Ngeles Banjir Jakarta Masih Berlanjut

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Alkisah pada suatu malam jelang Tahun Baru. Ada acara 'penyambutan' yang 'haram'. Karena hiburan-nya ada sajian 'haram' kata para 'ngustats'. Musik. Maka timbullah bencana . . .

Jreng jreng jreng !
Ting ting duling-duling, ting ting tung ting
Ting tung ting . . .
Begadang jangan begadang

Langit pun sobek sedikit. Gerimis . . .

Kalau tiada artinya . . . 
Tambah lebar sobekan langit. Hujan rintik . . .

Begadang bole saja . . .
Sobekan makin lebar. Hujan pun kian deras . . .

Kalau ada perlunya . . .
Ting ting duling-duling, ting ting tung ting
Ting tung ting . . 

Langit pun sontak terbelah. Hujan jatuh 'tak bisa dikendalikan', istilah 'Sang Penguasa'. Banjir lah Ibu kota Republik Indonesia. Jakarta . . .

Menteri PUPR, Basuki, bersama Doni, kepala BNPB, menemani 'Sang Penguasa', gubernur DKI, Anies Baswedan, memantau banjir Jakarta. Menyusur Sungai Ciliwung dari atas. Naik helikopter . . .

Ditunjukkan oleh pak Basuki, itu daerah tergenang mana pula yang tidak. 'Sungai Ciliwung yang perlu dinormalisasi harusnya 33 kilometer. Yang sudah dinormalisasi baru 16 kilometer. Itulah area yang tak tergenang . . 

Sang Gubernur masih saja ndak punya malu ber-'kacakpinggang' dengan mesam-mesem-nya yang khas, malah beri 'perintah' pada Pemerintah Pusat, harus segera selesaikan dua waduk di hulu, Bogor. Ciawi dan Sukamahi.

'Itu kuncinya. Di otak-atik bagaimanapun kali Ciliwung. Dilebarkan selebar apapun kalau waduk ndak selesai, percuma saja . . .'

Wwk wk wk wk . . .
Bener-bener rasa presiden. Presiden Republik Juancokan . . .

Dia lupa konsep naturalisasi dan drainase vertikal yang selalu diwacanakan, namun tak pernah kunjung benar2 dikerjakan . . .

Sama lupanya dengan janji rumah DP nol persen, ternyata rumah susun. Atau 'ok oce'. Atau lupa kebanyakan beli bolpen, lem aica aibon. Atau . . .

Kerja 'besar'nya berkelas 'ecek-ecek'. Bikin trotoar, atau monumen berhala mahal namun tak 'tahan lama'. Motong atap JPO. Atau bikin JPO warna warni instagramable. Atau . . .

Pokoknya banyak sekali 'atau-atau'. Banyak angan-angan. Banyak wacana. Banyak omong. Tapi sedikit kerja. Ponakan jauh 'Mak Lambe Turah'

Pak Gubernur yang terhormat, sebagai warga yang 'se-iman', cuma ingin ingatkan. Jabatan itu amanah. Amanah itu 'jauh' lebih bernilai dari pada janji.

Janji bisa jadi milik semua orang. Miskin kaya, rakyat pejabat, goblog pinter. Namun amanah itu cuma milik para 'Ksatria'.

Ksatria itu wakil Allah di dunia. Tempat rakyat bergantung nasibnya. Pundaknya tempat sandaran rakyat saat duka. Lengannya kuat jadi gantungan rakyat saat menderita.

Ksatria tak boleh lemah harus kuat senantiasa. Ksatria tak boleh bodoh dan bebal, harus pintar, cerdas, dan bijaksana . . .

Kalau cuma berlagak dan bertingkah seperti dalam lakon wayang 'Petruk Jadi Ratu', lebih baik kerek 'bendera putih'. Tanda menyerah. Sebelum sumber dan empunya amanah marah.

Rakyat ? Bukan. Kami sudah tak berdaya. Tak tahu lagi caranya. Tapi ada yang hendak marah, yang Jauh, yang Maha Besar Kuasa dan Amarahnya, Allah . . . !

Salam Jancuk-an, Salam Dobol-an, dari warga mu yang ahnya kamu rendam. Akibat kesombongaan dan kebidohanmu . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Friday, January 3, 2020 - 11:30
Kategori Rubrik: