Ngributin Terminologi Imsya

Ilustrasi

Oleh : Ahmad Tsauri

Dulu waktu SD sampai SMP kelas 1, ngaji safinah tijan, jurumiyah tiga sampai empat tahun gak ganti-ganti, bosan juga. Pengen ganti kitab yang tebal-tebal, kalau ditumpuk itu kan keren.

Sekarang ada ustadz yang ngomong, -titelnya Doktor-, rukun wudhu ada 2, saya mensyukuri cara guru-guru dahulu mendidik. Walaupun saat itu saya sangat bosan. Kiai atau ustadz Pesantren NU menekankan penguasaan basic baru naik kelas atau tingkat. Disiplin.

Ada juga ustadz yang ngotot, waktu imsak sebelum subuh tiba itu adalah bagian dari puasa, tidak boleh makan atau aktivitas konsumsi lainnya. Katanya karena puasa, الصوم secara bahasa itu artinya al-imsak الامساك. Ini keliru.

Orang-orang ini PD sekali. Saya merenung, jika hukum yang amat dasar, pelajaran kelas 3 SD, sangat prinsip, tidak memahami bagaimana syariat Islam lainnya yang begitu kompleks. Dan tiap hari mereka berbusa-busa jadi juru bicara agama.

Imriti, qawaid i'rab, baiquniyah, alfiyah, maknun, juman, dan Zubad yang 1000 bait lebih itu saya pernah hafal (pernah hhhe). Karena itu dasar. Meskipun demikian saya mengakui, shorof morfologi dibanding kawan-kawan satu angkatan saya lemah, karena saya langsung tsanawi, berbeda dengan kawan-kawan yang dari ibtida.

Saya mempelajari shorof otodidak. Dalam kumpulan kitab matan, amsilatu tasrifiyah, kitab sorof saya jadikan paling atas, kemudian qawaid i'rab, kitab nahwu yang paling saya sukai, kemudian jauhar maknun baru alfiyah ibn Malik. Terinspirasi senior dari madura, meskipun sudah dirumah menjadi kiai, kitab-kitan matan ini diulang terus menerus.

Jadi jangan malu, untuk mengakui kekurangan dan mempelajari dari awal. Daripada berbicara sesuatu yang tidak kita pahami. Saran saya ikut saja dai 200 yang di rilis kemenag, itu aman. Maslahah bagi dunia dan akhirat kawan-kawan.

Selamat berbuka puasa.

Sumber : Status Facebook Ahmad Tsauri

Sunday, May 20, 2018 - 14:45
Kategori Rubrik: