Nicke Widyawati, Srikandi yang Melampaui Banyak Laki-laki

ilustrasi

Oleh : Kajitow Elkayeni

Tempo hari menteri keuangan Sri Mulyani mendapat penghargaan sebagai Menteri Keuangan terbaik di Asia Timur dan Pasifik tahun 2020, oleh Majalah Global Markets. Pasalnya Sri dianggap berhasil mengamankan keuangan negara di tengah amukan pandemi Covid-19.

Indonesia sebenarnya punya banyak nama. Perempuan-perempuan itu membuktikan, kemampuan mereka untuk memimpin jauh lebih baik dari sekian banyak lelaki.

Hal itu menunjukkan, pemikiran sempit tentang machoisme terhadap sosok pemimpin harus ditiadakan. Itu sudah tidak relevan bagi akal sehat. Patriarki adalah cara pandang yang usang. Meskipun saya juga anti feminisme yang kebablasan. Perempuan boleh memimpin di depan, asal dia mampu.

Toh banyak laki-laki yang hanya pandai bermanis-manis kata. Lembek dan hobi punya simpanan di mana-mana.

Baru saja, anugerah yang sama diterima oleh perempuan lain di Indonesia. Seorang pemimpin yang, meski sering dianggap lemah, ternyata memiliki jiwa kepemimpinan yang unggul. Orang ini sempat diprediksi akan jatuh. Sebab dia perempuan. Dan perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah. Ternyata dia malah tambah kokoh.

Namanya Nicke Widyawati yang menjabat Dirut Pertamina. Nicke didaulat sebagai Perempuan Paling Berpengaruh di Dunia atau Most Powerful Women International, versi majalah bergengsi Fortune tahun 2020. Ia berada di peringkat ke-16 dalam daftar itu, di antara sekian miliar perempuan di dunia.

Dia adalah perempuan yang sering berada di posisi sulit. Berbagai kasus besar sering kali dikaitkan dengan dirinya. Namun kemudian terbukti dia bersih. Politisasi semacam itu bukan hal baru untuk mengincar posisi strategis. Kita tahulah mainan mereka.

Sebenarnya wajar jika Nicke sering kesrempet kasus-kasus besar. Maklum posisinya juga sangat strategis. Sejauh ini, ia telah menunjukkan integritasnya. Ini memang bukan jaminan untuk masa yang akan datang. Tapi yang bisa kita baca adalah track record. Selama itu pula kita harus berbaik sangka.

Perusahaan negara itu adalah tempat yang bising. Ada banyak sekali kepentingan politik yag berkelindan di sana. Seorang direksi BUMN adalah pecatur ulung. Mereka harus bisa mengendalikan berbagai kekuatan yang sedang beradu kuat.

Ada yang dari Istana. Ada yang dari Senayan. Dibutuhkan mental dan kemampuan bermanuver yang hebat untuk menjinakkan keduanya. Pintar saja tidak cukup.

Saya pikir inilah yang disebut etos kepemimpinan. Tidak semua orang diberi anugerah demikian. Saya bukan termasuk orang yang cocok untuk memimpin. Saya tahu diri dan lebih nyaman berdiri di belakang. Hanya orang-orang tertentu yang sanggup berdiri di depan. Apalagi di tempat yang sangat panas bernama kursi direksi BUMN itu.

Menjadi direksi BUMN bukan hanya karena lahan tersebut basah. Itu sudah pasti. Tapi menjadi seorang direksi adalah sebuah prestise, pencapaian yang akan dikenang sepanjang masa. Terlebih jika orang itu mampu membuat terobosan baru. Ia akan menjadi legenda. Oleh sebab itu, meski risikonya sangat besar, perebutan kursi direksi BUMN sering kali riuh. Bahkan rusuh.

Bayangkan saja, kerja direksi BUMN itu diawasi oleh banyak pihak. Ada komisaris, menteri, presiden, DPR, media massa, netizen, SJW, dan tentu saja Tuhan. Hanya orang yang bemental baja saja yang bisa berdiri di titik paling panas itu. Kecakapan untuk membuat keputusan-keputusan genting menjadi pertaruhan. Harus punya etos kerja di atas rata-rata. Jaringan politik kuat. Dan pastinya restu penguasa.

Nicke adalah perempuan, tapi di tengah keriuhan itu ia telah membuktikan kualitasnya. Power dan karisma yang dimilikinya terbukti mampu membuatnya bertahan. Itu menandakan, keberadaan Nicke juga direstui oleh Jokowi. Sebab jika bukan kualitas yang bersangkutan, apa lagi yang mau disorongkan padanya?

Jalan ke depan memang masih panjang. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di sana. Di kursi panas itu begitu banyak kekuatan beradu tegang. Tapi apa yang dicatat sejarah ini patut untuk diabadikan. Bahwa perempuan-perempuan itu layak disebut sebagai srikandi di abad ini. Mereka layak mendapat tempat khusus, sebagai sosok yang pantas dihormati. Sejajar, bahkan melampaui banyak laki-laki.

Di tengah maskulinitas yang lembek, perempuan-perempuan itu berhasil muncul sebagai pemimpin. Bertahan dari gempuran. Bekerja dengan sebenar-benarnya. Bukan hanya pemimpin yang hanya bisa menata kata, harta dan wanita. Seperti gubernur yang untuk menyebut namanya saja berat sekali rasanya…

Sumber : Status Facebook Kajitow Elkayeni

Monday, October 26, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: