Nggak Pake Marah, Cukup Senyumi Aja

Oleh: Wahyu Sutono
 
Di era Presiden Soeharto, harga cabe selalu terkendali. Karena bila harga cabe naik, maka Pak Harto cukup bawa pot berisi tanaman cabe yang diletakan di atas meja kerja, lalu para menteri terkait dipanggil menghadap.
Pak Harto cukup tersenyum, maka esoknya harga cabe pun stabil kembali. Pak Harto tidak perlu marah seperti Pak Jokowi. Cukup dengan senyum dalam menyelesaikan suatu masalah. Itulah arti dari cuitan om-om di Berkarya.
 
 
Luar biasa kan kala itu. Hanya saja nggak kebayang kalau yang naik itu harga kambing, apa dibawa ke meja kerja juga? Embeeee...
Begini lo Om Berkarya.. kala itu kami masabodo dengan persoalan harga apapun, karena pada dasarnya daya beli masyarakat memang rendah, sebab penghasilannya kecil sekali. Yang agak tajiran itu bisa dihitung jari.
Makanya "Laporan Khusus" yang rajin disampaikan Om Harmoko yang selalu diawali dengan kalimat "Menurut Petunjuk Bapak Presiden" itu malah terasa mengganggu kami yang sedang asik nonton televisi hitam putih yang channelnya hanya TVRI doang.
Lagipula yang namanya cabe, tomat, sayuran, dan umbi-umbian, kami sudah menanam sendiri di halaman rumah, agar tak semua kebutuhan dapur harus membelinya ke pasar.
Satu hal yang paling prinsip seperti ini lo Om. Harga cabe itu selamanya akan selalu fluktuatif mengikuti cuaca. Bila musim kemarau seperti sekarang ini, pastilah akan murah, karena cabe memang berlimpah. Itu sesuai teori supply and demand kan?
Lalu akan naik harganya bila di musim penghujan, apalagi bila curah hujan sedang tinggi, dimana cabe banyak yang busuk. Jadi kalau kala itu harga cabe bisa turun saat musim penghujan, artinya petaninya yang dipaksa menurunkan harga. Alhasil petani cabe yang rugi, tapi mereka takut untuk mengeluh, apalagi hingga menentangnya.
Itulah moda otoritarian kala itu...
Salam dari cengkeh untuk BPPC

(Sumber: Facebook Wahyu Sutono)
 

 
Wednesday, July 1, 2020 - 20:45
Kategori Rubrik: