Ngeslam Ketemu Tapir

ilustrasi
Oleh : Harun Iskandar
(Islam Yang Satu Itulah islam-ku )
Dulu sekali, ketika saya masih 'lugu', jika ada teman atau orang lain 'ndawuh', 'Islam Itu Satu !', saya terkagum-kagum.
Pikir saya, orang ini begitu tinggi 'ilmu'nya sampai mampu omong begitu. Kagum juga atas 'keteguhan'nya . . .
Dulu sekali . . .
Tapi makin lama makin ndak enak hati saya. Karena makin lama makin 'nggladrah'. Pikir saya, nurut saya, silakan saja omong begitu tapi dengan 'santun', bijak, serta fikir dan hati yang bersih.
Artinya 'Islam' yang diomongkan itu harus punya sifat 'netral'. Ndak ngarah kemana-mana. Ndak ke kiri atau ke kanan. Mengapa ?
Ya karena 'satu' untukmu, mungkin ndak sama dengan 'satu' untukku. Dengan begitu cara sampaikan harus hati2. Jangan 'nuding2'. Suka tunjuk hidung . . .
Ternyata benar perkiraan saya, ada saja dalil-nya buat bekal tunjuk hidung yang lain. Kalau perlu dalil 'palsu'. Bedhug Mesjid dan Yasinan, bitngah. Menyerupai 'tapir' = 'tapir'. Dan lain-lain. Termasuk Islam Nusantara yang disebutnya sebagai 'aliran' yang memecah belah umat.
Ujung2nya klaim, Islam yang 'satu' itu ya 'islam-ku'. Selain dan diluar kelompokku 'bukan islam' . . .
Lalu klaim punya kunci sorga, infaq ini-itu auto sorga. Dan klaim cuma ada 'satu' Imam Besar Umat islam untuk seluruh endonesah . . .
Seperti biasa kalau olah-raga pagi, kadang2 mampir ke pasar. Beli apa saja yang kurang2. Yang utama kami masih belanja di Super Market. Covid.
Di satu ruas jalan arah pulang ketemu seorang Bapak sedang duduk di jok sepeda montor-nya. Mungkin sedang nunggu istri.
Seperti biasa, kalau kumat 'iseng', saya sapa orang yang sedang ada di depan. Kenal ndak kenal. Biasanya seh, mesti balik menyapa. Ada satu dua yang ndak. Mungkin cuma bingung, 'Siapa ya ? Kenal ndak ya ?'
Lha, pada Bapak yang 'satu' ini juga begitu. 'Pak . . . !' Sapa saya sok akrab. Karena pakai masker, volume suara sedikit saya keraskan. Dan saya tambah lagi dengan angguk kepala dalam. Biar Bapak yang 'satu' ini tahu kalau saya sapa . . .
Eeeeh . . . Bukannya balas angguk, atau apa, atau jika ndak paham karena nglamun, tentu pandangannya kosong, yang 'satu' ini ndak. Malah 'mlengos' dengan bibir mencibir.
Saya agak kaget sebentar, lalu reflek misuh2. Dalam hati. 'Jancooook . . . ! Dobol . . . !'
Sampai di rumah, setelah cuci kaki, tangan, dan wajah di halaman, masuk ke rumah. Copot ini-itu . . .
Baru tersadar. Ooooo . . . Gara-gara ini mungkin si Bapak yang 'satu' tadi 'mlengos' dan mencibir.
'Masker NU' !
Memang masker ini selalu beredar ikuti saya kemanapun. Ke pasar, mall, pantai, gunung . . .
Dan saya juga baru ingat, si Bapak yang 'satu' tadi, celana-nya cingkrang, ber-jenggot, dan ada 'tatto' di dahi-nya.
Tapi apa ada hubungannya ya. Antara jenggot mlengos dengan masker NU ?
Wallahu a'lam bissawab . . .
 
Sumber : Status Facebook Harun Iskandar
Sunday, January 10, 2021 - 10:30
Kategori Rubrik: