Ngerinya Partai Setan Ala Amien Rais

Oleh : Wawan Kuswandi

Di tengah-tengah luapan emosi dan kecaman dahsyat publik terhadap Amien Rais yang mengatakan bahwa ada Partai Allah dan Partai Setan dalam sebuah acara keagamaan yang dihelat di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, belum lama ini. Saya tertawa ngakak. Politisi ‘senior’ sekelas Amies Rais ternyata bisa juga ngomong ngawur.

Amien menyebut PAN, PKS dan Gerindra sebagai Partai Allah. Sedangkan, parpol mana saja yang masuk dalam golongan Partai Setan, Amien enggan menyebutnya. Akibat dari ucapanya itu, Amien Rais dilaporkan Ketua Bidang Hukum dan Advokasi Cyber Indonesia, Aulia Fahmi, ke Polda Metro Jaya. dengan tuduhan menyebarkan ujaran kebencian.

Lagi-lagi pernyataan Amien yang bombastis itu, tidak disertai data dan fakta empiris yang akurat. Energi bangsa ini akan terbuang sia-sia, kalau terus-menerus menanggapi pernyataan Amien Rais yang emosional dan irasional.

Di sisi berbeda, sayup-sayup terdengar, sejumlah elit politik PAN mulai gerah dan kecewa dengan tindak-tanduk Amien Rais yang tidak terkontrol. Tanda-tanda perpecahan di jajaran atas PAN mulai terasa, walaupun tidak terekspos media massa.

Buktinya, PAN yang disebut-sebut mendukung Prabowo Subianto sebagai capres 2019, belum menyatakan deklarasinya secara resmi. Sebagian tokoh elite PAN lainnnya, malah cenderung mendukung Jokowi.

Kejayaan Amien Rais sebagai bapak reformasi telah berlalu. Bahkan, ada sejumlah pihak yang masih meragukan peran politik Amien Rais dalam reformasi tahun 1998 silam.

Sepertinya, Amien Rais galau karena dirinya tak mendapat perhatian penguasa mulai dari zaman Megawati, SBY hingga Jokowi. Hal yang sama juga dia rasakan karena parpol PAN yang dirintisnya, elektabilitasnya semakin merosot tajam. Amien Rais mulai mengidap Post Powers Syndrome.

Terlepas dari semua argumen diatas, saya yang saat ini masih tertawa ngakak melihat tingkah-laku Amien Rais, mencoba menganalisis apa yang membuat Amien Rais begitu mudah mengeluarkan statemen provokatif yang tidak rasional. Sedikitnya ada tiga hal yang menjadi penyebabnya yaitu:

Pertama, Amien Rais sebagai salah satu politisi senior yang punya andil bagi negeri ini, jelas sangat butuh perhatian dari seluruh stake holder bangsa. Amien tidak lagi mempunyai kendali dalam kancah politik, terutama di PAN dan mungkin juga dalam kehidupan pribadinya.

Analogi yang pas untuk menilai perilaku Amien Rais ini ialah dia seperti seorang anak kecil yang tidak dibelikan permen oleh orang tua, kemudian menangis keras dan meronta-ronta.

Ketiga, Amien Rais ingin mengukur keinginan, dukungan dan pilihan rakyat terhadap figur capres 2019, yaitu antara Jokowi atau Prabowo. Apakah rakyat cenderung berpihak kepada Prabowo atau mendukung penuh Jokowi? Dengan mengeluarkan pernyataan-pernyataan provokatif, Amien bisa melihat reaksi dukungan publik, baik terhadap Jokowi maupun Prabowo.

Bagi saya, sesungguhnya, tak ada yang perlu dirisaukan dan dikhawatirkan dengan pernyataan provokatif Amien Rais. Biarkan saja mantan Ketua MPR ini, asyik sendiri dengan ucapan-ucapannya yang tidak bermakna untuk kepentingan bangsa. Tak ada yang penting dalam ‘celoteh’  Amien Rais.

Bangsa ini, tak perlu lagi mempedulikan apapun yang disampaikan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini. Lebih baik rakyat fokus untuk membangun bangsa secara bersama-sama di atas banyaknya perbedaan SARA. Perkataan Amien Rais akan lebih tepat kalau dimasukan dalam pribahasa zaman old, “Biarlah Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu”.

Meminjam Teori politik Santo Agustinus (13 November 354-28 Agustus 430), tujuan Amien Rais mengumbar pernyataan provokatif ialah dia ingin melihat perbandingan negara sekuler dan negara Tuhan secara jelas. Negara sekuler dianggap memiliki keangkuhan dengan berbagai kejahatan.

Sedangkan, negara Tuhan menghargai segala sesuatu yang baik dan mengutamakan nilai kebenaran. Jadi, dalam hal ini, Amien ingin menegaskan bahwa partai setan merupakan bagian dari negara sekuler yang jauh dari nilai kebenaran dibandingan dengan partai Allah. Amien secara tegas menyimpulkan bahwa politik negara sekuler akan membawa ketidakstabilan, ketidakadilan dan rakus dalam kekuasaan.

Sementara itu, teori politik State Of Nature (1651) Thomas Hobbes dalam bukunya Decove 1642 dan Leviathan 1951, mengemukakan bahwa manusia yang satu menjadi lawan terhadap manusia lain. Keadaan ini disebut In Abstracto yang memiliki sifat bersaing, membela diri dan ingin dihormati. Dalam teori ini, sangat pasti bahwa hampir semua pernyataan Amien Rais yang provokatif memang ditujukan agar dia mendapatkan penghormatan publik.

Di sisi lain, Amien Rais juga mencoba menerapkan ‘teori pembusukan’ terhadap lawan politiknya melalui ujaran kebencian yang melenceng dari norma kehidupan sosial. Teori Pembusukan ini sengaja digarap Amien Rais untuk menjatuhkan saingan lawan politiknya.

Biasanya, para pelaku yang melaksanakan teori pembusukan ini tidak lagi berpikir soal moral. Teori Pembusukan ini sangat terkait erat dengan perebutan kekuasaan politik. Kesimpulanya, apakah kita masih mau merespon pernyataan provokatif Amien Rais?

Sumber : geotimes

Thursday, April 19, 2018 - 14:15
Kategori Rubrik: