NgArab Gagal

Ilustrasi

Oleh : Zaenal Maarif

Sok kemarab itu juga bisa disamakan dengan sok keminggris, artinya dua duanya telah menggeser kebanggaan sebagai orang Indonesia yang punya bahasa sendiri, yaitu bahasa Indonesia.

Tetapi karena bahasa Inggris itu telah menginternasional, yakni telah digunakan sebagai bahasa persatuan dunia dalam berbagai pertemuan internasional, maka sok keminggris masih bisa dima'fu sebagai bahasa gaya gayaan, lain dengan bahasa Arab yang belum mempunyai kekuatan sebagai bahasa persatuan Ummat Manusia.

Lain daripada itu, bahasa arab dengan segala keunikannya selayaknya sebagai Ummat Islam untuk membanggakannya, namun hendaknya juga tidak serampangan dalam penggunaannya, karena ia memiliki tata susun tersendiri, apalagi jika hanya dibuat pemicu syahwat kekuasaan.

Jika tata susun bahasa arab diabaikan, bisa jadi sebuah pesan yang akan disampaikannya menjadi bias dan malah memalukan, seperti contoh kalimat yang ditempel dalam kaos seperti foto di bawah ini.

Yaitu kalimat بدل الرئيس, yang harus diperhatikan adalah apakah kalimat badala itu lazim (kalimat tidak aktif) ataulah kalimat yang Muta'addi (kalimat aktif), lalu apakah ia dimabnikan maf'ul apa mabni Majhul.

Ini sangat penting agar kita tepat dalam memilih sebuah kalimat agar konteks yang kita kehendaki tercapai.

Begini saja, tolong mereka ditanya, apakah kalimat tersebut dibaca:

1. Badala Al Roisu
2. Badala Al Roisa
3. Badlu al Roisi
4. Budila Al Roisu? 
5. Baddil al Roisa

Kelima bacaan diatas tentu akan memiliki maksud berbeda pula.

Jika dibaca seperti yang pertama maka artinya Pemimpin mengganti.
Ini akan menimbulkan pertanyaan pertanyaan baru tentunya.

Jika dibaca dengan bacaan kedua, maka artinya seseorang mengganti pemimpin, ini akan menjadi sebuah kalimat yang ambigu, karena tentu akan ada pertanyaan diganti dengan siapa?

Jika dibaca dengan bacaan yang ketiga, artinya adalah pengganti pemimpin, lalu siapa pengganti yang dimaksud? Sipemakai kaos?

Jika dibaca dengan seperti yang ke empat, maka artinya adalah pemimpin diganti, ini malah sebuah kalimat yang sangat ambigu sekali, diganti oleh siapa, dan siapa yang mengganti, belum lagi syarat syarat yang harus dipenuhi oleh sebuah kalimat seperti ini.

Nah yang kelima inilah yang lebih masuk akal, karena sesuai dengan pola kampanye yang ingin mengganti presiden, namun demikian, jika dibuat fiil amar sekalipun yang kemudian bermakna gantilah pemimpin, akan lebih afdlol jika menggunakan kalimat berbentuk jama', karen dengan demikian berarti mengandung himbauan kepada umum, maka kalimatnya harus diganti dengan بدلوا الرئيس (Baddiluu al Roisa) kalian gantilah pemimpin.

Pertanyaan pentingnya adalah membuat kalimat politis dengan memakai kalimat arab agar terkesan islami? Tahukah kalian bahwa di Indinesia ini masih banyak santri yang malah kemekelen melihat tingkah kalian?

Kali ini dengan tanpa menyangkut pautkan Madu Suwuk dan Jamu Suwuk biar terkesan tidak melulu ngiklan dan agar tidak diapaido terus terusan oleh Sang Ketum Gus Yaqut Cholil Qoumas.

Salam Mbleneg ToniBoster

Sumber : Status Facebook Zaenal Maarif

Tuesday, May 1, 2018 - 21:15
Kategori Rubrik: