Ngrowot, Ndaud, Nahun dan Rindu

ilustrasi

Oleh : Fuad Adi

Sepekan yang lalu, tepatnya setiap jumat pertama, kami "menyambangi" (semacam bezuk kepada anak yang belajar di pesantren) anak kami.

Menyambangi adalah jadual yang bisa mengalahkan segala jadual kegiatan apapun, berurusan dengan siapapun, kecuali jika dikonversi secara nilai sebanding atau melebihi dari moment bertemunya kami sebagai satu keluarga utuh.

Maka khusus kepada jadual menyambangi ini kami pasang tarif sangat tinggi untuk dipertukarkan dengan agenda lain kami. Dan sampai saat ini belum ada yang mampu menembusnya. Satu hari di setiap bulan ini memiliki harga yang sangat tinggi bagi kami.

Tingginya harga berkesempatan kumpul satu keluarga utuh nyata terlihat saat anak kami bercerita kehidupan dia di pesantren akhir-akhir ini.

Sejak dua pekanan yang lalu ia mulai "ngrowot", tradisi yang dilakukan orang Jawa sebagai sarana penguatan batin dengan meninggalkan mengkonsumsi bahan makanan pokok dari beras. Ini juga mengajarkan bahwa makan tidak harus selalu nasi. Hidup tidak boleh bergantung pada makhluk. Tradisi ngrowot biasanya berlangsung di pesantren-pesantren salaf.

Tidak hanya ngrowot, ia juga mulai "ndaud", puasa daud. Puasa yang dilakukan dengan berselang-seling satu hari puasa satu hari tidak. Kecuali pada hari-hari yang diharamkan berpuasa.

Terhadap dua amalan itu bundanya merespon antara prihatin dan merelakan. Tetapi tidak sama sekali pada laku yang beberapa santri juga melakukan, yakni "nahun". Tradisi santri yang tinggal di pesentren setahun sampai tiga tahun penuh tanpa pulang ke rumah satu haripun.

"Kalau mau ngrowot atau daud bunda ok-ok saja, tapi jangan nahun ya...".

Sumber : Status Facebook Fuad Adi

Monday, February 17, 2020 - 08:00
Kategori Rubrik: