak perawan ente digituin? Kalau ente gak rela, ya ente jangan begitu dong sama anak perawan orang. Ini udah salah, pamer dan ajak-ajak orang ikut perbuatan gak bener pula. 
 
Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat, Lc.,MA
Friday, June 7, 2019 - 19:45
Kategori Rubrik: