Ngapain Ganti Raisa dengan Lucinta Luna?

Oleh: Eko Kuntadhi

 

Bahwa kita kecewa dengan keluarnya SP3 untuk Rizieq, memang iya. Kita semua meraba-raba apa latar belakangnya. Apakah murni pertimbangan hukum atau bukan, biarkan saja tukang besi tua yang menimbangnya.

Kamu jangan ikut menimbang juga, apalagi sehabis lebaran begini. Bisa stroke nanti. Itu stok celana dalam sudah gak muat lagi.

 

Terus ketika sebagian kita mengungkapkan kekecewaan, itu biasa. Rasa kecewa, sejatinya sama seperti perasaan cinta, terkadang membutuhkan saluran untuk diungkapkan. Kalau gak ada penyaluran, dikhawatirkan akan membuat sembelit akut. Jadi ekspresikan saja rasa kecewamu. Anggap itu bagian dari cara kita menyadari bahwa kita adalah Rocker biasa, punya hati, punya jiwa. Jangan samakan dengan pisau belati.

Yang tidak boleh itu, ketika kita menimbang badan sehabis lebaran, lalu jarum timbangan menunjukan angka 45 kilo, tetapi jarum itu sudah berputar dua kali. Melihat jarum yang berputar gak karuan, Anda memutuskan bunuh diri.

Kecewa saja dengan diet yang gagal, itu gak apa-apa. Kecewa saja dengan jeans yang gak muat lagi. Itu biasa. Gak usahlah sampai bunuh diri.

Nah, ketika kita kecewa karena kasus Rizieq mendapat SP3, lalu teriak-teriak ngajak Golput, itu sama kayak kasus di atas. Kekecewaan yang berlebihan membuat Anda memutuskan bunuh diri.

Kenapa begitu?

Kita tahu, politik bangsa ini belakangan memang jorok. Orang-orang memaki dan memfitnah. Agama dijadikan bahan dagangan. Perpecahan di depan mata. Jika tidak pandai-pandai menangani, bisa jadi alasan konflik horisontal yang berlarut.

Ada adagium tentang kekuatan negara dan masyarakat. Jika negara kuat, masyarakatnya kuat, yang terwujud adalah demokrasi yang sehat. Bangsa bergeraknke arah kemajuan.

Jika negara kuat, masyarakat lemah ini akan mewujudkan totalianisme. Rezim yang mengangkangi kepentingan publik.

Jika negara lemah, masyarakat kuat, yang akan muncul adalah anarkisme. Masyarakat melakukan pembangkangan masal. Negeri cahos.

Jika negara lemah, masyarakat lemah, ini akan mengundang intervensi asing. Ingat, dunia ini selalu berlaga bermacam kepentingan untuk merampok siapa saja yang lemah. Jadi kalau posisi kita seperti itu, ada penguasa di luar sana yang bersorak. Yang siap memangsa sumber daya kita.

Pilihan kita hanya satu, kuatkan negara sambil menguatkan keberadaan civil society. Menguatkan masyarakat dengan cara menumbuhkan terus rasionalitasnya dan memastikan saluran aspirasinya tidak terhambat. Menguatkan negara dengan cara proses dukungan pada kekuasaan selama dijalankan dengan sehat.

Kekecewaan-kekecewaan kecil pada praktek hukum dan bernegara, tidak lantas membuat kita mengambil sikap ekstrim via a vis dengan pemerintah.

Toh, disamping kekecewaan itu, lebih banyak keberhasilan yang ditunjukan pemerintahan Jokowi.

Kalau kita telaah, Jokowi menghela perjalanan bangsa ini seperti sedang meniti di ombak yang menggulung. Dia menghadapi mafia serakah di dalam negeri yang sudah lama menghisap kekayaan bangsa.

Mafia minyak diobrak-abrik, mafia ikan yang mencuri harta laut kita diperangi, mafia pangan yang selalu memainkan harga sembako dihadapi.

Di dunia politik Jokowi berhadapan dengan oposisi nirlogika yang mulutnya terlalu ceriwis. Belum lagi masyarakat yang kerasukan agama yang sering berkelindan dengan kepentingan politisi. Semua mengincar Jokowi.

Di luar negeri, kebijakan Jokowi berhadapan dengan para raksasa. Dia memilih berhadapan lebih frontal dengan Israel dan AS dengan suara lantang membela Palestina. Kepentingan AS di Freeport juga ingin dipangkas. Jokowi ngotot Indonesia punya saham 51% di Freeport.

Apa AS dan Israel nyaman dengan langkah politik LN Jokowi? Kayaknya gak tuh.

Biasanya kalau mereka merasa kepentingannya terganggu di sebuah negeri, akan dikompori masyarakatnya untuk memberontak kepada perintah yang syah. Salah satu caranya dengan memberi amunisi kelompok radikal.

Spesies dengkul yang tahunya cuma haram-halal, kopar-kapir, toghut, bidah, sesat mensesatkan biasanya terbius dengan kelicikan ini. Jadilah mereka bahan bakar yang merebus negara ini dalam api permusuhan.

Agama dijadikan alat politik. Masjid dijadikan mimbar kampanye. Simbol-simbol sakral dijadikan tameng menyebarkan permusuhan.

Itu terjadi di Irak, Syuriah, atau Libya. Pertarungan kepentingan asing berperang proxy disana. Bagaimana nasib rakyat? Hancur sehancur-hancurnya. Sumberdaya negara habis dikeruk, di bawa keluar negeri.

Jadi bagaimana kita mensikapi kasus SP3 Rizieq? Kalau saya kecewa ya, saya ungkapkan kekecewaan itu. Tapi kekecewaan itu tidak lantas membuat saya mutung. Apalagi teriak-teriak golput. Atau mencela-cela Jokowi hanya karena ada situasi yang tidak kita sepakati.

Itu sama kita melampiaskan kekecewaan untuk mendorong lahirnya kekecewaan yang lebih besar.

"Iya, mas. Kayak Hamish Daud, apakah dia tidak punya perasaan kecewa sama sekali dengan Raisa? Sebagai manusia, pasti ada walaupun sedikit. Namanya juga orang berumahtangga. Toh, dia gak mau menggantinya dengan Lucinta Luna?," ujar Abu Kumkum membenarkan.

Saya mendengar Bambang Kusnadi bernyanyi. Rocker juga manusia...

(www.ekokuntadhi.com)

Tuesday, June 19, 2018 - 11:15
Kategori Rubrik: